Dapur dan Meja Makan

Dwi Supriyadi

SEMULA aku berpikir, membangun pawon (dapur) adalah urusan sederhana. Tidak perlu berpikir rumit apalagi sampai njelimet. Yang penting ada kompor untuk memasak, tempat untuk cuci piring, dan meja makan. Apalagi jika mengingat dapur di rumah ibu, lebih sederhana dan klasik. Dapur dengan tungku yang terbuat dari tanah liat dan batu bata. Bahan bakarnya menggunakan kayu. Ketika memasak, asapnya tebal hingga membuat sesak dan pedih di mata bagi yang belum terbiasa. Meski begitu, kami anak-anaknya tetap merindukan dapur ibu.

Dalam falsafah Jawa, asapnya menjadi “penanda” kehidupan sebuah rumah: kendil ora ngguling. Sebuah rumah masih berlangsung aktivitas memasak. Artinya hari ini ada yang dimakan. Tersedia beras untuk dimasak di kendil, untuk santapan keluarga. Di dapur ibu juga ada dipan dan rak dari bambu tempat menyimpan perabot: dandang, ceret, kuali, kendil, cobek, toples-toples kue dari kaca, dan juga lumpang untuk menumbuk.

Setelah sekian lama menabung, (saat itu) rencana membangun dapur sebentar lagi akan terlaksana. Apakah aku akan membuat dapur seperti punya ibu? Atau membuat dapur sok modern? Obrolan panjang, rembug dengan istri dan keluarga pun terjadi. Dapur haruslah modern! Aku baru sadar, ternyata urusan membangun dapur bukan urusan sepele. 

Obrolan panjang, rembug dengan istri dan keluarga pun terjadi. Dapur haruslah modern! Aku baru sadar, ternyata urusan membangun dapur bukan urusan sepele. 

Bahkan beberapa teman bercerita, membuat rancangan dapur menjadi prioritas utama melebihi ruang utama. Tren masa kini memang menempatkan dapur tidak lagi menjadi urusan belakang. Gengsi sang pemilik rumah menjadi kunci. Gaya hidup modern menggiring dapur masuk ke ranah life style yang identik dengan mewah, glamour, dan modern. Dapur diciptakan dengan cita rasa dan nilai seni tinggi: estetis, fungsional, modern, dan nyaman. Harus begitu, karena dapur menjadi penanda kelas.

Novel Para Priyayi (Umar Kayam) menjadi bukti. Seseorang dari golongan priyayi atau bukan dapat dilihat dari kecakapan dan keprigelan-nya di dapur. Jika wanita dari golongan priayi, ia akan menjadi istri yang mumpuni untuk memasak, mengatur meja makan, menaruh piring telungkup, garpu dan sendok di sebelah kanan piring, gelas di sebelah kiri piring, serta merapikan serbet. Kita pun bisa melihat kepriyayian seseorang dari perkakas rumah tangga yang digunakannya.

Abad mutakhir, media semakin memegang peran besar dalam urusan dapur. Majalah, koran, televisi, terlebih setelah adanya internet memunculkan desain dapur modern secara berkesinambungan. Mata dimanjakan dengan tampilan dapur mewah. Lihatlah, konsep kitchen set yang dilengkapi dengan perkakas modern, seperti kompor gas atau listrik, cooker hood (penghisap asap), pencuci piring (dishwasher), kulkas, oven, microwave, dan sink (bak cuci piring) dengan berbagai model kran, laci, drawers, dan automatic stopper

Fungsi dapur semakin melebar dari semula sebagai tempat mengolah makanan, menjadi bagian rumah yang perlu ditonjolkan kepada tamu. Tamu harus kagum dan merasa wah. Dapur menjadi bersih dan nyaris tidak ada bahan makanan karena yang ditonjolkan adalah keindahannya bukan aktivitasnya. Bahan makanan telah disimpan dalam perkakas modern dengan pendingin dan penghangat otomatis.

Membangun dapur modern tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ikhtiarku menabung ternyata belum cukup. Beruntung ada yang berbaik hati meminjami uang. Kini dapur sudah jadi, meski perabotan belum lengkap. Namun sudah cukup untuk memasak kebutuhan harian. Dapur sudah dilengkapi kursi dan meja makan. Lumayan sebagai tempat ngobrol ngalor-ngidul, rerasan antara ibu, anak, dan siapapun yang menemani memasak. 

