Penemuan dan Kehilangan

Iin Nuraini

SEJAK anak pertama saya masuk SMP, tidak sekalipun melihat penampakan sekolahnya, apalagi teman dan guru-gurunya. Di rumah, selama masa-masa awal pandemi sungguh membosankan dan mengerikan. Anak-anak hanya duduk di depan televisi meski tidak menontonnya. Mereka sibuk memegang HP, sesekali keluar kamar ketika mengambil makanan. Mereka juga memberi makan untuk kucing dan peliharaan lainnya.

Tahun baru dimulai, Covid-19 merebak kembali hingga diberlakukannya PSBB Jawa-Bali. Skenario tatap muka siswa dan guru yang akan dilangsungkan Januari 2021 gagal total. Anak saya yang girang ingin bertemu dengan teman barunya hanya melongo. Ia kembali sibuk di depan HP-nya untuk presensi dan cek tugas harian. Oh sungguh malang! Sesekali, ia menggendong kucing kesayangannya jika capek belajar. Hingga suatu pagi, saat kutinggal ke rumah neneknya, chat di WA membuatku kaget. Kucing kesayangannya lemas, tidak mau makan selama 2 hari. Anak saya kalut dan ingin aku segera pulang. Big, kucing yang ia pelihara dari kecil muntah-muntah. Sungguh, aku mengerti kepanikannya saat dia mengirim foto Big. Dia bilang, “Aku harus bagaimana, Bu?” Sontak aku ikut panik.

Setelah menghubungi teman yang berpengalaman memelihara kucing, baru aku tahu kalau kucing itu terkena virus “panleukopenia”. Penyakit yang berasal dari virus “parvo” ini sangat cepat menular pada kucing lainnya. Dia akan muntah warna kuning dan pipisnya sangat bau. Kemungkinan hidupnya hanya 5%. Dengan tergesa, aku hubungi anakku agar segera mencari air kelapa muda untuk diminumkan. Namun, jawabannya sungguh membuatku terdiam lama, “Aku tak bisa meninggalkan dia sendiri, Bu.” Dengan segala daya upaya, akhirnya, Big tak dapat diselamatkan. Kabar dari anakku hanya singkat, “Bu, Big sudah nggak ada.” Dan aku hanya bisa ikut menangis, sambil mengetik, “Jangan sedih!” Namun, aku tahu itu mustahil. Sebentar kemudian, di status WA, anakku mengirim fotonya saat mencium kepala Big dan menulis: “Terima kasih telah menemaniku sampai aku besar. Selamat jalan, Big.” Sudah sangat lama kucing itu ia pelihara, sampai ia memberi nama Big. Sebab, saat ia temukan, kucing itu tak terurus dan kurus. Ia memeliharanya sampai tubuhnya gendut.

“Terima kasih telah menemaniku sampai aku besar. Selamat jalan, Big.” Sudah sangat lama kucing itu ia pelihara, sampai ia memberi nama Big. Sebab, saat ia temukan, kucing itu tak terurus dan kurus. Ia memeliharanya sampai tubuhnya gendut.

Aku tidak begitu tahu, bagaimana seorang anak lelaki yang masih remaja mengatasi kepedihan di hatinya. Yang kutahu, anak lelaki lebih pandai mengontrol emosinya ketimbang anak perempuan. Sehari kemudian, anakku mengabarkan telah mengubur kucingnya di samping rumah. Ia bersihkan semua tempat makan dan minum agar kucing anakku yang satunya tidak tertular virus. Dia memandikannya sampai bersih dan lebih perhatian pada Hunter, teman Big, yang ia pelihara di rumah. Baru setelah aku lihat story pencarian Google di HP-nya, diketahui semua tentang mengatasi kucing yang keracunan, cara mencegah virus “panleukopenia” dan makanan untuk mencegah virus tersebut. Kupandangi anakku dengan nanar saat dia menggendong kucing dan mengelus-elusnya sambil belajar. 

Tahun baru ini, ia menemui hal yang baru: rasa kehilangan. Meski ia tak pernah peduli akan tahun baru di tahun-tahun yang lalu, namun tidak dengan tahun ini. Pada awal tahun ini, mungkin jadi tahun yang membekas untuknya, menorehkan kenangan buruk dan terus terkenang dalam hatinya. Aku harap dengan belajar rasa kehilangan itu ia bisa menjadi anak yang tabah saat mengalami hal sulit suatu kelak. 


Iin Nuraini, ibu gemar menulis dan mengajar, tinggal di Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s