Memasak dan Jalanan

Irfan Sholeh Fauzi

DI Bogor, para penggemar Iwan Fals mungkin terkecoh. Mereka bisa-bisa mengira keluarga Dewi Sartika banting setir menjadi pedagang kaki lima. Muasalnya, pada Jumat, 4 Desember  2020, Sundaland Etnomusic Festival memprakasai hari lahir Dewi Sartika dengan meletakkan bunga-bunga di trotoar. Mereka bermaksud mengenang jasa perjuangan Dewi Sartika di bidang pendidikan dan peranan perempuan Indonesia (Kompas, 5 Desember 2020). Pada 1989, Swami, grup musik dengan vokalis Iwan Fals, merilis lagu berjudul “Bunga Trotoar”. Senandung Iwan: Bungaku, bunga trotoar/ Menggelar aneka barang/Menggelar mimpi yang panjang/ Kaki lima menggelar resah/ Di emperan toko besar. Iwan Fals mengiaskan para pedagang kaki lima sebagai bunga (di) trotar.

Di lagu, bunga trotoar tak mengimajinasikan kesegaran alih-alih kesengsaraan. Seperti kebanyakan lagu-lagu Iwan pada masa itu, lirik “Bunga Trotoar” melirik hidup dari kaum-kaum tersisih. Mereka lusuh dan acapkali cemas, sebab selalu siaga akan: langkah-langkah yang garang datang/ Hancurkan wanginya kembang. Bunga trotoar milik Iwan dianggap hama yang mesti segera dibasmi. 

Tapi, bunga milik Dewi Sartika tentu berada di sisi lain jalan. Bunga-bunga trotoar kepunyaan Dewi Sartika mestilah tumbuh mekar dan tersebar di tiap jalan sebagai tanda akan ingatan legasi-legasinya. Perjuangan Dewi Sartika memang layak disimbolkan oleh jalan. Ia membuka akses pengetahuan bagi para wanita. Dulu, perempuan-perempuan tak memiliki “jalan”. Di sekeliling mereka hanyalah tembok yang mengungkung.

Perjuangan Dewi Sartika memang layak disimbolkan oleh jalan. Ia membuka akses pengetahuan bagi para wanita. Dulu, perempuan-perempuan tak memiliki “jalan”. Di sekeliling mereka hanyalah tembok yang mengungkung.

Namun, di depan kehidupan Dewi Sartika, jalan tak melulu soal bunga jasa pada bangsa. Dewi Sartika juga punya pengalaman personal pada jalan. Di masa tua, Dewi Sartika mungkin mengingat jalan dengan pipi merona. Sebab di jalanlah, untuk pertama kalinya perasaan Dewi Sartika berbunga-bunga. 

Jika di rumah bupati dihelat acara, bupati kerap meminta bantuan para pengajar Sakola Istri untuk mengurusi keperluan konsumsi. Termasuk di antaranya adalah Uwi alias Dewi Sartika. Dan, pada sebuah acara pengajian di rumah bupati, Uwi melihat Raden Agah, dan di dalam dadanya, ada gemuruh.  Setelah pertemuan itu, hubungan mereka lebih serius. Raden Agah—seorang guru dari kalangan biasa—sering menjemput Uwi ke Sakola Istri lalu mengajaknya pulang bersama. Di sepanjang jalan pulang, pasangan yang mulanya ditentang karena beda kasta ini menebar “bunga-bunga” di trotoar (Daryono, 1996).

Jalan juga jadi sarana Dewi Sartika mempromosikan betapa pendidikan untuk perempuan itu penting. Pada masa kolonial, sekolah bukan milik perempuan. Pelajaran-pelajaran di dalam kelas dianggap tak diperlukan dan diperuntukkan bagi mereka. Ilmu bumi, ilmu hitung, bahasa Belanda, bahasa Perancis, dan lain-lain adalah “ilmu-ilmu pergi”. Itu pelajaran untuk lelaki. Sebab, laki-laki lah kelak yang melahirkan negara, ideologi, pendidikan, koperasi, dan lain-lain. Perempuan melahirkan bayi dan untuk itu, mereka tak perlu keluar rumah. Perempuan hanya perlu “bersekolah” di dalam rumah. Ibu menjadi guru. Menurunkan segala pelajaran kepada putrinya agar cakap menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik. Tetapi “pelajaran” itu tak pernah berkembang atas nama adat dan berjalan ala kadarnya. 

Sebab, laki-laki lah kelak yang melahirkan negara, ideologi, pendidikan, koperasi, dan lain-lain. Perempuan melahirkan bayi dan untuk itu, mereka tak perlu keluar rumah. Perempuan hanya perlu “bersekolah” di dalam rumah.

