Menertawakan Mo Zu

Impian Nopitasari

Andreas Zu, Catatan Kriminal Mo Zu dan Kisah Tawa Lainnya, 2020, x+182

MEMBICARAKAN tentang agama di negeri semajemuk Indonesia memang sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa menyangkal itu. Katanya, kita memang bangsa yang religius. Membicarakan agama tidak harus dengan nada tinggi, dahi mengkerut, apalagi sampai gontok-gontokan. Wis ora jamane. Bersyukur di tengah isu intoleransi di Indonesia muncul akun-akun garis lucu seperti NU Garis Lucu, Muhammadiyin Garis Lucu, Katolik Garis Lucu, Buddhis Garis Lucu, Hindu Garis Lucu, Hakabepe Garis Lucu, dan lain-lain. Beragama memang selayaknya bergembira dan tertawa bersama.

Andreas Sulardi, Andreas Zu atau akrab dipanggil Mo Zu adalah seorang Romo muda (jujur saya baru tahu kalau beliau memang muda dari keterangan di halaman terakhir buku, saya kira beliau hanya mengaku-ngaku saja) yang saya tahu dari akun Katolik Garis Lucu. Jujur saja saya kudet padahal beliau pernah menulis beberapa buku sebelumnya yang sebenarnya ada bukunya yang saya tahu. Tapi tidak ngeh saja kalau beliau ini adalah Romo yang sering jadi target pembulian anak-anak Twitter yang kejam haha.

Saya tertarik membeli buku Catatan Kriminal Mo Zu karena ada endorsement dari Gus Nadirsyah Hosen (Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama di Australia-New Zealand). Dalam endorsement-nya beliau meyakinkan kalau yang bisa guyon bukan hanya Kiai NU saja, tapi juga Romo-Romo. Ndak iya? Ah tenane?

Saya tertarik membeli buku Catatan Kriminal Mo Zu karena ada endorsement dari Gus Nadirsyah Hosen (Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama di Australia-New Zealand). Dalam endorsement-nya beliau meyakinkan kalau yang bisa guyon bukan hanya Kiai NU saja, tapi juga Romo-Romo. Ndak iya? Ah tenane? Sebagai santri kampung yang dulu ditakzir gurunya suruh ngisi kolah masjid karena ngeboti nonton Power Ranger episode terakhir daripada setoran shorof tentu saja saya tidak langsung percaya. Tapi ternyata saya salah, ternyata masih ada laki-laki yang bisa dipercaya. Eh nggak gitu mainnya, Mbak. Ternyata buku ini memang bisa membuat anda yang punya utang akan lupa sementara.

Ada tiga bagian dalam buku ini. Bagian pertama menceritakan Romo Zu saat masih menempuh pendidikan di seminari menengah maupun tinggi, bagian dua menceritakan pengalaman Romo Zu ketika sudah menjadi imam, bagian tiga berisi tentang perenungan. Bagian pertama ini saya jadi otomatis membayangkan kehidupan santri di pondok pesantren. Cerita wagu-wagu di dalamnya ternyata 11:12 dengan kehidupan pesantren. Calon-calon Romo ini sungguh wagu-wagu sekali, nggak ada cool-cool-nya blas. Dari mereka yang salah urutan doa, pas misa malah ngantuk sampai dihukum Romo senior, atau berburu tokek untuk obat jerawat. Saya jadi membayangkan kang-kang santri gudhigen haha. Untuk guyonan yang umum memang bisa membuat ngakak tapi kalau guyonannya internal saya yang non-Katolik ini tidak tahu lucunya di mana seperti di bab “salah lagu”. Mungkin sama aja kalau giliran saya menulis guyonan tentang salah bacaan salat, hanya “orang dalam” yang tahu. Hehe.

