Pak Untung dan Sabar

Hilmahira Guddari

PAK Untung adalah pangggilan ngetren dari seorang bapak penjual bakso yang selalu bahagia. Dia membawa kebahagiaan bagi setiap orang di sekitarnya. Untung bukan nama aslinya. Banyak yang tidak tahu kalau nama aslinya adalah Suratmin. Kenapa Pak Suratmin lebih beken dengan panggilan Pak Untung, ya? Sebab, banyak orang yang mengenalnya, hampir di setiap kesempatan Pak Untung selalu dikelilingi keberuntungan. Orang Jawa bilang, bejo. Itulah mengapa nama itu melekat pada bapak paruh baya yang memiliki paras tampan seperti bintang sinetron itu.

Seperti pagi ini, ketika subuh menyapa, Pak Untung bangun dan menunaikan salat subuh berjamaah di masjid. Di dalam hati, Pak Untung mengatakan, “Kenapa pagi ini aku merasa sangat lapar, ya? Padahal, tadi malam aku makan malam,” jawabnya sendiri dalam hati. Setelah selesai menunaikan salat subuh, Pak Untung pulang melewati jalan biasanya. Lalu, ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.

“Pak Untung, Pak Untung, tunggu sebentar.”

Sontak Pak Untung menoleh ke belakang. Ternyata, Pak Roni yang memanggil. Ia terlihat membawa plastik berwarna biru di tangannya. 

“Ada apa, Pak Roni?” tanya Pak Untung dengan ramah.

“Ini Pak, istriku masak bubur ayam untuk acara pengajian pagi ini. Ia memintaku untuk memberikan bubur ayam ini kepada Pak Untung,” jelas Pak Roni.

Alhamdulillah. Pak Roni, terima kasih banyak, ya.”

“Sama-sama, Pak Untung. Semoga Pak Untung suka.”

Dengan penuh syukur, Pak Untung pulang membawa plastik berisi bubur ayam. Sesampainya di rumah, Pak Untung dan keluarganya makan bubur ayam dengan lahapnya.

“Rasanya, juara,” kata anaknya sambil tersenyum.

Dalam hati, Pak Untung mengatakan, “Semoga hari-hariku beruntung seperti keberuntunganku pagi ini.”

Siang harinya, seperti aktivitas sehari-harinya, Pak Untung berjualan bakso. Bakso Pak Untung selalu habis terjual. Warung baksonya selalu dibanjiri pembeli. Saat sedang asyik melayani pembeli, datanglah seorang wanita menghampirinya.

“Pak Untung, aku pesan bakso 100 porsi untuk acara arisan besok pagi, bisa? Diantar saja ya, ke rumahku di Kampung Durian, No. 13, sebelah gang ini,” jelas pembeli itu.

“Siap, Bu. Terima kasih pesanannya, ya.”

“O ya, ini uangnya saya bayar sekalian. Jadi, besok Pak Untung tinggal mengantar bakso ke rumah saya,” kata ibu pembeli sambil mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu. Pak Untung senang sekali. Hari ini, dagangannya laris dan ada pesanan bakso yang besar.

Sorenya, dengan semangat Pak Untung pergi ke pasar untuk berbelanja bahan bakso seperti biasanya. Ia selalu memilih berbelanja bahan bakso sendiri karena ia yakin, bahan yang berkualitas akan menghasilkan bakso yang berkualitas super juga. Sore ini belanjaan Pak Untung banyak sekali karena ada tambahan pesanan bakso. Pak Untung melirik jam tangannya. “Wah, sudah jam 16.30. Aku harus bersegera karena harus ke tempat penggilingan daging.”

Dengan mengendarai motornya, Pak Untung sampai di tempat penggilingan daging tepat pukul 16.30. Pemilik toko sudah mulai membersihkan kedai penggilingan dagingnya. 

Assalamu’alaikum, Pak Amin. Maaf, seperti biasa, aku mau menggiling daging. Masih bisakah?” tanya Pak Untung yang masih di atas motor. 

“Kok lebih sore dari biasanya? Hampir saja aku tutup, Pak,” jawab Pak Amin. 

“Ya, Pak Amin. Aku tadi lama di pasar karena belanja lebih banyak daripada biasanya. Bagaimana, masih bisa?” tanya Pak Untung lagi. 

