Nasib Loper Koran

Hanputro Widyono

Yang fana adalah waktu, kertas tidak abadi.

SIANG itu angka jam belum menyentuh pukul 13.00 WIB. Saya dan Nai duduk-duduk di lobi gedung III Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret, sambil membaca. Tiba-tiba, seorang lelaki paruh baya mendatangi kami. Di tangan kirinya tertenteng lembaran-lembaran koran. Dia menyapa kami dengan rentetan kalimat yang tak saya ingat detail kata per kata. Tapi kira-kira begini: “Saya tahu, ilmu itu penting buatmu.  Tapi itu tak akan lengkap kalau tak ditambahi informasi-informasi yang ada di koran ini. Cukup bayar separuh harga,” katanya.

Kalimat terakhirnya membuat Nai terkejut. Hari masih panjang dan harga koran sudah turun setengah harga. Tentu saja itu persepsi teman saya. Bagi Pak loper koran, hari selalu lebih cepat berakhir. Apalagi siang itu mendung. Jika hujan sudah turun, ia jelas akan semakin kesulitan menjajakan koran-korannya. Ia sadar betul, musuh utama kertas dagangannya adalah air. Maka tak peduli hari masih pagi, siang, atau sore, turunnya hujan itu pertanda waktu pulang.

Saya pun teringat puisi Joko Pinurbo yang berjudul Surat Kabar. Begini bait pembukanya: “Ayah saya seorang loper koran/ yang sama gigihnya dengan wartawan/ deadline nasibnya lebih keras/ dari deadline tulisan”. Secara denotatif, kita memahami puisi ini dengan membandingkan jam kerja wartawan dan loper koran. Meski mulai menjajakan koran sekitar pukul 6 atau 7 pagi, seorang loper koran mesti berangkat kerja sehabis subuh untuk mengambil koran di agen-agen. Mereka mesti bangun lebih pagi ketimbang calon-calon pelanggannya. Bangun kesiangan, rezekinya dipatok ayam.

Ungkapan itu menunjukkan bahwa orang lebih suka membeli dan membaca koran di pagi hari sebelum beraktivitas atau berangkat kerja. Kita bisa menghitung jarak waktu antara orang bangun dan berangkat bekerja, paling sekitar 3 jam. Dan itulah waktu-waktu paling produktif buat menjajakan koran. Selebihnya, seorang loper koran hanya menunggu kemungkinan-kemungkinan. Itu jelas durasi yang singkat dibandingkan para wartawan yang diberi batas pengiriman berita harian sekitar pukul lima sore atau bahkan pukul delapan malam. Loper sadar, koran lebih cepat basi ketimbang nasi. Nasi tak habis dimakan hari ini, besok pagi masih bisa dimasak nasi goreng. Koran tak habis, paling mungkin dijual kiloan.

Loper sadar, koran lebih cepat basi ketimbang nasi. Nasi tak habis dimakan hari ini, besok pagi masih bisa dimasak nasi goreng. Koran tak habis, paling mungkin dijual kiloan.

Maka ketika Nai menanyakan alasan Pak Loper Koran membanting harga, lelaki bertopi hitam itu hanya menjawab singkat dan realistis. “Kalau koran-koran ini saya jual dengan harga normal, pasti sulit terjual,” katanya sambil memberikan uang kembalian. Dia benar dan perkataannya itu seakan berubah jadi, “Kalau koran-koran ini saya jual dengan harga normal, pasti kamu nggak mau beli.” Aduh!

Tanggung jawab

Seperti tokoh dalam puisi Joko Pinurbo, Bapak saya juga seorang loper koran. Kalau hujan di pagi atau siang bisa memaksanya segera pulang, hujan di waktu subuh tak bisa menahan seorang loper koran tetap di rumah. Walaupun hujan masih menderas usai mengerjakan salat subuh, bapak terus saja memakai mantol untuk lekas mengambil koran di agen langganan. Tak lupa pula ia menyiapkan kantong plastik sekiloan beras untuk membungkus koran-korannya agar tidak “melempem” terkena air hujan. Persiapan komplit, bapak pamit pada ibu. Ibu mencium tangan bapak sambil merapal doa. Bapak bilang “amin”, lalu berangkat bekerja.

Pekerjaan mengantar koran hampir tak memberinya waktu libur. Wartawan dan redaktur masih memiliki libur sekali dalam seminggu, loper koran tak punya. Harapan di hari libur nasional pun kandas lantaran tidak semua koran meliburkan diri. Kerumitan-kerumitan semacam itulah yang membuat bapak selalu menggagalkan diri “berlibur” untuk sekadar menemani istrinya pengajian pagi atau tazabur alam. Padahal bapak tak terikat dengan lembaga maupun perusahaan tertentu. Ia bebas menentukan jam kerjanya sendiri. Hanya saja, bapak merasa, kewajiban dan tanggung jawab kepada pelanggan-pelanggan tetap—kini jumlahnya hanya sekitar 20 orang—harus ia penuhi lebih dulu.

Pekerjaan mengantar koran hampir tak memberinya waktu libur. Wartawan dan redaktur masih memiliki libur sekali dalam seminggu, loper koran tak punya. Harapan di hari libur nasional pun kandas lantaran tidak semua koran meliburkan diri.

Usai mengantar koran pada pelanggan tetap, bapak membuka lapaknya di depan Pasar Jongke. Di lapak beratap langit dan beralas cor-coran itu, bapak hanya mangkal sampai pukul 10.30 WIB. Konon, setelah pukul 10.00 WIB, hilir mudik orang-orang di pasar sudah sepi dan terik matahari tak bisa dihindari. Bila koran tak laku, kerugian pun mesti ia tanggung sendiri. Ikhlas. Ikhlas itu kunci agar tak gampang kapok bangun pagi dan berjualan koran lagi.

Para loper koran sering setia pada tanggung jawab profesinya meski ia tak mendapat undangan menghadiri perayaan Hari Pers Nasional. Di saat harga kertas naik dan konten berita di koran tersaingi media digital, menjajakan koran dirasakannya sulit nian. Pembaca koran sering mendapati berita-berita di koran yang diolah dari sumber-sumber internet, seperti detik.com, liputan6.com, antara, dan lainnya. Maka tak heran kalau sebagian orang meninggalkan koran dan memilih mengakses situs-situs berita secara langsung lewat gawainya.

Para loper koran sering setia pada tanggung jawab profesinya meski ia tak mendapat undangan menghadiri perayaan Hari Pers Nasional. Di saat harga kertas naik dan konten berita di koran tersaingi media digital, menjajakan koran dirasakannya sulit nian.

Tak hanya situs berita daring, perusahaan media cetak yang mulai rajin menawarkan koran edisi digital dengan harga lebih murah juga tampil sebagai rival tak sebanding para loper koran. Alhasil, para loper koran mesti menentukan nasibnya sendiri. Sebagian memilih beralih profesi menjadi tukang ojek daring, jualan bensin ala pertamini, jual gorengan, hingga jadi kuli bangunan. Sebagian lainnya memilih bertahan menjajakan koran hingga Sang Waktu yang fana itu menyatakan, “Profesi loper koran cukup sampai sekian!” Oh my gaes …


Hanputro Widyono, tukang buku penuh waktu di @tokobukukalangan

IG: hanputrow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s