Memasaklah! Menontonlah!

Bandung Mawardi

DUA bundel majalah Bobo dibeli saat hujan masih cukup deras. Adegan di Gladak (Solo): datang mencicil utang, pulang membawa buku dan majalah cap utang lagi. Selasa itu hujan. Jalan basah. Perjalanan bermaksud kepatutan bertemu pedagang, buku, dan majalah saat siang tanpa matahari bersinar. Para pedagang tampak diam memandangi hujan. Sekian orang sedang makan siang membawa bekal dari rumah. Pedagang soto dan pecel di sebelah kios-kios buku sering tutup. Orang-orang masih mungkin datang “makan” buku atau majalah. Makan siang mendingan di rumah, tak perlu jajan bila tak berduit atau terpaksa. 

Suasana itu sekejap dialami bersama buku-buku dan majalah-majalah dilindungi dari air hujan. Pulang. Dua bundel Bobo dibungkus tiga kresek, berharap selamat dari cumbuan air. Oh, hujan masih menderas sebelum sampai rumah! Di tengah jalan, sepeda motor bergerak aneh. Bocor! Menuntun. Siang itu ia menuntun sepeda motor dan Bobo. Adegan wagu saat jalanan ramai. Selamatlah sampai rumah!   

Di atas kompor, nongkronglah ceret. Sore dalam hujan, ia ingin minum teh, setelah mandi. Perut lapar. Oh, belum makan siang! Di meja, ada tempe mendingin. Nasi dan tempe. Ia berlagak ingin mengimbuhi nikmat dengan telur. Duh, brambang habis. Ia terlarang mengeluh. Peristiwa membuat telur dadar dengan keterbatasan dan ketiadaan. Jadilah! Makan siang menjelang sore. Mulut bekerja menghaluskan nasi, tempe, dan telur tapi tangan tak sabaran membuka halaman-halaman Bobo masa 2000-an. Walah, iklan-iklan makanan sering muncul! Beragam jenis makanan menggoda bocah-bocah terbiasa membaca Bobo. Sekian iklan melenakan gara-gara memberi hadiah. Belilah dan raihlah hadiah! Makanlah, bergengsilah! Bocah-bocah mendapat pelajaran makan dari iklan-iklan. Duit ada, belilah! Halaman-halaman bercerita memasak cuma sedikit. Ia sadar edisi-edisi Bobo terbaca bocah-bocah mengalami hidup di abad XXI, abad melarang repot. Makan tanpa perlu repot asal berduit dan mau. 

Halaman-halaman bercerita memasak cuma sedikit. Ia sadar edisi-edisi Bobo terbaca bocah-bocah mengalami hidup di abad XXI, abad melarang repot. Makan tanpa perlu repot asal berduit dan mau. 

Makan nasi bersama tempe dan telur selesai, berlanjut isah-isah diselingi memandangi kompor, panci, ceret, wajan, dan lain. Pemandangan biasa tapi merasa kehilangan. Sekian benda tak terlihat. Dulu, benda-benda itu biasa berada di dapur-dapur. Tahun demi tahun berlalu, benda-benda penghuni dapur berkurang. Sekian orang merasa kehilangan. Sekian orang bergembira mendapati dapur tak lagi sumpek dan semrawut. Dapur mutakhir cuma sedikit benda, sedikit peristiwa. Kangen. Benda-benda lama dikangeni tapi sulit dicari atau menganggu bila dipaksa hadir dalam dapur-dapur abad XXI. Ah, kangen saja.