“Ya bolehlah. Rezeki di sore hari. Kamu beruntung, Pak. Aku belum pulang dan menutup kedaiku. 

Alhamdulillah,” jawab Pak Untung lega.

Dengan semangat, Pak Untung segera mengeluarkan seplastik besar daging untuk digiling.

“Terima kasih, Pak Amin, sudah mau melayaniku untuk menggiling daging,” ucapnya setelah selesai menggilingkan daging.

“Ya, sama-sama. O ya, ini ada bonus panci masak, dalam catatan Pak Untung sudah 100 kali menggilingkan daging di sini. Ini pancinya, Pak. Rezeki buat Pak Untung,” jelas Pak Amin sambil menyerahkan panci pada Pak Untung. 

Alhamdulillah, sudah dilayani dengan baik, malah dapat panci juga. Terima kasih, Pak Amin,” kata Pak Untung dengan gembira.

Sesampainya di rumah, Pak Untung disambut istrinya dengan masakan kesukaannya, yaitu sayur lodeh lauk bandeng dan nasi hangat. 

Alhamdulillah, Bu. Bapak sangat lapar. Ini Ibu pas masak kesukaanku.”

“Ya, Pak, silakan di-dhahar.” Pak Untung makan dengan lahap sekali.

Setelah selesai makan, salat, dan mengaji, Pak Untung mulai membuat bulatan bakso seperti biasa. Ia dibantu anak dan istrinya. Lagi-lagi, dengan semangat Pak Untung mengangkat daging gilingan untuk dibuat bulatan bakso. Tiba-tiba terdengar suara panci jatuh dan teriakan dari Pak Untung. Pak Untung tampak kesakitan. Ia lalu dibawa ke rumah sakit untuk tulang patah. Pak Untung perlu mendapat tindakan dan pengobatan di rumah sakit. Setelah diskusi, Pak Untung menyetujui saran dokter.

Pak Untung berpesan pada anaknya untuk membuat bakso karena besok ada pesanan bakso 100 porsi. Anaknya menyanggupi pesan bapaknya. Pak Untung khawatir memikirkan bakso pesanan. Apakah anaknya sanggup membuat bakso seperti dirinya? “Astaghfirullah. Setelah mendapat banyak keberuntungan, kali ini aku gagal membuat pesanan bakso.”

Karena Pak Untung masih harus menginap di rumah sakit, anaknyalah yang mengantar bakso pesanan. Si pembeli sudah menunggu bakso pesanannya dengan gelisah. Akhirnya, sampai juga pesanan baksonya. Karena dibuat oleh anaknya, rasa baksonya pun tak seperti biasanya. Tak disangka, ibu pemesan bakso yang tadi baru diantar komplain karena rasa bakso Pak Untung tidak seperti biasanya. Ibu itu marah dan mengungkapkan kekecewaannya secara langsung pada anaknya di warung bakso. Anak Pak Untung menyampaikan kabar itu kepada bapaknya. Lagi-lagi, Pak Untung merasa, kali ini ia tidak beruntung.

Karena ada tulang yang patah, beberapa waktu Pak Untung tidak dapat melayani dan memasak bakso sendiri. Hal ini berdampak pada kualitas rasa bakso. Imbasnya adalah, pembeli berkurang karena rasanya beda dari biasanya. Beberapa waktu, warung Pak Untung sepi dari pembeli. Bakso yang telah dibuat tidak habis terjual sehingga Pak Untung malah rugi. Pak Untung tampak sedih sekali. Istri Pak Untung mencoba menghiburnya.

“Pak, tidak selamanya orang itu beruntung. Kadang juga ada gagalnya, supaya saat kita beruntung, kita bersyukur. Saat kita gagal, kita sabar,” nasihat istri Pak Untung.

“Benar juga, Bu. Mungkin aku harus belajar sabar menerima kegagalan,” jawab Pak Untung pada istrinya.

Lambat laun, setelah Pak Untung pulih, Pak Untung mulai lagi berjualan bakso dengan tambahan modal keberuntungan dan modal belajar sabar bila kegagalan harus terjadi.


Hilmahira Guddari, murid SD Al Islam 2 Jamsaren, tinggal di Gentang, Sukoharjo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s