Pergi yang Sampai dan Lainnya

Susantini

LEWAT lagu berjudul “Berjalan di Hutan Cemara”, Ebiet G. Ade meninggalkan banyak pertanyaan dan kerinduan dalam pengembaraannya di hutan:  Aku kan bertanya siapa diriku/ Aku kan bertanya siapakah kamu/ Aku kan bertanya siapa mereka/ Aku kan bertanya siapakah kita. Kata siapa bukanlah keingintahuan secara fisik. Ebiet mungkin menanyakan arti dirinya dan kita semua di hadapan sang alam. Entah, Ebiet pernah atau belum bepergian dan menjelajahi langsung di bentangan alam, lewat lagu-lagunya ia terasa akrab dengan hutan, gunung, dan manusia. 

Pergi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019) berarti “berjalan (bergerak) maju, meninggalkan (suatu tempat), “berangkat”. Menurut orang Islam, pergi berarti hijrah. Sedangkan menurut orang Yahudi, pergi berarti suci. Orang-orang dahulu kerap bepergian tanpa memiliki tujuan tempat yang pasti. Sebelum tanah dan benua mempunyai nama seperti sekarang, para raja dan ksatria meninggalkan istana dan kerajaan. Mereka berbekal penasaran dan kekuasaan. Saat itu belum ada peta apalagi Google Maps, hanya menyebut arah dan mengandalkan rasi bintang di tengah malam atau cara kuno lainnya.

Dalam buku Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda (2015) garapan Ernst H. Gombrich, ketika bangsa-bangsa lain menaklukkan daerah lain dengan berperang, bangsa Fenisia lebih memilih bepergian dengan kapal layar menyeberangi lautan sampai ke pantai-pantai asing. Di sana, mereka mendirikan pos-pos dagang. Orang Fenisia punya cara sendiri menginvasi daerah lain. Bahkan, para perantau dan saudagar itu menciptakan cara baru menulis dengan 26 tanda (cikal bakal tulisan/huruf sekarang) untuk saling berkabar dengan saudara dan teman-teman di kampung halaman Tirus dan Sidon. 

Di sana, mereka mendirikan pos-pos dagang. Orang Fenisia punya cara sendiri menginvasi daerah lain. Bahkan, para perantau dan saudagar itu menciptakan cara baru menulis dengan 26 tanda (cikal bakal tulisan/huruf sekarang) untuk saling berkabar dengan saudara dan teman-teman di kampung halaman Tirus dan Sidon.

Di Cina, seorang pegawai negeri bernama Lau Tzu tidak menyukai keramaian dan kesibukan dalam hidupnya. Lalu, ia meletakkan jabatannya dan berjalan kaki sampai ke pegunungan dekat perbatasan Cina. Ia bertapa. Lahirlah hukum dan pemikiran Tao, yang berarti jalan. Kepergian orang menjadi misteri kehidupan. Ia bisa menjadi penemuan, pemikiran, kehidupan bahkan kematian.

Keindahan perjalanan seseorang terkadang bukanlah pada tujuan akhirnya. Hal-hal tak terduga di tengah jalan lebih memesona dan menimbulkan kepuasan perjalanan itu sendiri. Pada seri “Pustaka Life Abad Besar Manusia” yang berjudul Abad Penjelajahan (1986), diterangkan bahwa kala zaman Renaissance para pelopor ekspedisi dan penjelajah bersedia bepergian jauh dan lama lebih menginginkan kehormatan dan kemasyuran dibanding kekayaan. Meski motif kaya juga menjadi salah satu faktor untuk berlayar, kebanyakan mereka tak mati sebagai orang kaya. Namun namanya masih kita kenang hingga sekarang: Kristoforus Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan.

Meski motif kaya juga menjadi salah satu faktor untuk berlayar, kebanyakan mereka tak mati sebagai orang kaya. Namun namanya masih kita kenang hingga sekarang: Kristoforus Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan.

