Sebab Nakal, Bergembira Saja

Ria Santati

PERNAH punya nama julukan di masa kecil? Julukan umumnya mengacu pada sifat, kebiasaan, atau bentuk fisik seseorang. Kalau nama julukannya Si Liar itu jelas arahnya ke mana. Susah diatur, pembangkang. Di mana ada masalah, di sana dia berada. Susahnya, kalau julukan itu disematkan pada anak umur 5 tahun. Apa tidak berlebihan? Wajarlah anak-anak nakal. Bermain lumpur, bergulung di balik seprei, menggali gundukan tanah untuk mencari cacing, sepertinya hal-hal biasa yang dilakukan anak-anak. Nenek punya julukan lain untuk Si Liar: “monster kecil penuh lumpur kotor”. Lihatlah isi tasnya: play doh, kelereng, kulit siput, daun dan ranting, panah dan anak panah Robin Hood, rambut palsu, kostum bajak laut, hingga satu toples penuh cacing. 

Wajar juga kalau kakak kesal melihat Si Liar bikin ulah. Bayangkan saja, kamar rapi diubah jadi lahan berkemah. Tak pelak, berantakan bagai kapal dihantam badai Lanina. Sprei jadi tenda, tumpukan kayu tua nangkring di atas karpet. Untuk api unggun! Semua tempat bisa dijadikan arena bermain. Di sekolah pun kakak harus menanggung malu karena adik bak jagoan menantang berkelahi teman barunya lantaran mereka berebut peran dalam drama sekolah. Memiliki adik yang kebangetan nakalnya, rasanya seperti bumi akan kiamat: ujian kesabaran yang bertubi-tubi. Masih ditambah derita teman sekelas yang dengan jahatnya menghakimi, membandingkan keluarganya yang aristokrat, menjunjung tinggi kesopanan.

Memiliki adik yang kebangetan nakalnya, rasanya seperti bumi akan kiamat: ujian kesabaran yang bertubi-tubi. Masih ditambah derita teman sekelas yang dengan jahatnya menghakimi, membandingkan keluarganya yang aristokrat, menjunjung tinggi kesopanan.

Memang dunia kanak-kanak dikelilingi orang dewasa yang sadar tak sadar menanam saham penting terbentuknya pribadi seorang anak. Bisa jadi orang dewasa itu macam Miss Deng, guru yang tak kompromi dengan ulah caper muridnya, seperti ratusan kali mengibaskan rambutnya yang (memang) indah saat pelajaran berlangsung. Sebaliknya, bu guru juga fair menanggapi gagalnya cat rambut Kate (kakak Si Liar) dengan tanggapan ringan: “… kita semua pernah mengalami eksperimen yang berantakan”. Kepercayaan diri Kate tidak hancur berkeping-keping. Di kelompok orang dewasa lain ada semacam Oma Julia, teman nenek yang gampang merajuk dan menjelekkan anak lain karena menyabot popularitas cucunya. 

Sebagai orang tua tunggal, Ayah adalah orang yang paling repot  menghadapi kenakalan Si Liar. Tapi Ayah tak pernah sungguh-sungguh mengeluh. Meski repot dan harus mengorbankan hobi musik bersama band kesayangnnya, ia rela mengerjakan semua hal sendirian mulai dari membereskan dapur hingga menanam kentang di pekarangan rumah.

Kesuksesan itu tidak ada hubungannya dengan menjadi anak alim, penurut, nilai selalu tinggi, atau selalu mendengarkan kata orang tua. Nyatanya meski dengan sedikit usaha berontak tak mau selalu disebut kakak yang bisa diandalkan, Kate berhasil menampilkan jati dirinya. Tentu dengan usaha dan peran ayah yang tak bisa disepelekan. Alih-alih marah melihat Kate mengecat rambut dengan aneka warna (ada warna ungu bercampur merah), ayah lebih memilih mengajak putri sulungnya itu berbincang tentang alasan di balik pengecatan itu. Anak mana yang tak meleleh dengan cara pendekatan ayah model begini? Pecahlah uneg-uneg yang selama ini terpendam, tentang kenapa semua orang lebih perhatian pada adik padahal jelas-jelas kenakalannya sangat merugikan dirinya sebagai kakak. Bukankah ia juga butuh perhatian dan didengarkan? 

Anak mana yang tak meleleh dengan cara pendekatan ayah model begini? Pecahlah uneg-uneg yang selama ini terpendam, tentang kenapa semua orang lebih perhatian pada adik padahal jelas-jelas kenakalannya sangat merugikan dirinya sebagai kakak. Bukankah ia juga butuh perhatian dan didengarkan? 

