Ibu Terderitakan Rokok

Aryani Wahyu

DULU, aku mencintai rokok. Ia bisa sebagai kawanku ketika etok-etoke saya harus konsentrasi berpikir. Bukan seorang yang nyandu, lebih kepada kuhisab ketika sedang membutuhkan saja. Mungkin masih banyak stigma di masyarakat yang memandang perempuan merokok itu tabu. Tapi, ingatkah kita kepada mbah-mbah di pasar yang kebanyakan masih nginang atau merokok tingwe (nglinting dewe). Rokok sudah menjadi nyawa bagi penggemarnya. Mungkin saya bukan termasuk penggemar yang fanatik. Pun dari dahulu, ketika masih gadis maupun sampai sekarang sudah dipinang oleh seorang lelaki yang nyandu rokok. 

Rokok begitu kuat seperti pelet. Ia mampu menjerat dan melekat pada para pecinta dengan pesonanya. Rokok hadir dalam rumah tangga pula. Ketika rumah tangga dihadapkan pada posisi kekurangan dan belum stabil dalam finansial selama masa pandemi, rokok masih saja datang sebagai “barang ketiga” dalam suatu hubungan suami-istri. Rokok mampu mencipta prahara rumah tangga. Ketika si istri berusaha kuat untuk mencari tambahan pemasukan dalam keluarga, si suami dengan entengnya tetap melakukan ibadah ngopi dan merokok, yang seolah menjalani dunia ini tanpa ada halang rintang permasalahan. Mengalir bagaikan air, berembus halus bagaikan angin sepoi-sepoi. Istri gemas melihatnya? Tentu saja!

Ketika si istri berusaha kuat untuk mencari tambahan pemasukan dalam keluarga, si suami dengan entengnya tetap melakukan ibadah ngopi dan merokok, yang seolah menjalani dunia ini tanpa ada halang rintang permasalahan. Mengalir bagaikan air, berembus halus bagaikan angin sepoi-sepoi. Istri gemas melihatnya? Tentu saja!

Cemburu dengan si rokok? Amarah memuncak ketika pikiran istri diarahkan menuju perilaku merokok itu layaknya membakar uang. Setiap hisapannya adalah lembaran uang Rp 10.000-50.000 untuk dilumat habis oleh bara api yang disulut di bibir. Sedih! Pikiran sang istri pastilah eman. Lebih baik uang itu untuk segala kebutuhan rumah. Untuk masak, beli bumbon, beli jajanan anak, atau membuat camilan yang sekiranya layak untuk dinikmati bersama. Bukan menjadi satu sikap egois yang dinikmati sendiri oleh pak-suami. 

Pak-suami rela melakukan gerakan mogok makan demi mulutnya tetap ngebul. Sementara dapur istri mulai meredam kebulnya. Rengekan anak meminta jajan menjadi pemicu istri makin membabi buta untuk meraung, meratapi menghadapi kenyataan tak bisa membelikan jajanan demi keberlangsungan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. 

Pernahkah suami pecandu rokok berpikir sampai di sini? Ia menjelma menjadi lelaki yang “supertega”. Yang penting kebutuhannya tercukupi dahulu. Upaya sang istri membuka forum diskusi tentang gerakan penghematan rokok kepada pak-suami akhirnya mental. Dan, berakhir dengan pertengkaran hebat. Rokok pasti tersenyum lebar karena merasa sebagai pemenang, merasa dibela oleh sang pemuja. 

Sang istri semakin geram. Usahanya tak berhasil dengan baik. Akhirnya, langkah terakhir hanya dia memendam perasaannya. Membendung amarahnya, dan menekan segala perasaannya. Amarah diarahkan kepada anak yang tak tahu-menahu. Atmosfir rumah menjadi kacau balau. Seperti suasana dalam game peperangan. Begitu berlanjut setiap hari, tanpa suami mau mendengarkan atau berusaha berhemat dan mengurangi. Seolah ini sudah menjadi hal yang wajar dan pantas untuk dipertahankan. 

Kemungkinan, kalau si rokok ini adalah seorang perempuan berambut panjang, pastilah sudah dicabik-cabik oleh samg istri. Sebab, ia mampu mengendalikan suaminya lebih dibandingkan dirinya sendiri. Bisakah ibu bahagia dengan cara seperti ini? Sepertinya tidak. Apapun yang ditahan dan tak diungkapkan pasti akan menjadi bom waktu suatu hari nanti. 

Istri semakin membenci rokok. Membenci diperlakukan tidak adil dalam rumah tangga. Pengalaman tak nyaman ini juga terlebih sudah dialami sang istri zaman tinggal bersama ayah kandung dan ibunya. Peristiwa dan kejadian sama pernah terjadi dahulu dan sekarang terulang kembali. Muak? Jelas!

Ternyata, rokok tak hanya mampu membunuhmu, namun ia mampu menimbulkan siksaan perkara-perkara kecil dalam hidup. Sedikit demi sedikit, ia timbun masalah, dan lama-kelamaan timbunan permasalahan menjadi lebih besar. 

Rokok sudah seperti malaikat pencabut nyawa. Ia tak hanya mengeksekusi si pecandu namun orang-orang di sekelilingnya juga


Aryani Wahyu, ibu dan pengusaha yang suka baca tulis.

FB: Aryani Wahyu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s