Columbus, seorang warga miskin di Italia gemar bertualang. Setelah membaca kitab lama tentang ilmu bumi, ia berkeinginan untuk berlayar mengitari bumi, menemukan Cina yang kaya dan India yang bagaikan dongeng. “Beri aku kapal, beri aku satu kapal saja, dan akan kubawakan kalian emas dari India, dari negeri keajaiban!” begitu pinta Columbus. Berbekal doa Ratu Spanyol dan kapal bobrok, ia menjadi musafir. Tak sampai di tujuan awal India, ia malah menemukan penduduk Indian, penduduk asli Amerika yang dikira wilayah India. Kekeliruannya telah menemukan Amerika secara tak sengaja. Ampiran Columbus di tengah perjalanan menjadi sejarah agung. Hingga sekarang kita dipaksa menghafalnya di buku pelajaran ilmu sosial.

Berbeda dengan Columbus, dalam novel Gandhi Cintaku (2005) garapan Sudhir Kakar, Madeline (perempuan asal Inggris) memutuskan pergi berlayar ke India. Bukan emas yang ia cari tetapi harapan. Madeline mengalami pergolakan batin di negerinya. Biasanya ia pulihkan dengan mendengar Beethoven dan pergi berjalan-jalan di hutan. Setelah tahu keberadaan dan laku prihatin seorang bernama Gandhi di India, ia sudah jatuh hati ingin mengabdikan diri. India yang saat itu masih dikuasai oleh kerajaan Inggris sungguh jauh dari kisah Columbus, negeri penuh keajaiban, emas dan seperti dongeng. India diselimuti kemiskinan, adanya kasta-kasta, dan penguasaan Inggris. Madeline tetap bersukaria saat dalam perjalanan. Meskipun ia tahu menuju kesengsaraan secara lahiriah. Ia mempelajari kebudayaan India, mulai dari bertenun, makanan, tidur, dan cara berpakaian. Madeline tidak hanya berpindah secara geografis tetapi menyatu dengan masyarakat India dengan suka cita. 

Sebelum ada kantor pos, e-mail, dan berbagai media sosial, orang menyampaikan pesan dan mengirim barang lewat perantara. Jarak cukup jauh yang ditempuh dengan jalan kaki, beruntungnya bisa berkuda. Dengan geografis yang tak dikenal dan penuh risiko, ia membawa pesan dengan nyawa sebagai taruhan seperti dalam “Seri Orang Bersaudara” yang berjudul Surat Pembawa Petaka (1993). Liu Tang seorang pendekar yang mendapat julukan Hantu Berambut Merah diutus oleh Chao Gai menyampaikan surat dan emas untuk diserahkan kepada Song Jiang: “Saya telah diperintahkan untuk menyampaikan ini semua kepada tuan Song, dan bila saya tidak dapat melaksanakannya saya pasti dihukum.” Meskipun tujuannya menyampaikan pesan, dalam perjalanan pasti mampir untuk beristirahat, entah itu di bawah pohon atau di warung. 

Saat ini bepergian lebih banyak dikaitkan dengan kesenangan. Bahasa populernya wisata atau piknik. Jika tempat-tempat itu indah dan layak foto pasti akan dikerumuni. Selain itu, tempat-tempat yang memiliki banyak cerita dan disakralkan. Seperti tempat bersejarah, makam para wali, pahlawan, dan nabi. Saking ramai peminatnya menjadi peluang bisnis bagi swasta maupun negara dengan penawaran akomodasi lengkap. Tak mungkin kelaparan dan tersesat! 

Pergi dan pulang meninggalkan misteri yang belum terungkap. Begitu juga oleh-oleh untuk orang-orang telah menunggunya: cerita mendebarkan, emas dan berlian, petuah dan ajaran atau kabar kematian. Pergi tak berarti harus kembali. 

Susantini – penjaga Toko Buku Susano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s