Bagian pertama ini saya jadi otomatis membayangkan kehidupan santri di pondok pesantren. Cerita wagu-wagu di dalamnya ternyata 11:12 dengan kehidupan pesantren. Calon-calon Romo ini sungguh wagu-wagu sekali, nggak ada cool-cool-nya blas. Dari mereka yang salah urutan doa, pas misa malah ngantuk sampai dihukum Romo senior, atau berburu tokek untuk obat jerawat.

Bagian dua yang menceritakan Romo Zu setelah menjadi imam saya pikir akan jadi pembahasan yang seriyes. Oh ternyata saya terlalu khusnuzon sodara-sodara. Menjadi imam tidak otomatis membuat Romo Zu terlihat cool. Ada saja cara Gusti Allah menguji Mo Zu lewat hamba-hambanya yang lain. Saya niteni, ternyata valid juga dugaan saya beberapa orang belum tahu seperti apa konsep menjadi Romo itu. Ngakak sekali ketika membaca cerita ada mbak-mbak yang mengira bahwa menjadi Romo seperti ikatan dinas (padhakke PNS), ada petugas kelurahan yang tanya kenapa di umur 35 masih sendiri, ada yang sudah dikasih tahu kalau profesinya Romo tapi masih tanya pasangannya mana. Ya Allah ngapunten Romo, soal kejombloan ini tidak bisa tidak membuat saya tertawa. Lho Romo Zu sendiri juga kok yang membuli dirinya sendiri. Coba baca di bab “Didorong Malaikat”, ketika Romo Zu nuntun motornya yang rewel (jangan bilang bensinnya habis, nanti beliau ngamuk, itu sebuah penghinaan) beliau sampai nggrundel “Dhuh Gusti tak rewangi ra nduwe bojo tapi malah kek gini.” Jan nyuwun dikeplak tenan kok. Tidak mengherankan kalau Romo Zu banyak yang mengidolakannya terutama dari kaum muda sampai jadwalnya padat merayap. Wuelok.

Ngakak sekali ketika membaca cerita ada mbak-mbak yang mengira bahwa menjadi Romo seperti ikatan dinas (padhakke PNS), ada petugas kelurahan yang tanya kenapa di umur 35 masih sendiri, ada yang sudah dikasih tahu kalau profesinya Romo tapi masih tanya pasangannya mana. Ya Allah ngapunten Romo, soal kejombloan ini tidak bisa tidak membuat saya tertawa.

Setelah tertawa-tawa, kita akan diajak menangis Bombay di bagian tiga dengan kisah menyentuh dari mendiang Romo Gendhon, Romo disiplin dan berdedikasi tinggi yang banyak dicintai umat. Sampai akhir hayat masih cinta dengan tugas pelayanan. Ada juga Bu Katrin seorang umat yang dalam keadaan maaf, cacat, masih berjalan ke seminari untuk menyerahkan seplastik jambu air untuk calon-calon Romo. Dua bab penutup yang otomatis bikin mewek karena saya cah gembeng.

Buku yang habis dibaca sekali duduk tapi isinya sungguh membekas. Ditulis dengan bahasa yang ringan dan didukung ilustrasi yang lucu dari Romo Bayu Edvra. Saya kok melihat kalau Romo Bayu ini kesempatan ya membuli Romo Zu lewat ilustrasinya. Lha nggapleki banget kadang lihat beberapa ilustrasinya, langsung bikin ngakak. Kolaborasi yang ciamik. Buku yang pengemasannya bagus tapi sayang sekali tidak ada nama penerbit dan ISBN. Paling tidak nama penerbit dicantumkan agar tidak menyulitkan saya kalau ditanya teman “Itu buku terbitan mana, Mbak?” dan ketika saya jawab “Diterbitkan mandiri,” ditanya lagi sama sana “Oh, dapat sponsor dari bank ya, Mbak?”. Mbuh.


Impian Nopitasari, penulis buku Kembang Pasren (2017) dan Si Jlitheng: Dongeng Bocah Abasa Jawa (2020)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s