Mbok Jinah di Dapur

Bandung Mawardi

DI Ndalem Suryomentaraman, Jogjakarta, Pariyem mengabdi sebagai babu. Sekian tahun, ia “menguasai” dapur. Di ruang dengan segala benda, Pariyem menunaikan peristiwa harian: memasak. Ia pun menikmati dapur untuk melamun atau mendengar siaran radio. Ia mendengar Jawa. Hari demi hari di dapur, perempuan asal Gunung Kidul itu kadang menuruti kehendak sinau. Simak: Bila saya rampung kerja di dapur/ Lantas saya tak menggeletak tidur/ Saya pun lantas pasang kuping/ diam-diam – di balik pintu/ Sedang piwulang  yang diwejangkan/ kepada para siswa Ndoro Kanjeng/ yang elok dan bikin kesengsem/ Saya dengarkan dan saya rasakan/ pun saya resapkan ke dalam kalbu/ sebagai pesugihan batin. Kita membaca penggalan dalam Pengakuan Pariyem gubahan Linus Suryadi Ag. 

Dapur tak selalu urusan memasak. Linus mengusahkan babu. Di situ, ia masih mungkin mendapatkan hiburan dan sinau. Renungan-renungan hidup dan kesadaran nasib terjadi di dapur. Kita membaca berlanjut mengingat ibu-ibu di dapur, dari masa ke masa. Pada suatu masa, Mbok Jinah menjadikan dapur adalah ruang pergumulan hidup. Peran sebagai ibu dipertanggungjawabkan di dapur (pawon). Tempat itu berlantai tanah, lusuh, dan berbau khas. Hari demi hari, ia memasak dan bercerita di dapur untuk anak-anak dan tetangga-tetangga sering mampir ke pawon dari pintu belakang.

Peran sebagai ibu dipertanggungjawabkan di dapur (pawon). Tempat itu berlantai tanah, lusuh, dan berbau khas. Hari demi hari, ia memasak dan bercerita di dapur untuk anak-anak dan tetangga-tetangga sering mampir ke pawon dari pintu belakang.

Pawon, tempat paling teringat bagi anak-anak berurusan makanan. Mbok Jinah tak mendapat pelajaran memasak melalui PKK atau buku-buku. Kemampuan memasak belum menggunakan patokan lezat atau sehat. Memasak itu kewajaran, memenuhi kebutuhan makan bagi keluarga. Sekian masakan jarang merangsang selera bagi orang-orang mengerti kuliner. Urusan terpenting adalah membahasakan. Mbok Jinah memasak loncom. Khasiat terucap agar anak-anak lekas makan tanpa protes dan mengeluh: “Lekas makan mumpung jangane loncom panase seperti bakso!” Loncom dan bakso berbeda tapi memiliki kejelasan: panas. Anak-anak ingat “panas”, bukan rasa bakso dengan mi dan kuah lezat. 

Pada adegan berbeda, anak lanang mbengok-mbengok mendapat tuntut dari kebun tetangga: pemberian. Mbok Jinah sumringah bakal masih ada masakan. Anak-anak mengenang jangan tuntut, masakan “terampuh”. Ongkos ngirit dan terolah gampang. Mbok Jinah itu jangan tuntut. Para tetangga pun ingat jangan tuntut buatan Mbok Jinah. Dapur tak pernah dimengerti Mbok Jinah untuk memanjakan anak-anak atau pembuktian “ilmu” masakan seperti diajarkan di perkumpulan wanita, buku-buku, rubrik di majalah, atau acara di televisi. Puluhan tahun berlalu, ruangan dulu dinamakan pawon telah berganti rumah, dihuni anak-anak, tak lagi berlantai tanah. Nostalgia jangan tuntut beruntung bisa diteruskan oleh Cathis dan Waseso. Si menantu, Waseso, kelahiran Gunung Kidul. Keluarga besar bakal mesem bila mendapat pengumuman: memasak jangan tuntut. Tetangga depan rumah menjadi pemesan tak boleh dilupakan. Makan jangan tuntut dengan tempe dan karak itu piwulang: “hiduplah sederhana dalam kebersamaan”. Mereka ingat Mbok Jinah. Memasak, makan, dan percakapan seperti mendoakan dan sinau lagi segala piwulang Mbok Jinah.

Makan jangan tuntut dengan tempe dan karak itu piwulang: “hiduplah sederhana dalam kebersamaan”. Mereka ingat Mbok Jinah. Memasak, makan, dan percakapan seperti mendoakan dan sinau lagi segala piwulang Mbok Jinah.

Mbok Jinah berbeda dengan sosok perempuan tampak dalam iklan Balai Pustaka di majalah Kadjawen, 6 Mei 1941. Perempuan di dapur terlihat bersih dan rapi. Sekian benda ada di dapur mendukung kemahiran memasak. Gambar menambahi kesan dalam mengiklankan Boekoe Olah-Olah tiga jilid susunan RA Soewarsi. Buku berisi olah-olahan Jawa, Belanda, dan Tionghoa. Dulu, para ibu membaca buku untuk diterapkan di dapur. Konon, cara sinau memasak itu dimiliki ibu-ibu di kalangan mapan atau berkecukupan.     

Pada masa berbeda, pelajaran memasak dan dapur disampaikan oleh Ch Sj Dt Toemoenggoeng. Dulu, ia pembuat catatan Kongres Perempuan I (1928) di Jogjakarta. Kehadiran dan pencatatan gara-gara perintah pejabat pemerintah kolonial. Kongres tak menjadikan memasak di dapur adalah tema besar. Pada 1952, Toemenggoeng menulis Kamus untuk Wanita terbitan Balai Pustaka. Ia menasihati ibu agar menjaga kerapian di dapur. Nasihat cenderung untuk ibu dalam kelas mapan. Kita simak: “Djangan terus berdiri waktu memasak. Tjobalah duduk djika pekerdjaan itu dapat diselenggarakan sedang duduk. Misalnja waktu membersihkan sajuran, mengupas bawang atau sedang membersihkan barang-barang kuningan dan menggosok sendok. Hadapilah medja jang sedang tingginja, lalu letakkan dimedja itu segala jang perlu dipakai.” Kita berimajinasi bahwa dapur terlihat bersih dan rapi.

Mbok Jinah tak pernah membaca buku. Pawon pun jarang bersih. Rapi itu “mustahil”. Di dapur, peristiwa-peristiwa berlangsung dengan cepat: pemenuhan makan keluarga dan mencari rezeki dari berdagang gorengan. Situasi dapur adalah situasi hidup, belum memusingkan pilihan busana atau tata cara memasak selera modern. Kini, pawon pernah menjadi ruang biografi Mbok Jinah tak lagi tampak. Hari demi hari, ingatan atas segala peristiwa dan omongan perlahan berkurang, setelah dapur menjadi tema ampuh dalam iklan-iklan komersial di majalah dan televisi. Begitu. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s