Tamu di Rumah

Bandung Mawardi

RUMAH-RUMAH menantikan kunjungan tamu. Di desa-desa, rumah-rumah perlahan jarang ramai oleh kehadiran tamu. Situasi sejarah berubah akibat tata cara orang mendirikan dan mengartikan rumah. Rumah di desa pernah menjadi rumah “adab” saat pintu-pintu mudah terbuka dan suasana percakapan gampang melenakan. Sekian tahun lalu, bertamu menjelaskan keinsafan atas rumah dan pertautan dengan sesama. Masa lalu bertamu tergantikan dengan pintu-pintu rumah tertutup dan pagar-pagar itu membakukan kesungkanan. Rumah-rumah di sekian desa perlahan menginginkan seperti berada di kota: berpagar, tertutup, dan tersepikan.

Pada suatu masa, peristiwa kedatangan tamu menjadikan orangtua bisa mendidik anak dalam menghormati sesama mengacu tata krama. Sekian hal dan kebiasaan diajarkan bermaksud anak mahir dalam berucap, luwes membawakan suguhan, dan berpenampilan pantas. Etika menerima tamu bila terajarkan rutin memicu keberanian, kesantunan, dan keakraban bagi anak-anak. Kita mengingat peristiwa menerima tamu atau menjadi tamu sering terceritakan dalam buku-buku. Di buku-buku pelajaran bocah masa kolonial, bertamu juga bab penting terajarkan dengan sekian ragam (latar) cerita.

Sekian hal dan kebiasaan diajarkan bermaksud anak mahir dalam berucap, luwes membawakan suguhan, dan berpenampilan pantas. Etika menerima tamu bila terajarkan rutin memicu keberanian, kesantunan, dan keakraban bagi anak-anak.

Pembedaan adab lama-baru terbaca dalam buku-buku petunjuk berbahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan lain-lain dalam industri buku di Nusantara masa kolonial. Kita membaca buku kecil karangan JF Kessler, guru di Tiong Hwa Hwee Kwan (Malang). Buku lawas tanpa tahun terbit berjudu Adat Sopan! Di situ, Kessler membahas: “Nasihat boeat orang-dagang dan orang toeah dan moeda, wadjibnja goeroe pada moerid dan moerid pada goeroe, papa pada anak dan anak pada papa.” Buku pedoman tergunakan mungkin seabad silam. 

Puluhan halaman di bagian awal mengenai “bertamoe”. Kita mungkin membaca dengan tuduhan “aneh”. Tata krama atau adat-sopan bertamu masa lalu terasa “formal” dan termodernkan akibat tatanan kolonial atau arus pengaruh Barat. Petunjuk-petunjuk bernomor mengesankan adat-sopan bertamu memastikan kehormatan, menghindari cela. Kessler menganjurkan kesungguhan orang mau menjadi tamu: “Sabeloonnja kita brangkat dari roemah, kita moesti priksa kaloe kita poenja pakean ada sampe bersih, kantjinh-kantjing dari kita poenja djas dan tjelana soeda dikantjing njang betool, dan lagi kita tida loepa bawak satoe atawa doea sapoe tangan.” 

Raga, masalah penting bagi tamu. Gerak raga menentukan kesopanan. Kita mengandaikan buku petunjuk itu digunakan kelas menengan di perkotaan. Simak petunjuk raga: “Kalaoe kita diadjak doedoek, tarik krosinja kira-kira stenga ello dari medja, djangan sekali-kali balik gegernja pada orang, sender dadanja di medja atawa tarooh sikoet atawa topi njang kita misih ada pegang di tangan, diatasnja medja tetapi tarooh diatas pangkoenja atawa senderken itoe kakinja medja, dan ommong apa moestinja”.

Masa demi masa, tata krama dalam bertamu memiliki patokan-patokan dipengaruhi beragam peradaban. Buku mungil dari masa lalu mengingatkan kita bahwa peristiwa bertamu terjadi di Nusantara terasa “Eropa”. Pilihan busana, gerak raga, dan penggunaan bahasa mungkin sudah terpengaruh Eropa telah lama bercokol di Nusantara. “Peniruan” berharap memiliki pembenaran kemodernan dibandingkan tata cara lama. Hal-hal besar dan kecil diajarkan bagi orang mau menjadi tamu atau menerima tamu. Sekian pelajaran atau petunjuk berarti bermisi “membentuk” mufakat bersama atau pengesahan adat-sopan dianggap sesuai zaman “baroe”. 

Pada masa berbeda, terbitlah buku berjudul Sidang Pengarang Pelita (1950) gubahan F Hagers, disadur dalam bahasa Indonesia oleh Hafni Abuhanifah. Bacaan remaja, bercerita remaja dan penerbitan majalah di sekolah. Mereka kadang membahas masalah majalah di sekolah saat istirahat atau setelah rampung pelajaran. Mereka pun mencari suasana berbeda dengan mengakrabkan tim. Di rumah, tempat terhangat bagi pergaulan dan pemenuhan impian mengurus majalah. Tokoh “aku” mengalami pagi dengan kerepotan. Ia bakal kedatangan teman-teman tergabung dalam sidang pengarang. Mereka adalah teman tapi tetaplah tamu wajib dihormati.

Ia ingin menerima para tamu di kamar, tak mengganggu keluarga bila menggunakan ruang tamu untuk rapat. Di kamar, obrolan diharapkan seru dan terhindar dari rikuh dengan keluarga. Mereka adalah remaja putri memiliki tanggung jawab membuat majalah bermutu. Kita simak kesibukan pagi, sebelum teman-teman datang: “Kamarku ini sungguh bagus. Luas, dan pada pagi hari masuk pula sinar matahari kesitu. Tentu masih banjak jang kurang pada kamarku ini. Dimuka djendela terletak beberapa pot kembang, jang menambah semaraknja kamarku…  Bersemarak kamarku dibuatnja, lebih-lebih lagi karena dipanku jang terletak disudut didekat djendela. Pantas benar kelihatannja bantal-bantal beraneka warna diatas kain dipan jang merah tua itu.” Kamar menjadi tempat menerima tamu: ngobrol dan menikmati makanan-minuman. 

Dua buku bercerita tata cara bertamu. Pada masa lalu, ajaran menjadi tamu atau menerima tamu memang disampaikan dalam tuturan, buku-buku, atau rubrik dalam majalah. Di beranda, ruang tamu, atau kamar, kehadiran tamu memastikan kesanggupan tuan rumah menghormati dalam busana, bahasa, suguhan, dan lain-lain. Rumah-rumah sering kedatangan tamu menjadikan anak atau remaja turut belajar pergaulan. Mereka bakal mengalami situasi berbeda dengan perubahan tata krama. Pada abad XXI, bertamu mungkin peristiwa tak serumit masa lalu saat diajarkan rinci dan bertaburan arti. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020), Terbit dan Telat (2020). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

E-mail: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s