Sejak lama, masyarakat Jawa memang menempatkan dapur dan bagian belakang rumah sebagai tempat aman untuk berkumpul dan bercanda (ngudoroso) antara simbok dan anak-anaknya. Bahkan dapur menjadi sarana untuk berkomunikasi dengan tetangga, tukar-menukar makanan, dan bumbu masakan. Berbagai informasi (gosip) juga kerap diedarkan melalui bagian belakang rumah. Pintu belakang rumah Jawa tidak hanya akses untuk pergi ke belakang rumah. Pintu belakang adalah akses untuk menyalurkan hal-hal yang tidak bisa dilakukan melalui pintu depan.

Dapur menjadi tempat istimewa bagi istri (seorang ibu). Di dapurlah, ibu memulai hari bahagia! Ia bangun lebih awal dan memulai hari di dapur. Memasak air, menanak nasi, mengolah sayur, dan membuat lauk. Memasak di dapur bukan sekedar urusan makanan. Ada energi, doa, dan harapan dari seorang ibu untuk anggota keluarga, saat ia menyiapkan sarapan. Meski beberapa ibu masa kini lebih suka belanja sayur dan lauk di warung. 

Memasak di dapur bukan sekedar urusan makanan. Ada energi, doa, dan harapan dari seorang ibu untuk anggota keluarga, saat ia menyiapkan sarapan. Meski beberapa ibu masa kini lebih suka belanja sayur dan lauk di warung. 

Kini dapur bukan lagi dominasi perempuan. Laki-laki tidak tabu lagi berada di dapur. Urusan memasak memang bukan melulu urusan perempuan. Sampai di sini, kembali peran media sangat besar, hingga perlu sebuah kompetisi memasak antara laki-laki dan perempuan.

Saat makanan telah tersaji, edisi makan bersama menjadi sesuatu yang istimewa. Meja makan dan adegan makan sering menjadi ritual sakral bagi sebagian keluarga. Mempelajari bahasa, budi pekerti, dan kearifan hidup. 

Kita bisa memaknai betapa pentingnya meja makan dalam film Yang Tak Tergantikan (2021) garapan Herwin Novianto yang dibintangi oleh Lulu Tobing (Aryanti). Film ini mengisahkan tentang ibu single parent yang menghidupi ketiga anaknya. Anak pertama laki-laki sudah bekerja, anak kedua perempuan kelas 12, dan anak ketiga perempuan kelas 10. Tak ingin anak-anaknya turut merasakan penderitaan yang dialami, Aryanti menutup rapat alasan berpisah dengan sang suami. Meski mereka didera problematika hidup yang pelik dan bertubi-tubi, namun semua bisa dibicarakan dan menemukan solusi di meja makan. Meja makan menjadi tempat sakral antara Aryanti dan anak-anaknya untuk saling berbagi beban hidup dan mendukung.

Dalam film Moon Cake Story (2017) garapan Garin Nugroho yang dibintangi oleh Bunga Citra Lestari (Asih) dan Morgan Oey (David), kita juga bisa menemukan kisah serupa. Asih, ibu single parent, yang menghidupi satu anak dan adiknya. Kita bisa menyaksikan adegan betapa istimewa memiliki sebuah meja makan. Hingga menjadi cita-cita anaknya Asih yang masih SD. Ia sangat menginginkan meja makan bukan karena fungsinya meletakkan makanan. Tapi ia ingin makan bersama dengan semua anggota keluarga setelah seharian beraktivitas. Meja makan juga menjadi tempat memanjatkan doa dan menebar harapan agar menuai masa depan yang lebih baik. Namun cita-cita itu tidak juga kesampaian. Hingga di akhir film kita ditampilkan adegan keluarga yang bercengkerama dan berdoa di meja makan.

Meja makan juga bertebaran di novel-novel. Salah satunya garapan Tere Liye berjudul Pukat, Serial Anak-Anak Mamak (2010). Kita bisa merasakan adegan makan bersama sebagai sebuah ritual yang sangat berharga dan menyenangkan. Pukat dan saudara-saudaranya selalu menikmati makanan yang dibuat mamaknya. Mereka juga belajar bagaimana menghargai sebutir nasi. Petani menghasilkan padi dengan kerja keras kemudian ibu mengolah makanan dengan kasih sayang hingga sampai di meja makan.

Dapur dan meja makan memang bukan sekadar urusan makanan. Dapur dan meja makan adalah tempat suci dan sakral. Di sanalah, ibu (juga ayah) menabur kasih sayang untuk semua anggota keluarga lewat makanan. Semoga ibu-ibu (sesibuk apapun) tetap menyempatkan ibadah di tempat sakralnya: dapur. Agar meja makan tidak kosong dan selalu ada senyum saat anggota keluarga membuka tudung saji.


Dwi Supriyadi, penulis cerita anak dan pendongeng, tinggal di Boyolali.

Dwi Supriyadi

Penulis cerita anak dan pendongeng, tinggal di Boyolali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s