Malam telah tiba. Menit-menit dingin. Ia memilih duduk bersama tumpukan buku lama. Suara hujan. Suara tokek. Ah, menit-menit sebelum mata dipejamkan ingin menebus kangen. Buku demi buku terbuka meminta tafsiran dan kenangan. Dua buku itu menggoda! Buku berjudul Sinar II (1950) susunan  R Soekardi, buku untuk bocah-bocah menikmati sekolah tanpa lupa rumah. Di halaman 28-30, bacaan berjudul “Didapur”. Pendek tapi membangkitkan kenangan. Soekardi menceritakan kesibukan keluarga mau bepergian ke rumah datuk, keesokan hari. Emak mengajak seisi rumah memasak di dapur. Memasak menjadi kegembiraan bersama saat siang: “Setelah makan anak-anak itu berkumpul semuanja didapur. Si Aminah disuruh emak memarut kelapa, si Salim membelah kaju. Bibi menggiling tjabai, emak mengiris-iris daging. Si Juniar mengupas bawang, si Karim meniup api”. Keluarga masa lalu. Dapur itu ramai orang, ramai benda. Peristiwa memasak adalah album kerepotan tapi menggembirakan. 

Keluarga masa lalu. Dapur itu ramai orang, ramai benda. Peristiwa memasak adalah album kerepotan tapi menggembirakan. 

Kangen belum rampung. Terbukalah buku berjudul Seneng Matja III (1961) susunan Poedjosoebroto dan Oejeng S Gana! Buku sederhana dipelajari bocah-bocah. Ada halaman bercerita olah-olah. Cerita kecil: Wingi Marmi prei, marga dina akad. Sumarmi ngrewangi olah-olah ibune. Si bocah menikmati liburan di dapur. Ia tampak memarut kelapa. Bocah belum mengenal televisi. Ia tak bermalasan dengan “beribadah” di depan televisi menonton acara-acara untuk anak-anak dimulai sebelum matahari terbit. Sumarmi membantu ibu memasak itu selingan dari hari-hari harus belajar di sekolah. Di dapur, ia mungkin belajar beragam jenis masakan. Ia mau repot demi bisa mengartikan masakan atau makan secara wajar. Di situ, tak ada cerita Sumarmi minta duit, mau jajan ke warung. 

Di dapur, ia mungkin belajar beragam jenis masakan. Ia mau repot demi bisa mengartikan masakan atau makan secara wajar. Di situ, tak ada cerita Sumarmi minta duit, mau jajan ke warung. 

Di buku-buku masa lalu, bocah membaca cerita terjadi di rumah: memasak. Perjumpaan dengan benda-benda di dapur. Adegan-adegan mengerti tentang masakan. Kita memuji pilihan Marmi menikmati liburan Minggu di dapur. Kita tentu memuji si ibu memasak. Lho! Mereka tak pernah mengetahui bahwa para ibu dan anak pada abad XXI memiliki “janji” berbeda dari masa 1950-an dan 1960-an. Mereka kadang bermufakat: hari libur berarti libur memasak. Pilihan tergampang adalah membeli masakan matang, bersepeda dengan sarapan di pinggir jalan, atau menunggu makanan pesanan datang ke rumah. 

Kita kembali membuka halaman-halaman Bobo. Di lembaran beriklan makanan, bocah tergoda membeli dan menikmati. Kini, godaan itu teranggap kecil. Bocah-bocah keranjingan “makan” iklan di televisi dengan tuntutan pembuktian-pembuktian. Di hadapan gawai, bocah-bocah melihat para artis atau orang-orang kondang memasak. Mereka mengaku menonton untuk belajar atau hiburan, belum ada sangkaan cara itu menghasilkan untung besar bagi sekian pihak. Ibu pun turut menonton orang memasak di gawai. Memasak itu tontonan sejak lama, setelah tersaji di pelbagai stasiun televisi. Kita mengandaikan saat hari libur (pagi atau siang) ibu dan anak menonton di gawai. Dugaan lanjutan adalah mereka juga memasak. Dugaan wajib dihapus adalah ibu dan anak malah memilih memesan makanan dari warung atau restoran. Di rumah, mereka menunggu kedatangan makanan: bersantap meski bukan hasil masakan dari dapur. Begitu.      


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020), Tebit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

3 thoughts on “Memasaklah! Menontonlah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s