Keluarga (Mi) Indonesia

Bandung Mawardi

HARI demi hari masih hujan. Orang-orang menikmati hujan dengan tidur, minum teh, menonton televisi, membaca buku, makan pisang goreng, ngalamun, pacaran, mendengarkan radio, menonton film, atau menggubah puisi. Hujan “deras” makna. Sekian bulan lalu, hujan berarti makan mi dadakan alias instan. Pemandangan dalam iklan di televisi. Publik diajak merasakan kehangatan dan kenikmatan saat hujan. Makanlah mi! Terserah! Mi rebus boleh. Mi goreng boleh. Sekian bulan sering hujan, perusahaan mi beragam merek dan rasa panen keuntungan. Hujan itu mi. Pengertian baru setelah masa 1980-an dan 1990-an, iklan-iklan mi bertema keluarga: gembira, bahagia, dan sadar selera.

Sekian bulan sering hujan, perusahaan mi beragam merek dan rasa panen keuntungan. Hujan itu mi. Pengertian baru setelah masa 1980-an dan 1990-an, iklan-iklan mi bertema keluarga: gembira, bahagia, dan sadar selera.

Puluhan tahun, mi dalam bungkus turut membentuk dan mengartikan keluarga-keluarga di Indonesia. Jadilah keluarga mi untuk bahagia dan merasakan enak bikin ketagihan! Masa demi masa, terbentuklah keluarga Sarimi, Supermi, Indomie, dan lain-lain. Dulu, mi-mi memiliki jenis rasa masih terbatas. Kini, ada puluhan rasa menggoda. Eh, ada serbuan rasa dari negeri-negeri asing! Konon, orang makan mi membuktikan memuja Korea gara-gara musik dan film. Lihatlah, iklan mi di Indonesia itu menampilkan artis-artis Korea! Makanlah mi serasa berada di Korea. Menontonlah drama Korea sambil makan mi! Menontonlah rekaman konser para artis Korea sambil makan mi!

Kita makin digoda gandrung mi. Keluarga Indonesia telah lama menjadi keluarga mi dadakan. Di rumah, mereka kadang memiliki tandon mi. Pada masa sebelum muncul beragam merek dan rasa, keluarga-keluarga cuma mengerti mi dengan rasa kaldu ayam atau ayam bawang. Episode itu masa lalu, berganti pilihan rasa membingungkan bagi orang-orang ingin menikmati semua. Orang datang ke toko atau pasar: tengak-tengok. Walah, deretan kardus atau tatanan mi itu menggiurkan! Bungkus-bungkus beragam warna dan rasa. Mumet! Kita tak mungkin membeli mi semua rasa, makan dalam sehari. Kita bisa klenger demi menikmati rasa. Mampus! Wujud tetap mi tapi rasa dianggap mengisahkan Indonesia. Bingung bertambah dengan rasa-rasa baru dari negeri asing.

Kini, keluarga sulit mufakat. Di keluarga, bapak mungkin masih menganut selera lama. Ibu mungkin bergantian mencoba sekian rasa. Nah, bocah-bocah gampang kepincut iklan-iklan mulai memilih rasa-rasa aneh. Mi bukan lagi mengabarkan “persaturan rasa” keluarga. Sulit! Kita bisa dolan ke rumah-rumah tetangga atau teman. Buktikan! Mereka biasa memberi jawaban berbeda untuk rasa paling digemari. Urusan merek pun telah berbeda. Keluarga-keluarga Indonesia bisa “bertengkar” gara-gara rasa. Mulut-mulut mereka cerewet menjelaskan keunggulan, bermaksud menggoda pihak lain agar menjadi jemaah. Kesetiaan sampai mati dalam urusan rasa mungkin sulit berlaku. Keluarga dengan satu rasa itu mustahil. Kerepotan terjadi bila berbelanja ke toko atau pasar. Setiap orang menginginkan merek dan rasa berbeda. Eh, semua itu mula-mula dipengaruhi iklan. 

