Ndondomi

Bandung Mawardi

Para pembaca novel berbahasa Jawa ingat judul Dom Sumurup ing Banyu. Cerita gubahan Suparto Brata pada masa 1970-an. Dom. Orang-orang Jawa sudah lama mengenal dom untuk ndondomi. Dom itu jarum jahit. Suparto Brata menjadikan dom sebagai metafor, mengingatkan benda kecil tapi penting. 

Di desa-desa, ibu-ibu biasa mengoleksi dom dalam cepuk atau wadah khusus. Dom, benda wajib termiliki untuk kehormatan ibu mengurusi pakaian keluarga. Dom dibeli di pasar atau toko. Orang-orang menempuh perjalanan jauh naik bus kadang mendapat tawaran dom dari para pedagang. Dom dijajakan saat bus berhenti di terminal. Pedagang bakal cerewet mengabarkan keampuhan dom sering Made in China. Dom dijual murah. Pembeli mungkin terbujuk. Sesalan terjadi saat di rumah. Dom gampang patah dan karatan.

Dom memang penting. Dulu, keluarga-keluarga berkecukupan atau melek-bacaan biasa membeli almanak untuk dipelajari di awal tahun. Para pembaca Almanak Djawi 1954 terbitan Sri Erlangga menemukan halaman-halaman mengenai ndondomi. Dulu, pelajaran ndondomi mungkin diperlukan bagi ibu-ibu atau para gadis-remaja. Simak saja keterangan berbahasa Jawa: Sandangan yen wis suwe lumrahe mbandjur pada suwek. Apa maneh jen ora entuk rumatan kang apik. Ing padesan isih akeh banget sedulur kang ora gelem ndondomi klambine kang pada suwek. Sanadjan suwek ja dienggo wae. Kang mengkono iku kurang prajoga. Apa maneh wanitane. Pakaian wajib dipelihara. Sandangan sudah lawas asal masih bisa dikenakan membuat orang tetap terhormat asal mau ndondomi bila ada bagian-bagian suwek

Koleksi gambar: Bandung Mawardi

Almanak, buku berisi tentang penanggalan dan pengetahuan umum. Pada masa lalu, keluarga-keluarga memiliki dan mengoleksi almanak, belajar perkara sederhana sampai rumit. Di halaman 290, masalah ndondomi itu disajikan untuk ajakan para ibu agar sregep ndondomi. Petunjuk penting: Benang lan dom kuwi ora sembarangan. Jen arep dondom kudu dideleng disik barang kang arep didondomi. Jen barange tipis, benang lan dome ja kudu sing rada alus. Djalaran jen kegeden dondomane ora bisa katon radjin. Kedjaba kuwi ja kudu ndeleng marang warnane kang arep didondomi. Sebisa-bisa benange kudu sing pada, orane sing ana empere. Ukuran dom dan warna benang dipertimbangan agar ndondomi menghasilkan rapi dan indah.

Kita menjadikan adegan ndondomi membuktikan kasih ibu sepanjang masa. Kemampuan ndondomi mula-mula ibu tapi wajib diajarkan dalam keluarga. Anak-anak diajari bermaksud mau bertanggung jawab atas pakaian.

Sejak dulu sampai sekarang, ibu menjadi sosok terpenting dalam ndondomi. Pada saat longgar, ibu biasa duduk sambil ndondomi pakaian-pakaian suwek milik suami dan anak-anak. Ndodomi sambil mendengarkan radio atau bercakap. Adegan ndondomi itu nostalgia. Kita menjadikan adegan ndondomi membuktikan kasih ibu sepanjang masa. Kemampuan ndondomi mula-mula ibu tapi wajib diajarkan dalam keluarga. Anak-anak diajari bermaksud mau bertanggung jawab atas pakaian.

Koleksi gambar: Bandung Mawardi

Pada 1957, terbit buku berjudul Si Remadja Ditengah Keluarga susunan Nyonya Poorwo Soedarmo. Bacaan untuk kaum berumur 12-18 tahun. Buku mengajari dan menasihati kaum remaja dalam segala perkara dalam keluarga. Beragam pengetahuan disampaikan dengan petunjuk dan contoh. Ilustrasi dimuat memberi imajinasi peristiwa, tubuh, dan suasana. Pengajaran pakaian: “Pakaian jang robek atau rusak hendaklah pisahkan untuk didjahit atau diperbaiki. Sediakanlah waktu mendjahit atau memperbaikinja. Kau akan merasa senang bila pakaian jang telah kau perbaiki itu tiba-tiba harus kau pakai.” Di situ, ada adegan si remaja ndondomi

Orang ndondomi harus cermat dan sabar. Peristiwa ndondomi dinikmati dengan pengharapan memberi makna atas pakaian dan membentuk diri berselera kerapian. Ndondomi memicu bahagia setelah dom dan benang bergerak berulang dalam keselarasan. Pada 2021, dom masih ada. Kita tetap mengerti itu pasti Made in China. Pasti bisa terbantah asal ada berita dan pengakuan. Kita pun tak pasti bakal melihat adegan para remaja atau ibu masih tekun ndondomi. Peristiwa itu klasik. Begitu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s