Di Sakola Istri, para anak dan remaja perempuan dari berbagai kalangan belajar membaca, menulis, berhitung, bahasa Belanda, menyanyi, menjahit, memasak, dan lain-lain. Pelajaran memasak jadi andalan Uwi buat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pendidikan perempuan. Tiap kali pelajaran memasak dilaksanakan, murid-murid diharuskan membawa rantang kosong dari rumah, kain panjang, dan celemek. Selesai memasak, makanan tak boleh dihabiskan. Masakan dibawa pulang dengan rantang-rantang. Di sepanjang jalan, dapat kita bayangkan, remaja-remaja putri, berkebaya, menenteng makanan yang menguarkan harum lezat (R Tience, 1996). Kata Dewi Sartika dalam pidato perayaan tujuh tahun Sakola Istri, dengan “memamerkan pekerjaan murid-murid, seperti … masak-memasak para gadis, ia dengan gembira dapat menunjukkan bahwa terdapat tanda-tanda perubahan yang tampak dalam hati para kaum tua.” Kesadaran kolot masyarakat tergugah sebab bau sedap dari rantang makanan di jalan.

Sakola Istri memang mendidik perempuan menjadi istri dan ibu yang cakap, tapi soalnya tak hanya itu. Sakola Istri ingin para perempuan jadi mandiri. Agaknya kesadaran Uwi akan pentingnya pendidikan perempuan muncul ketika ia melihat ibunya tak dapat berbuat apa-apa ketika suaminya dibuang ke Ternate. Keluarga tercerai berai dan caranya bertahan hidup adalah mencari belas kasih dari sanak saudara (Wiriaatmadja, 1986). 

Kisah perempuan, jalan, dan masakan muncul pula dalam cerita Siapa Punya Kuali Panjang? (1984) garapan Suyadi dan Nana Ruslana. Buku cerita tersebar ke sekolah-sekolah dengan cap Inpres. Suyadi, tokoh Pak Raden yang juga menjabat jadi direktur artisitik di serial Si Unyil, menulis cerita Siapa Punya Kuali Panjang? dengan formula mirip serial Si Unyil. Nama tokoh, sapaan, pekerjaan, makanan, dan berbagai indeks dalam cerita tak spesifik merujuk suatu daerah. Suyadi menggunakan hal-hal generik. Dalam wawancara bersama Philip Kitley (2000) ia mengaku nama “Unyil” dalam serial Si Unyil “dipakai agar kedengaran seperti nama Indonesia tetapi tidak mungkin dikaitkan dengan kelompok etnis atau daerah tertentu.” Formula yang dipakai Suyadi berhadapan dengan paradoks. Cerita-ceritanya adalah kita sekaligus bukan kita.

Dalam wawancara bersama Philip Kitley (2000) ia mengaku nama “Unyil” dalam serial Si Unyil “dipakai agar kedengaran seperti nama Indonesia tetapi tidak mungkin dikaitkan dengan kelompok etnis atau daerah tertentu.” Formula yang dipakai Suyadi berhadapan dengan paradoks. Cerita-ceritanya adalah kita sekaligus bukan kita.

Seperti pula dalam serial Si Unyil, latar dominan pada Siapa Punya Kuali Panjang? adalah jalan di desa. Di sanalah orang-orang bertemu. Membentuk “desa-sebagai-keluarga, yang pada gilirannya diartikan sebagai … keluarga besar bangsa,” (Kitley, 2000). 

Kalau kebanyakan perempuan di desa rajin memasak dan bergaul, Odah lebih memilih mengurung diri di kamar dan bersolek. Karena tabiat itu, ia dianggap malas dan sombong. Masalah datang ketika Dadang menikahinya. Odah tak bisa memasak. Segala yang datang dari tungku Odah rasanya tak karuan. Demi menjaga perasaan istrinya, Dadang terpaksa memakannya, “tapi tak tertelan olehnya. Akhirnya Dadang terpaksa menanak nasi sendiri.” Rupanya Dadang bisa memasak! Tapi di cerita, Dadang tak mengajari istrinya memasak.

Dadang malah “menantang” Odah memasak seekor ikan yang besar. Odah kelimpungan, ia mengitari desa untuk mencari kuali panjang. Biar pas dengan ikan, pikirnya. Odah bertanya kepada perempuan-perempuan lain dan di sinilah ditampakkan karnaval perundungan pada Odah. Ia dibikin pontang-panting. Seluruh perempuan desa mengerjainya dan para lelaki tak tahu menahu apa yang sedang terjadi. Sedari dulu, Odah memang sering digunjingkan sebab ia liyan—hal yang tak boleh dijalani perempuan tradisional. 

Di kampung-kampung, perempuan lebih sering bercengkerama ketimbang laki-laki. Para wanita jadi yang terdepan dalam membantu tetangga-tetangganya ketika diadakan sebuah acara. Berbeda dengan lelaki yang cenderung soliter, perempuan lebih solider (Hildred Greetz, 1985). Dan, Odah tak melebur dalam kebauran itu. 

Di jalan kini, perempuan dianggap jadi biang onar. Ibu-ibu ugal-ugalan (lampu sein kiri tapi belok kanan) dan remaja putri diperlihatkan sering kebut-kebutan dan berbonceng tiga. Stereotip, kita tahu, sering lucu, maka dari itu kita permisif untuk percaya, hingga tak sempat sadar, ia tak menunjukkan realitas. Ia kadung nempel dan kita jadi was-was tiap berkendara di belakang ibu-ibu atau remaja putri. Padahal, ketidakaturan di jalan milik “bersama”. Peringatan 136 tahun Dewi Sartika mencenungkan kita pada kisah-kisah heroik dan (sering) tragis perempuan-perempuan di jalanan. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s