Mengelola Omongan Tetangga

Devi Puspita

SAYA selalu salut dengan ibu-ibu yang sabar, senyum cantik saat keadaan tidak mendukung. Apalagi dengan para ibu muda yang diterpa pertanyaan-pertanyaan sensitif tetapi masih bisa tersenyum lebar untuk menjawab. Suatu kali, ia main ke rumah teman yang baru pulang dari kampung halaman. Dia antusias menceritakan bagaimana pengalamannya saat ditanya, “Kok belum punya anak, nggak bisa buat ya?”

Beuh, ini kalau kita nggak ingat bahwa melempar orang pakai sandal itu dosa sudah kita lakukan ya ibu-ibu. Semua orang tahu kalau keturunan adalah kekuasaan Allah. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Bisa jadi mereka sudah berikhtiar semaksimal mungkin, sudah bermunajat tengah malam, sudah menangis saking inginnya. Sangat tidak pantas kalau kita menjadikan itu bercandaan atau ejekan. Lebih baik kita doakan dan beri semangat supaya tidak mrnyakiti hatinya. Silaturahmi pun juga tetap terjaga.

Ada lagi tetangga sebelah rumah yang berkeinginan untuk menjadi gemuk. Terus terang saya kaget karena saya melihat dia tidak kurus. Sampai saya tanya

“Loh Mbak, tingginya berapa?”, “Kalau tinggi 158, Mbak”, “BB-nya sekarang berapa?”, “52 Mbak. Segini terus nggak naik-naik”

Menurut saya BB 52 kg dengan tinggi 158 cm itu sudah ideal. Tapi ternyata oh ternyata yang menyebabkan dia ingin gemuk adalah saat pulang kampung, tetangganya banyak yang komentar tentang BB-nya. “Kok sekarang kurus, nggak betah ya di sana, nggak enak ya, nggak ini ya nggak itu ya?” Heee … sabar Mbak, sabaaar. Memang kita tidak bisa mengatur cara bicara orang lain.

Jika kita merasa sakit hati karena perkataan orang lain, maka kita bisa belajar untuk tidak berkata yang serupa, sebab tahu rasanya terluka. Kita kelola omongan yang negatif menjadi perilaku kita yang positif.

Foto dari @winagambus di google

Namun kita bisa mengatur diri kita sendiri untuk tetap tenang dan bersikap baik menghadapi kondisi apapun. Mencoba untuk mengucap “Alhamdulillah saya bahagia, idealnya memang segini, doakan sehat ya” sambil senyum sumringah. Meskipun dalam hati “Heeeeeeh …. your mouth!” Astagfirullah, istighfar. Lebih baik selalu bersyukur dengan senyum mengembang. Jika kita merasa sakit hati karena perkataan orang lain, maka kita bisa belajar untuk tidak berkata yang serupa, sebab tahu rasanya terluka. Kita kelola omongan yang negatif menjadi perilaku kita yang positif. Satu lagi, kalau sulit menerima omongan negatif, lebih baik cuek saja. Sikap bodo amat terhadap omongan negatif bisa membuat kita lebih fokus terhadap kualitas diri sendiri. Fokus terhadap hal-hal yang mampu menunjang kita untuk lebih baik lagi.


Devi Puspita, suka menulis dan bisnis (@daisyemeline.id @fans_project.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s