Bagi ayah, Kate dan Josephine dengan caranya masing-masing, sepakat, apa asyiknya menjadi keluarga dan pribadi yang sama dengan orang lain? Jelas-jelas itu ibarat produk masyarakat yang mendikotomi hidup berkeluarga versus melajang, kerja kantoran versus seniman, berlibur menginap di hotel versus berkemah di pinggir hutan. Soal berkemah kita sudah tahu: udara dingin, alas tidur berbatu yang bikin punggung sakit, kaos kaki basah, mau mandi harus menerjang tanah berlumpur dan seterusnya. 

Ayah, kepala keluarga, toh mau kedua putri pujaan hatinya itu menjadi diri mereka sendiri, alih-alih anak yang sopan. Eh, apa sih definisi sopan? Masyarakat internasional sepakat sopan itu kalau makan tidak berbunyi, mulut tertutup, tak mengeluarkan suara kecap-kecap apalagi berbincang saat nasi masih penuh di mulut. Segala keunikan dan berantakan itu terbaca dalam novel berjudul Adik Paling Badung Berkemah (2015) gubahan Emma Barnes.

Mau ayah adalah kedua putrinya hidup wajar berkembang biasa saja. Gak muluk-muluk cita-cita ayah, misalnya dua putrinya bisa membedakan yang baik dan jelek untuk dilakukan dengan memikirkan dampaknya bagi orang lain. Ayah juga lebih memilih mereka tumbuh menjadi dirinya sendiri. Itu sebabnya pula, ayah langsung menolak tawaran kepada dua gadis kecilnya masuk dunia entertain. Kalau  zaman sekarang jadi artis Tiktok. Bisa-bisa kehilangan selera berkemah atau lupa cara memanjat pohon atau bahkan pergi sekolah (bagi ayah, sekolah penting sekali!). Dapat ribuan follower, dibanjiri iklan, sehingga buat apa lagi sekolah, pusing njelimet dengan matematika? Kata ayah, masa kecil yang biasa itu penting.  Dan bermain di luar itu bagus dan sehat, jauh lebih sehat ketimbang menonton televisi atau bermain game. Tapi Ayah juga mengingatkan pentingnya ruang privasi saudara kandungnya sendiri. Jangan masuk kamarnya tanpa izin. 

Kata ayah, masa kecil yang biasa itu penting.  Dan bermain di luar itu bagus dan sehat, jauh lebih sehat ketimbang menonton televisi atau bermain game. Tapi Ayah juga mengingatkan pentingnya ruang privasi saudara kandungnya sendiri. Jangan masuk kamarnya tanpa izin. 

Nenek pun yang tadinya suka membandingkan cucunya dengan anak lain (tak jarang itu diucapkannya terang-terangan di depan banyak orang seakan nenek tak terima cucunya lebih memilih bermandi lumpur ketimbang berbalut seragam rapi), akhirnya harus mengakui, cucu-cucunya yang nakal lebih menyenangkan hatinya ketimbang anak-anak yang suka merajuk dan iri hati. Akhirnya mengakui sia-sia menganggap yang berbeda itu pasti jelek, pasti buruk.

Aku jadi teringat masa kanak-kanak yang sama sekali bukan anak manis dan penurut. Saat TK kerap di-setrap bu guru karena mengisi mulut penuh dengan sagon lalu adu jauh menyemprotkan dengan teman-teman, di dalam kelas. Atau sengaja tak gunting kuku setiap hari Senin supaya tak ikut pelajaran. Aku suka kepala sekolah yang mengajakku ngobrol macam-macam sambil aku menggunting kuku. 

Di kelas 2 SD, saat naik becak kami jadi korban tabrak lari. Kepala bapak bocor, tangan kiriku patah, tertindih becak. Dua bulan digips. Bapak membelikan mainan bahasa kerennya sekarang view master viewer, kamera yang di-ceklak-ceklik manual untuk bisa menemukan macam-macam gambar. Bapak miskin waktu itu. Pasti menyisihkan uang makannya untuk itu. Tapi bapak juga membiarkan aku panjat pohon mangga di samping rumah. Di usia SMP-ku, ia membuatkan rumah pohon di halaman belakang. Hanya papan kayu yang dipasang di pohon jambu dan diberi sedikit atap untuk mengurangi sengatan matahari. Di sana, aku bisa menghafal bahan ulangan dengan suara nyaring karena kakak tak bisa belajar dengan suasana berisik.

Temanku yang juga punya dua anak bilang anak nakal itu adalah anak yang mampu menemukan jalan ke kemungkinan-kemungkinan baru. 


Ria Santati, pengajar di SMA Regina Pacis Surakarta yang keranjingan origami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s