Keluarga dan Listrik

Bandung Mawardi

SENJA itu hujan. Listrik padam alias oglangan. Di rumah, suasana terasa tak enak. Menit demi menit makin gelap. Terang terlalu dirindukan. Senja dan malam, kita menginginkan lampu memberi terang. Oglangan membikin kecewa. Murung. Dulu, ibu atau bapak lekas menanggulangi gelap dengan senthir atau lilin. Semua orang di rumah berkumpul di ruang agak terang gara-gara api. Kebersamaan tanpa semua hal terlihat jelas.

Januari masih sering hujan. Institusi mengurusi listrik tak pernah bersumpah bahwa rumah-rumah terhindar dari pemadaman listrik. Hujan kadang membawa kabar bakal gelap. Hujan deras, gelap bakal menimpa. Kita tak bisa memesan hujan turun pagi atau siang. Di keluarga memiliki bocah-bocah, oglangan kadang menimbulkan takut, sebal, dan sedih. Mereka memilih dekat ibu: tiduran atau bercakap ngalor-ngidul. Kini, oglangan tak wajib diladeni dengan senthir atau lilin. Orang bisa menggunakan senter di gawai. 

Di keluarga memiliki bocah-bocah, oglangan kadang menimbulkan takut, sebal, dan sedih. Mereka memilih dekat ibu: tiduran atau bercakap ngalor-ngidul. Kini, oglangan tak wajib diladeni dengan senthir atau lilin. Orang bisa menggunakan senter di gawai. 

Pada abad XXI, Indonesia menginginkan semua keluarga bahagia dengan listrik. Pemandangan paling tampak tentu lampu-lampu. Rumah berlampu mengartikan memiliki terang saat malam. Keluarga-keluarga mendapat ajakan berlistrik tapi wajib setoran pajak. Jumlah rupiah biasa ada dalam catatan pengeluaran keluarga. Listrik memerlukan ongkos dan tanggapan. Sekian lama, orang atau komunitas menganjurkan pengiritan penggunaan listrik di rumah. Anjuran bijak tapi ibu-ibu biasa mengajukan daftar sekian benda berlistrik di rumah: kulkas, televisi, penanak nasi, seterika, mesin cuci, dan lain-lain. Dapur dan “belakang” saja sudah berlistrik, tak mutlak kerja tangan saja atau raga berkeringat. Membuat sambal sudah bisa dengan alat berlistrik. Nasi tak selalu berbenda nostalgia: kendhil dan dandang

Kita mulai bernostalgia dengan membuka buku berjudul Pantjaran Bahagia (1949) jilid II susunan Soetan Sanif. Buku dipelajari bocah-bocah di sekolah rendah. Buku berjudul puitis, merangsang imajinasi dan pengetahuan bocah. Dua kata itu meminta bocah-bocah belajar dalam terang dan bergirang dalam memenuhi keinginan mengetahui pelbagai hal. Misi menjadi pintar ada tapi tak gamblang terbahasakan. Di situ, kita membaca cerita berjudul “Paedah Listrik Bagi Masjarakat.” Di kelas, ibu guru menerangkan masalah listrik. Bocah-bocah diajak bercakap dalam belajar listrik. Mereka sudah mengetahui benda memberi terang bernama lampu. Bocah-bocah mungkin memiliki pengalaman di rumah terpasang sekian lampu. Bocah di desa belum memiliki sambungan listrik boleh melongo atau mbingungi. Pada masa 1950-an, lampu itu benda (masih) mewah.

Ibu guru berkata: “Tadi telah kita perkatakan tentang lampu listrik dan lampu senter. Keduanja berguna untuk penerangi tempat jang gelap. Ketahuilah bahwa lain dari pada itu banjak lagi paedah listrik”. Bocah-bocah tenang mendengarkan penjelasan. Ibu guru mencontohkan seterika. Penjelasan lain: “Ketahuilah bahwa sekarang telah banjak orang jang mempunjai lemari dingin (presider). Presider itu didjalankan dengan listrik djuga. Murid-murid mulai bergantian omong kegunaan “presider”. Mereka teringat es. Di akhir cerita, kita mendapat kejutan: “Di Djakarta telah ada dua-tiga bioskop jang ruangannja didinginkan. Djika kita masuk kedalamnja bahwa dalamnja sama dengan hawa dipegunungan. Ketahuilah bahwa perkakas pendinginkan ruangan bioskop itu didjalankan oleh listrik.” Kini, listrik adalah kebutuhan bagi keluarga-keluarga Indonesia memiliki beragam cara menikmati hari-hari di rumah. Mereka mulai menghitung pengeluaran untuk listrik. 

Kini, listrik adalah kebutuhan bagi keluarga-keluarga Indonesia memiliki beragam cara menikmati hari-hari di rumah. Mereka mulai menghitung pengeluaran untuk listrik. 

