Islam Berkebudayaan dan Kebudayaan di Indonesia

Kiai Jadul Maula, Islam Berkebudayaan; Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, dan Kebangsaan, Pustaka Kaliopak, September 2019, xxvii +330 Halaman, ISBN: 978-623-240-030-6

PERTAUTAN antara agama Islam dengan budaya kerap menuai kritik, kadang malah menjurus pada konflik. Budaya dianggap, oleh sebagian afiliasi Islam, sebagai faktor penting yang tidak hanya mengaburkan ajaran agama Islam, tapi juga sebagai musuh utama yang patut untuk diperangi. Sementara afiliasi Islam yang di seberangnya memiliki pemahaman beda, yang lebih akomodatif dan ramah terhadap eksistensi budaya itu sendiri.

Kiai Jadul Maula, dalam bukunya bertajuk Islam Berkebudayaan; Akar Kearifan Tradisi, Ketatanegaraan, dan Kebangsaan, memberi segudang argumentasi soal posisi penting kebudayaan, tradisi, dan unsur lokal dalam agama Islam. Tentu kita semua mengetahui bahwa agama Islam diturunkan oleh-Nya kemudian didistribusikan tidak pada ruang kosong dan lepas dari hiruk-pikuk peradaban manusia. Tanah Arab saat itu memiliki paradigma, cara hidup, dan kebiasaan yang boleh dikata telah maju di sisi ekonominya, meski dari sisi moral cukup kalut.

Namun melalui kepiawaian Nabi Muhammad, lamat-lamat agama Islam bisa diterima dan belakangan menjadi faktor penentu dari kelanjutan peradaban di tanah Arab. Ragam kemajuan berupa perkembangan keilmuan, militer, perluasan wilayah, dan arsitektur bangunan menjadi bukti-bukti yang tidak bisa dinegasikan begitu saja. Kendati kemajuan itu juga harus beririsan dengan gejolak internal yang melulu dipicu oleh perebutan kekuasaan dengan mencari-cari legitimasi dari ayat-ayat suci. Maka mafhum jika setiap penguasa memiliki dalih dan mencari dalilnya sendiri demi kelancaran menuju kursi utama kerajaan.

Kejadian ini serupa seperti yang ada di Indonesia, meski titik tekannya berbeda. Sengketa kuasa dengan ayat di kitab suci memang tetap ada, hanya saja sebelum ke situ, akar budaya harus digencet habis-habisan dulu. Diksi sesat, bid’ah, zindik, kafir, dan musyrik kerap jadi label kala mendapati pagelaran budaya (hlm. 82). Padahal budaya menjadi jalan yang relatif mudah –untuk tidak mengatakan satu-satunya– dalam menemukan dan menentukan jati diri bangsa Indonesia.

Esai “Menghidupi Banyu Panguripan: Menyambut Tanda Alam, Menggapai Keabadian” ditulis untuk gelaran Festival Banyu Panguripan di Kota Kudus pada tahun 2019. Di dalamnya kita akan diberi terang bahwa air tidak hanya digunakan untuk mandi, minum, mencuci baju, lebih-lebih tidak untuk dikomodifikasi. Air, dalam tradisi lokal, dijadikan sebagai simbol oleh para arif untuk memudahkan memahamkan lawan bicaranya meniti jalan liku menuju kepada-Nya.

Melalui Kitab Purana, air disebut sebagai tirta amerta yang sulit untuk diperoleh. Bahkan dewa dan asura harus bersama berjerih payah mendapatkannya di kseragara (samudera susu) demi mencapai keabadian. Pada akhirnya tirta amerta muncul dari kseragara dan segera diminum oleh para dewa, tanpa menyisakannya untuk asura (hlm. 105). Cerita ini menjadi simbol bahwa dalam diri manusia memiliki potensi untuk berbuat baik-buruk sekaligus. Dominasi perbuatan baik akan menghantarkan ke keabadian atau surga, sedangkan dominasi perbuatan buruk akan menghantarkan ke kehancuran atau neraka.

