Oh Pohon, Jembatan, Angin, Rumput

Setyaningsih

ALAM mendiami puisi. Bahasanya dibentangkan oleh semak, kalanjana, pohon, udara, mentari, rumput, semut, bukit, langit, sungai. Meski dunia ini semakin cepat digerakan oleh gagasan futuristik-teknologis, ia tidak pernah lepas dari fondasi alam. Tidak mengherankan jika kumpulan puisi The Random House Book of Poetry for Children: A Treasury of 572 Poems for Today’s Child (Random House, 1983) yang diseleksi oleh Jack Prelutsky dan diilustrasi oleh Arnold Lobel menaruh puisi-puisi alam di bagian pertama.

Sering tidak terjelaskan, anak-anak begitu cepat dan secara naluriah cepat karib dengan alam. Terjadi begitu saja. Alam, seperti juga anak-anak memang mengejutkan, menyimpan banyak ketidakterdugaan, punya rahasia, dan melakukan banyak pekerjaan (gerak). Di sini, puisi-puisi alam kuat mengajak indera untuk menangkap setiap bentuk dan warna. Pendekatan fisik dipilih karena dampak mengalami lebih diinginkan daripada sekadar membayangkan. Namun, bentuk dan warna sering tampil sangat harfiah, tidak menghilangkan permainan analogi. Seperti puisi “Dandelion” garapan Hilda Conkling yang sederhana dan lucu ini. O little soldier with the golden helmet,/ What are you guarding on my lawn?/ You with your green gun/ And your yellow beard,/ Why do you stand for stiff?/ There is only the grass to fight! (Oh, tentara mungil dengan helm emas,/ Apa yang sedang kamu jaga di halaman rumputku?/ Kamu dengan senapan hijau/ Dan jenggot kuning/ Kenapa kamu berdiri kaku?/ Hanya ada rumput untuk dilawan!).

Pakar sastra anak, Donna E. Norton (1983), mengatakan anak menemukan perasaan sekaligus tindakan puitik. Anak-anak belajar tentang waktu, musim, warna, bentuk, analogi, ritme, binatang, tetumbuhan. Dari alam, selalu ada sukacita yang bisa direngkuh. Permainan kata menjadi mutlak. Anak-anak diajak meruangi bahasa. Tentu untuk alasan ekologis-kemanusiaan, alam harus dihormati, “not only a special way of looking at nature is required but also a special way of listening to nature.”  

Di puisi “Trees” (Pepohonan) garapan Sara Coleridge, pengetahuan tentang nama dan bentuk terjadi. Namun, puisi juga menampilkan kondisi, faedah, dan peristiwa yang berkisar di sekitar pohon. Pengetahuan dasar yang penting bahwa pohon tidak hidup sendiri dan tidak menghasilkan sesuatu hanya untuk kehidupan sesama mereka. The Oak is called the king of trees,/ The Aspen quivers in the breeze,/ The Poplar grows up straight and tall,/ The Peach tree spreads along the wall,/ The Sycamore give pleasant shade,/ The Willow droops in watery glade,/ The Fir tree useful timber gives,/ The Beech amid the forest lives. (Oak disebut raja pepohonan,/ Aspen bergetar tertiup angin,/ Poplar tumbuh kuat dan tinggi,/ Pohon persik menyebar sepanjang tanah/ Ara memberi keteduhan yang menyenangkan/ Willow terkulai di rawa/ Cemara memberi kayu yang berfaedah/ Pohon beech ada di tengah kehidupan hutan.)

Selain kebahasaan, nuansa ekologis dan biologis puisi alam di buku ini sangat ditujukan bagi anak-anak di Amerika atau Eropa. Alam mereka mutlak telah digodok bersama kesastraan. Namun, bagiku yang membaca puisi-puisi ini perlahan dari pinggiran Solo, Indonesia, gambaran alam terasa berbeda tapi tidak terasa asing. Begitu juga anak-anak Indonesia yang semakin fasih saja berbahasa Inggris, kemungkinan tidak akan gagal menemukan kesenangan dari puisi-puisi ini. Seperti ilmu fisika dasar yang muncul di puisi Christina Rossetti berjudul “Who has Seen the Wind?” (Siapa yang Telah Melihat Angin?). Berbobot keilmuan sekaligus bermakna.

