Tangi

Bandung Mawardi

DULU, Mbok Jinah mengajarkan pagi. Ia tak menjelaskan dengan tiga paragraf. Tatapan mata dan sedikit kata sudah mencukupkan pengajaran pagi. Dingin dan sepi mengesahkan Mbok Jinah membangunkan anak-anak. Sebiji kata terampuh, berulang terucap: tangi. Di telinga, kata itu sudah terdengar ratusan kali. Mbok Jinah tak pernah mau memberi tafsiran atau mendongengkan tangi. Urusan terpenting adalah membuat “keramaian” dan “kesibukan” sebelum matahari terbit. Tangi, kata milik kamus? Dulu, si penulis menganggap kata itu gangguan, kemarahan, perintah, atau siksaan. Tangi menjadi bermakna bila terucap keras. Kata bukan tercantum dalam puisi lembut. Di rumah, tangi terucap Mbok Jinah bertanda seru.

Kata itu lama termusuhi saat si penulis berstatus ragil dalam keluarga memilih hidup menjadi umat malam dan dini hari. Ia sering berkumpul dengan para lelaki di perempatan atau emperan. Janji keparat sekian tahun. Mereka memusuhi pagi dengan menjadi “jamaah remi dodokan”. Permainan kartu dengan hukuman jongkok membuat malam dan dini hari haram sepi dari tawa, pisuhan, lelucon, atau lagu. Mereka sering membuat kemanjaan: kopi, gorengan, rokok, cemilan, dan tape-recorder. Hari demi hari, mereka dimusuhi warga merasa terganggu. Eh, orang-orang bersarung atau mengenakan rukuh berjalan menuju masjid untuk salat subuh, mereka pulang ke rumah masing-masing bersumpah mau tidur. Sekian jam sedang memejamkan mata, si ragil mendapat ucapan paling puitis dari Mbok Jinah: tangi. Hari-hari menjadi buruk gara-gara salah mengerti tidur dan tangi.

Sekian tahun berlalu, tangi perlahan dimiliki tanpa ucapan. Tangi terbatinkan berbarengan mengalami waktu-waktu terindah. Tangi itu kehendak, bukan paksaan atau perintah militeristik. Tangi. Ia mulai berpikiran ajaran tangi tersampaikan melalui cerita atau lagu-lagu anak, dari masa ke masa. Curiga. Apakah tangi itu tema penting, pesan terwajar bagi bocah-bocah dalam membentuk biografi? 

   

Ia mulai berpikiran ajaran tangi tersampaikan melalui cerita atau lagu-lagu anak, dari masa ke masa. Curiga. Apakah tangi itu tema penting, pesan terwajar bagi bocah-bocah dalam membentuk biografi?     

Ibu Sud menggubah lagu berjudul “Pagi-Pagi”. Di TK atau SD, lagu itu jarang terdengar. Lagu tak terkenal. Di buku berjudul Kutilang (1979) berisi lagu-lagu gubahan Ibu Sud diedarkan ke ratusan perpustakaan SD, kita menemukan lagu memuat lirik sederhana. Lagu mengesankan tanda seru. Kita membaca lirik: Bangun! Bangun! Hari sudah siang/ Ayo, kawan kami, segeralah jaga/ Lekas! Lekas! Lekas! Bekerja!/ Jangan turutkan watak yang malas. Duh, Ibu Sud sedang “kejam”. Lagu panen tanda seru. Mbok Jinah tak pernah menjadikan tangi itu lagu. Pengucapan tangi bertanda seru tapi bisa terasa mantra. Mbok Jinah bilang tangi. Ibu Sud bersenandung bangun. Semua anggaplah merdu.

 

Pengajaran tangi berarti diawali tidur. Ah, kita memiliki sekian lagu tidur atau menidurkan. Lagu dambaan ketimbang tangi. Tidur disenandungkan bertambah khasiat. Di Indonesia, para penggubah lagu justru sering mengajak tidur ketimbang tangi. Keluarga dan sekolah turut bersalah setelah mengagungkan dan mementingkan lagu-lagu tidur. Bocah-bocah terbujuk memilih menikmati kemerduan untuk atau sebelum tidur. Oh, lelap. Oh, bermimpi indah. 

Kita berganti mengingat warisan AT Mahmud. Lagu pendek berjudul “Tidurlah, Sayang.” Lagu untuk bocah, bukan kekasih pujaan. Pilihan kata dan kemerduan bermisi si anak lekas tidur: Tidur, sayang/ tidur, lucu/ tidur nyenyak di pangkuan/ anak manis kesayangan ibu/ tidur nyenyak di pelukan/ Hari esok pasti datang/ gembiralah bermain lagi/ Anak manis kesayangan ibu/ tidurlah sepuas hati. Pengajaran penting dan bermakna: tidur. Lagu termuat dalam buku berjudul Pustaka Nada (2000). Eh, anak bertambah umur tetap saja ketagihan lagu. Ketagihan pula tidur. Ketagihan tidur tapi belum tentu penganut ajaran tangi.  

Ibu, sosok menentukan dalam pengajaran tidur dan tangi. Pada masa kuliah, si ragil sering melek sampai sepi dan dingin. Di kamar berantakan buku, majalah, dan koran, si ragil kebangetan membaca buku dan menulis. Ia rajin merokok. Jendela kamar sering dibuka demi bisa melihat malam dan memiliki hawa dingin. Korden sering dibuka oleh Mbok Jinah sambil mengucap: leren dan turu. Suara Mbok Jinah biasa mengalahkan kenikmatan mendengar keroncong, langgam, jazz, atau blues. Malam kadang cengeng saat mendengar lagu-lagu kenangan milik kaum kasmaran. Ia mustahil bisa berbahasa Inggris atau mengerti isi lagu. Telinga tetap saja menerima lagu-lagu dari negeri jauh: First Love, Feelings, If Love is Blind, Careless Wishper, Hello, Eternal Flame, dan lain-lain. Pada suatu masa, lagu-lagu itu membenarkan lakon sebagai pedagang kaset bekas, selain berdagang buku bekas. Semua lagu tak pernah dimengerti itu kalah oleh ucapan Mbok Jinah: turu, leren, dan tangi

Tahun-tahun berlalu. Kini, ia adalah bapak. Ia bingung dengan tiga kata. Ia tak pernah bisa membuat lagu-lagu bertema tidur atau tangi. Dulu, ia terkesima  buku berjudul Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali (2011) garapan Goenawan Mohamad. Buku ingin puitis dan filosofis. Pagi menghasilkan buku. Si ragil masih saja meragu membuat tulisan sekian halaman bermula dari Mbok Jinah dan tangi. Tulisan mungkin menjadi cerita anak atau esai ora nggenah saat jutaan orang tak menginginkan pagi alias memusuhi tangi. Mbok Jinah tak berurusan dengan buku dan filsafat pagi dipikirkan kaum “intelektuil” dan pengarang-pengarang kondang. Mbok Jinah mungkin lega bila tangi perlahan dimengerti si ragil tapi telat, setelah diri terlalu lama mengabaikan pagi. Begitu.     


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s