Bagi saya buku ini menjadi pemandu untuk menemui ragam kebudayaan dan tradisi lokal di sembarang tempat. Saya seperti diajak menziarahi melalui kata dan imajinasi. Kiai Jadul Maula menjelaskannya dengan cara yang tidak saja apik, tapi juga membuat saya manggut-manggut terhadap interpretasi barunya yang lebih arif.

Saya seperti diajak menziarahi melalui kata dan imajinasi. Kiai Jadul Maula menjelaskannya dengan cara yang tidak saja apik, tapi juga membuat saya manggut-manggut terhadap interpretasi barunya yang lebih arif.

Dalam esai “Orientasi Islam Nusantara”, pembaca diajak menyelami khazanah peradaban Aceh melalui naskah-naskahnya. Paduka Sri Sultan ‘Alaidin Johan ‘Ali Ibrahim Mughayat Shah melalui manuskrip pendirian kerajaan yang disebut Pohon Kerajaan menyatakan, bahwa syara’ dan adat saling terkait, tidak berdiri sendiri-sendiri, apalagi dihadapkan sebagai sesuatu yang bersebarangan (hlm. 126). Adat sebagai penopang keberlangsungan syara’, sementara syara’ sebagai penguat adat yang telah ada jauh sebelum agama Islam datang.

Serupa dengan naskah-naskah Aceh, naskah-naskah Buton juga mendapatkan porsi ulasan. Melalui Hikayat Sipanjonga pembaca diajak berkelana ke masa silam, saat kali pertama agama Islam lahir dan tumbuh di Buton. Kendati naskah ini merupakan ingatan yang diwariskan secara turun-temurun (hlm. 175), namun itu sudah cukup menjadi lentera untuk menelisik lebih jauh kondisi agama Islam di Buton pada masa itu. Hal ini mengingat jamak didapati para pembaca sejarah, penelitian yang dilakukan, dan ragam literatur yang dihasilkan berkaitan dengan agama Islam di Indonesia melulu terkonsentrasi di Pulau Sumatera dan Jawa. Pulau Sumatera sebagai pintu masuk agama Islam kali pertama, sedang Pulau Jawa sebagai wilayah yang menjadi babakan peradaban agama Islam setelahnya melalui peran sentral walisongo.

Seperti yang telah dinyatakan oleh banyak orang, bahwa keberhasilan dakwah walisongo di Pulau Jawa tidak terlepas dari keterlibatan budaya dan tradisi yang telah ada sebelumnya. Apa-apa yang baik, bisa dialihkan maknanya, dan diubah sedikit sistem penyelenggaraannya akan digunakan oleh walisongo sebagai piranti untuk berdakwah. Dan ini terbukti dengan berbondong-bondongnya masyarakat untuk masuk dan mengikuti ajaran yang termaktub dalam kitab suci umat Islam.

Salah satu prototipenya ialah gelaran wayang. Gelaran ini tidak hanya menjadi hiburan semata, namun juga menjadi wajah dari laku manusia untuk menemukan kesejatiannya. Tokoh wayang ditafsiri oleh walisongo sebagai bagian integral dalam kedirian manusia. Seperti misal Yudhistira sebagai pernapasan, Bima sebagai pendengaran, Arjuna sebagai penglihatan, Nakula sebagai lidah, Sadewa sebagai kulit, Karna sebagai keseimbangan, Sembadra sebagai perasaan, Kresna sebagai pikiran, Baladewa sebagai batin, dan dalang sebagai ruh. Kemudian Jamus Kalimasada yang kerap dimaknai kalimat syahadat (dizkir) menjadi pusaka yang melekat pada Yudhistira (hlm. 296). Maka manusia dalam hidup sepatutnya tidak lepas dari dzikir di mana pun dan kapan pun, karena dzikir telah menyatu dalam pernapasan manusia.

Melalui walisongo ini kita dapat memahami bahwa budaya tidak semata-mata dinilai percuma dalam perkembangan agama Islam. Budaya dijadikan piranti dakwah yang kemudian membentuk cara beragama umat Islam di Indonesia yang unik, ramah, dan khas. Begitu.


Ahmad Sugeng Riady, Masyrakat biasa merangkap marbot masjid di pinggiran kota

HP: 0857-8603-9331

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s