Who has seen the Wind?

Neither I nor you:

But when the leaves hang trembling, (menggantung gemetar)

The Wind is passing through.

Who has seen the wind?

Neither you nor I: (bukan kamu ataupun aku)

But when the leaves bow down their heads, (menggugurkan diri)

The wind is passing by.

(Siapa yang telah melihat angin?/ Tidak juga aku ataupun kamu/ tapi ketika daun-daun menggantung tergetar/ Angin sedang lewat/ Siapa yang telah melihat angin/ Tidak juga kamu ataupun aku:/ Tapi ketika daun-daun bergerak menunduk/ Angin sedang lewat.)

Puisi mengingatkanku pada pengalaman pengasuhan nobelis dan genius fisika Richard P. Feynman. Di buku Feynman, Genius Fisika Paling Cool Sedunia (2006), Feynman mengatakan ia belajar tentang rasa humor dan empati dari ibu. Ayahnya mengajari melihat dan berpikir betapa menarik dunia ini. Kecintaan pada alam dilakukan lewat aktivitas sehari-hari; membaca buku, menjelajah hutan, mengamati burung, dan melakukan permainan-permainan kecil. Feynman kecil sering dipangku ayah dan dibacakan ensiklopedia Britannica. Di akhir pekan, ayah membawa Feynman pergi ke hutan kecil dan menceritakan hal-hal menarik yang ada dan terjadi di sana. Saat menyaksikan keelokan bunga atau tingkah burung, Feynman tidak sekadar diajari mengetahui nama. Jauh lebih penting mengetahui proses kerja, seperti “mengapa burung itu mematuk bulunya setiap waktu?”

Beberapa puisi sadar untuk bermain ritme dan rima. Jadi tidak akan seru dan main-main lagi kalau dipaksakan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, puisi “Ode to Spring” garapan Walter R. Brooks, O Spring, O Spring,/ You wonderful thing!/ O Spring, O Spring, O Spring!/ O Spring, O Spring,/ When the birdies sing/ I feel like a king,/ O Spring!

Aku menyadari alam kuat terhubung ke (kondisi) personal di puisi Kate Greenaway berjudul “On the Bridge” (Di Atas Jembatan). Menghadapi alam ataupun setiap prosesinya seperti setiap upaya mengenali (perjalanan) diri. Penyair menempatkan diri sebagai anak-anak dan juga sebagai orang dewasa yang berbicara kepada anak-anak. Ia seperti berjongkok dalam tubuh dewasa yang berlaku selayaknya anak. Demi diksi begitu sederhana tapi puitis dan punya peristiwa, aku merasakan getaran apa akhirnya.

If I could see a little fish—

That is what I just now wish!

I want to see his great round eyes

Always open in surprise

I wish a water-rat would glide

Slowly to the other side;

Or a dancing spider sit

On the yellow flags a bit.

I think I’ll get some stones to throw,

And watch the pretty circles show

Or shall we sail a flower-boat

And watch it slowly—slowly float?

That’s nice—because you never know

How far away it means to go;

And when tomorrow comes, you see,

It may be in the great wide sea.

(Jika aku bisa melihat ikan kecil—

Itulah yang kuharapkan sekarang

Aku ingin melihat matanya yang bulat besar

Selalu terbuka dalam kejutan

Aku berharap tikus air meluncur

Perlahan ke sisi lain

Atau seekor laba-laba menari

Aku pikir aku akan mendapat batu untuk kulempar,

Melihat pertunjukan riak yang cantik

Atau haruskah kita melayarkan perahu bunga

Dan melihatnya perlahan—mengapung lambat-lambat.

Elok—karena kamu tidak pernah tahu

Seberapa jauh ia pergi;

Dan ketika besok datang, lihatlah,

Ia mungkin telah berada di laut nan mahaluas.)


Setyaningsih, pekebun di sedekalacerita.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s