Benda-benda berlistrik masuk rumah gencar diiklankan dalam majalah-majalah wanita dan keluarga masa 1980-an dan 1990-an. Halaman demi halaman, kita melihat iklan kulkas, seterika, mesin cuci, televisi, dan lain-lain. Di situ, tokoh penting ditampilkan adalah para ibu. Imajinasi dibentuk dengan penampilan ibu mesem di samping mesin cuci. Konon, ibu tak lagi capek mencuci. Mesin cuci itu membahagiakan keluarga asal ada listrik. Risiko bahagia membuat ibu di samping mesin cuci berbusana seperti mau pelesiran, bukan melakukan pekerjaan harian di rumah. Ada juga ibu berdiri di samping kulkas. Dandanan si ibu rapi dan tampil cantik. Kita jangan ngawur membuat pemahaman: memiliki kulkas berdampak cantik. Ibu itu cantik. Kulkas itu cantik. 

Kita mengerti bahwa bekal perempuan untuk menjadi istri atau ibu adalah mengenal benda-benda berlistrik. Kita menduga saat berpacaran, dua orang ingin mengikat janji bersama sehidup-semati mungkin jarang menjadikan listrik adalah tema terpenting. Mereka bakal kewalahan bila gagal memikirkan listrik saat menjadi keluarga. Pada abad XXI, listrik makin penting gara-gara orang bergawai. Benda itu butuh listrik. Berita terbaru dari perusahaan internasional dan sekian pemerintah di dunia menganjurkan orang-orang mulai menggunakan mobil listrik saja. Keluarga di Indonesia perlahan digoda menambahi pengetahuan tentang mobil bertenaga listrik. Keluarga makin berlistrik.

Di majalah Sarinah, 13-26 Oktober 1986, iklan berwarna bertokoh ibu. Lihatlah, seterika merek Philips! Ibu disebut “ratu rumah tangga”. Ibu-ibu diajak membeli dan menggunakan seterika menjanjikan “demi hasil seterika memuaskan dengan cara mudah dan ringan.” Seterika penting bagi ibu untuk menjadikan pakaian keluarga rapi setelah peristiwa mencuci dan menjemur. Benda itu menganggur bila oglangan. Sedih bakal melanda ibu bila mau menjadikan pakaian suami dan anak-anak menjadi rapi tapi pulsa listrik habis. Listrik itu masalah ibu?

Bapak juga bermasalah dengan listrik. Pada 02.30 WIB, ada bapak berkumis bangun. Gelap. Senter di gawai memberi terang. Ia ingin ngekumi kumbahan, adegan mencuci dalam dingin. Dua ember menanti air. Ia menduga oglangan. Berjalan pelan membuka pintu. Oh, rumah para tetangga terang! Lampu-lampu memberi terang menjelang pagi. Apes. Kotak di listrik di depan rumah pasti ngambek alias kehabisan pulsa. Ia tetap ingin merendam pakaian kotor tapi berpikiran listrik tetap diperlukan. Air diperoleh dari mesin-pompa membutuhkan listrik. Toko atau kios menjual pulsa belum buka. Duh! Bapak itu mulai mengirim pesan kepada keponakan tinggal di Semarang: mengabarkan sedang “berduka” gara-gara listrik. Menit demi menit berlalu, keponakan memberi jawaban. Ia bisa membelikan pulsa listrik tanpa keluar rumah. Oh, tata cara hidup mutakhir!

Bapak juga bermasalah dengan listrik. Pada 02.30 WIB, ada bapak berkumis bangun. Gelap. Senter di gawai memberi terang. Ia ingin ngekumi kumbahan, adegan mencuci dalam dingin. Dua ember menanti air. Ia menduga oglangan. Berjalan pelan membuka pintu. Oh, rumah para tetangga terang!

Nomor untuk mengisi kotak listrik dikirimkan jelang pertandingan Juventus-Napoli, 21 Januari 2021. Lega. Rumah pun menjadi terang. Hore! Si bapak bisa umbah-umbah. Ia menonton balbalan, mengaku marem melihat Ronaldo membuat gol. Subuh tanpa teriak. Di jeda menonton, ia umbah-umbah sambil mendengar musik garapan Zakir Hussain. Umbah-umbah rampung. Juventus menang! Keponakan di Semarang dan Blulukan bergirang gara-gara Manchester United berhasil mengalahkan Fulham: 2-1. Bapak itu makin mengerti umbah-umbah membutuhkan listrik, menonton balbalan itu berlistrik. Ia berjanji nanti siang mau memegang seterika dengan gembira: menjadikan pakaian keluarga rapi, tak lupa mendengar lagu-lagu cengeng: Inka Christie, Annie Carera, Salim-Iklim, dan Nike Ardila. Begitu.    


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020), Terbit dan Telat (2020). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

E-mail: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s