Pada suatu masa, penulis jarang bisa makan mi dadakan. Orangtua tak berduit untuk anggaran beli mi. Makan nasi saja! Kegembiran dengan mi biasa terjadi saat Lebaran. Bocah-bocah berduit berhak membeli mi di toko. Makan mi instan saat Lebaran itu kenikmatan. Wah, bocah ngileran nekat masak mi dua bungkus! Ampuh! Bocah-bocah tak mau repot memasak memilih adegan memukau. Bungkusan itu diremas. Bumbu dibuka untuk ditaburkan. Walah, mi instan dimakan mentah! Bocah-bocah memang sakti saat memiliki duit, bisa jajan apa saja. Mi dadakan saja dimakan tanpa terkena air. Mereka memiliki jurus demi kenikmatan.

Pak Mitro Dirin bersama cucu-cucu

Di rumah, ingatan mi itu Pak Mitro Dirin. Pada saat hari istimewa ada rezeki sekian rupiah, si ragil disuruh berbelanja mi teles, bumbu, sawi, dan lain-lain. Tempat berbelanja di toko Mbak Pur. Semangat! Hari itu bakal ada pesta makan mi rebus olahan Pak Mitro Dirin. Di wajan besar, mi diolah dengan bumbu-bumbu mantap, disajikan di belasan piring. Nikmat! Olahan mi rebus Pak Mitro Dirin kondang enak. Para tetangga pun tergoda. Pada hajatan kecil atau arisan, Pak Mitro Dirin kadang bertanggung jawab memasak mi disantap 20-an atau 30-an orang. Makan mi itu kebahagiaan.

Pada edisi berbeda, perubahan terjadi dalam keluarga setelah mi instan sering masuk rumah. Dulu, para penggemar mi biasa mengumpulkan bungkus-bungkus mi, setelah isi sudah dimasak. Iklan di toko atau radio membuat keluarga-keluarga Indonesia mengoleksi bungkus mi instan. Nah, mereka melipat rapi dimasukkan dalam amplop dikirimkan ke alamat sesuai pengumuman. Pengiriman juga bisa dilakukan melalui toko-toko. Keluarga-keluarga Indonesia makan mi dan bungkus-bungkus diharapkan mendatangkan hadiah. Kehadiran mi instan menjadikan adegan masak sering sendiri-sendiri. Tata cara berbeda dari hari-hari kenikmatan melihat Pak Mitro Dirin masak mi rebus di wajan besar. Kebersamaan saat makan makin terasa bila hujan. Serbuan mi-mi instan mengubah sikap dan penilaian “makan bersama” dalam keluarga.

Kita mengingat masa lalu di majalah Kartini, 19 Desember 1983-1 Januari 1984. Iklan membuat lapar. Indomie meraih International Food Award 1983 di Dusseldorf, Jerman Barat. Lihatlah, tatanan bungkus-bungkus Indomie masa lalu! Pada masa 1980-an, persaingan pasar mi instan belum terlalu sengit seperti sekarang. Ingatan milik kaum masa lalu: Sarimi, Supermi, Indomie. Kini, ada Mie Sedaap dan sekian nama. Bungkus-bungkus itu nostalgia. Kita melihat ada gambar pitik cilik, telur, tomat, dan lain-lain. Keluarga miskin bisa masak mi instan sudah senang tak keruan tanpa campuran apa-apa. Boros sering terjadi bila orang bersantap mi instan mengikuti gambar di bungkus atau iklan di televisi. Sekian campuran itu berharga lebih mahal ketimbang harga mi. Pesan Indomie di majalah Kartini boleh teringat lagi: “Indomie memang selalu seiring dengan derap pembangunan nasional demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.” Kita telat menduga bahwa mi bertema pembangunan nasional. Wah, mi rasa Orde Baru banget!  

Orang-orang sudah menghabiskan puluhan atau ratusan mi instan selama hidup tapi kadang tak pernah memiliki keinginan sinau tentang mi instan. Buku berjudul Mi Instan: Mitos, Fakta, dan Potensi (2016) susunan FG Winarno mengajak kita berpikir, tak melulu makan mi instan setiap hari. Di buku, terbaca keterangan: “Memasuki abad ke-21, mi instan dikenal sebagai produk pangan yang paling penting dan akan terus mendukung pemecahan masalah kekurangan pangan di dunia.” Pada abad XXI, mi instan masuk dalam lakon-lakon hidup keseharian, mulai hajatan bercap tradisi sampai memuaskan kegemaran memuja artis-artis Korea. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

One thought on “Keluarga (Mi) Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s