Itu Kaos Oblong

Muthia Sayekti

KEHADIRAN warna tidak pernah bebas nilai. Ia diberi makna bermacam-macam. Seperti halnya dalam film Inside Out (2015). Setiap warna menjadi tanda atas emosi dan rasa. Senang dengan warna kuning, sedih melalui warna biru, marah yang merah, rasa jijik yang digambarkan melalui warna hijau, dan rasa takut direpresentasikan dengan warna ungu. Meskipun mana suka orang yang memberi makna, ada kotak-kotak seragam dalam memberi nilai atas warna. Termasuk di dalamnya adalah warna pakaian.

Anakku perempuan ketika lahir tak banyak memiliki pakaian berwarna merah, merah muda, berikut turunannya. Kebanyakan bajunya ketika baru lahir adalah baju warisan dari kerabat. Semuanya masih bagus dan sangat pantas pakai. Kerabat yang memberi anaknya laki-laki. Tentu saja, warna baju-baju yang kudapat tak satu pun berwarna merah muda atau jingga.

Terlebih aku tak langsung berkesempatan untuk memasang tindik pada anak perempuanku. Bidan yang membantuku melahirkan berkata, “Tunggu sebulan lagi ya, Bu. Daun telinga bayinya masih terlalu kecil untuk ditindik.”

Alhasil, hampir setiap orang yang datang menengok atau melihat anakku akan mengira bahwa anakku laki-laki. “Ganteng, ya,” begitu kata mereka.

Aku tersenyum saja. Sesekali kutangkis dengan santai, “Anakku cewek, lho…” Terdengarlah tawa. 

“Lho, lha kok belum ditindik?”

“Oh, maaf, ya. Lha bajunya kelihatan laki-laki. Biru-biru gitu, kan ganteng…”

Photo by D A V I D S O N L U N A on Unsplash

Jamak sekali kuterima kalimat-kalimat semacam itu. Anakku seolah belum sah untuk menjadi perempuan, sebelum menggunakan pakaian “berwarna perempuan” dan belum bertindik. Pemahaman ini kemudian dimapankan oleh produk industri yang dekat dengan anak-anak. Mulai dari makanan ringan kinder joy dan popok sekali pakai sweety silver. Keduanya membuat tanda pada produknya bahwa kemasan warna pink untuk anak perempuan dan biru untuk anak laki-laki.

Bagiku, semua warna bernilai netral. Apabila ada kesukaan, maka itu hanya perkara selera. Sifatnya akan cenderung subjektif dan tidak perlu menjadi konvensi yang diamini oleh semua orang. Suamiku sendiri gemar memiliki pakaian berwarna merah maroon. Sedangkan aku lebih nyaman dengan pakaian berwarna biru tua atau abu-abu. Orang-orang tidak mempermasalahkan pilihan warna pakaian kami. Tapi ternyata hal tersebut tidak berlaku pada pakaian anakku. 

Suamiku sendiri gemar memiliki pakaian berwarna merah maroon. Sedangkan aku lebih nyaman dengan pakaian berwarna biru tua atau abu-abu. Orang-orang tidak mempermasalahkan pilihan warna pakaian kami. Tapi ternyata hal tersebut tidak berlaku pada pakaian anakku. 

Aku tidak tahu pasti apakah norma semacam ini juga berlaku bila anakku adalah laki-laki. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Atau, mungkin saja iya bilamana anak laki-laki itu menggunakan pakaian merah muda. Mungkin.

Sampai akhirnya, kado demi kado berdatangan. Satu dua baju berupa rok dan beberapa setelan merah muda mulai tertata di keranjang pakaian anakku, juga gamis yang lengkap dengan jilbabnya. Semuanya lucu dan menggemaskan di mataku. Anakku senang-senang saja saat kupakaikan salah satu atau dua di antaranya. Beberapa ada yang nyaman ia kenakan. Ada pula yang justru membuatnya gerah. Sisanya ada yang tak sempat terpakai karena terlalu mewah untuk digunakan sehari-hari. Sedangkan pandemi tak mengizinkan anakku ke mana-mana termasuk mendatangi acara pesta.

Akhirnya yang ia pakai tentu saja pakaian itu-itu lagi. Baju setelan atau terusan warna biru, putih, abu-abu, kuning, sesekali merah muda. Bahkan tak jarang ia hanya menggunakan kaus oblong demi bertahan dengan panasnya siang. Apa pun warnanya, yang penting ia tak gerah, dan bisa tidur nyenyak. 

Hingga kujumpai ternyata banyak bayi dan anak-anak yang memiliki kebiasaan serupa. Mereka bermain dengan gembira hanya dengan kaus oblong putih dan celana pendek, yang bisa dikatakan itu adalah celana dalam. Sungguh merdeka. Mereka belum dihantui aturan akil balig untuk menutup aurat. Pun, untuk urusan kaus oblong, warna apa saja bebas atas penilaian dan makna-makna. Bagaimana tidak? Mayoritas kaus oblong berwarna putih. Meski banyak pula yang berwarna biru, kuning, dan merah muda, warna putih lebih jamak kutemui. 

Mereka bermain dengan gembira hanya dengan kaus oblong putih dan celana pendek, yang bisa dikatakan itu adalah celana dalam. Sungguh merdeka. Mereka belum dihantui aturan akil balig untuk menutup aurat.

Kaus oblong tidak mengenal anak dari kaum urban atau suburban. Tidak pula dipermasalahkan apa jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan sama saja. Kaus oblong bagi anak adalah kesetaraan. Tidak terlihat jelas mana yang anak pejabat atau yang bapak-ibunya melarat. Paling-paling dari tingkat menguningnya saja, orang-orang akan menilai, entah terucap atau hanya sampai di batin saja.

Keresahanku atas warna dan bentuk pakaian anak menjadi pudar sejak kehadiran kaus oblong. Ia sederhana tapi serupa juru selamat. Kenetralannya secara bentuk, fungsi, dan warna membuatku sebagai ibu bisa sedikit membebaskan diri dari penilaian serampangan orang-orang. Yang terpenting di atas segala itu, anakku tetap nyaman berpakaian sebelum kelak ia dewasa dan harus tunduk pada beragam norma dan aturan.


Muthia Sayekti, anggota MAHMUD ABAS (Mamah Muda Anak Baru Satu) dan penulis lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s