Bertanya

Latif Nur Janah

SETIAP ibu pasti pernah mendapati momen buah hati pulang bermain dalam keadaan menangis. Entah karena berantem, ingin pinjam mainan, jatuh, dan lain-lain. Saya sendiri sering mengalami kejadian tersebut. Apalagi anak saya laki-laki. Maksud saya, tentu saja anak laki-laki sangat berbeda sepak terjang bermainnya dengan anak perempuan.

Saya sering mendapati anak saya pulang dalam keadaan menangis karena berantem. Kalau hanya kepingin jajan atau mainan, biasanya dia cuma merengek saja. Namun kalau sudah masuk ke ranah geng-gengan atau berebut teman, sering ia pulang sambil menangis dan mengadu  ini itu.

Memang saat anak menangis, naluri ibu melindungi. Tentu saja emosi juga tersulut. Namun berpikir dengan kepala dingin saat anak menangis itu sangat penting. Apalagi jika si anak punya kebiasaan tantrum macam anak saya. Ibunya harus ekstra sabar. 

Saya sendiri membiasakan kroscek ke anak dulu kalau dia menangis atau mengadu. Tidak buru-buru menyalahkan teman-temannya, sebab saya tidak tahu polah mereka saat bermain bersama. Bisa jadi, yang usil anak saya sendiri. Bisa jadi juga, anak saya mengada-ada. Bagimana pun tetap ada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Yang saya lakukan pertama kali adalah bertanya, “Kenapa?” Lalu seringnya ia jawab, “Si A atau Si B nakal, Bu.”

Saya sendiri membiasakan kroscek ke anak dulu kalau dia menangis atau mengadu. Tidak buru-buru menyalahkan teman-temannya, sebab saya tidak tahu polah mereka saat bermain bersama. Bisa jadi, yang usil anak saya sendiri.

Kalau sudah begitu, saya tanya lagi, “Kok mereka bisa nakal? Mereka atau kamu yang nakal?” Pertanyaan lain, “Kalau kamu nggak nakal, nggak mungkin dong kamu dinakali balik, hayooo?” Seringnya kalau sudah saya tanya begitu, ia akan jujur. 

Membiasakan bertanya pada anak, sejujurnya saya anggap sebagai pembiasaan komunikasi supaya sampai mereka besar, tidak sungkan untuk membagi segala masalah pada orang tua. Selain itu juga untuk pembelajaran bagi saya sebagai orang tua agar tidak terbiasa menghakimi orang lain, dalam hal ini anak tetangga. Saya merasa pembiasaan yang baik sejak kecil justru sangat membekas sampai mereka tua kelak. 


Latif Nur Janah, ibu dua anak, gemar menulis fiksi, menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s