Anak, Keluarga, dan Masyarakat

Muhammad Safroni

BERJUMPA dengan buku anak berjudul Kesukaran Terkalahkan. Sampulnya dominan warna merah dan kuning. Di bagian tengah sedikit ke bawah, terdapat ilustrasi karya Bambang Sutrisno. Ilustrasi apik dengan goresan tegas. Terlihatlah, tiga orang: ayah, ibu, dan anak perempuan sedang memegang segenggam uang yang hendak dibagikan. Pembaca menebak, di dalam buku terdapat cerita tentang kedermawanan. Nantilah, kita simak bersama!

Buku ditargetkan terbaca anak-anak. Novel yang digubah Mansur Samin terbit pada 1978. Buku yang sedang saya baca ini cetakan kedua, terbit pada 1982. Kesukaran Terkalahkan terbitan Balai Pustaka jelas tidak diperdagangkan. Di bagian sampul kanan atas, bercap “Milik Departemen P dan K, Tidak Diperdagangkan, Inpres No. 5 1981.”  Buku anak ini adalah salah satu dari sekian banyak bacaan pesanan pemerintah di masa Orde Baru. 

***

Mansur Samin telah menulis buku anak lebih dari 50-an. Sebagian termasuk pesanan pemerintah. Buku ini merupakan salah satu dari seri buku Inpres Pengadaan Bacaan SD. Pemerintah sangat getol membuat buku bacaan anak. Buku diharapkan pemerintah agar terbaca banyak anak, yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa. Harapannya dalam diri mereka tumbuh nilai-nilai yang diharapkan.

“Cerita anak mencerminkan mentalitas anak, lebih dari yang tecermin lewat media artistik lainnya,” pernyataan yang ditulis Sugihastuti dalam buku berjudul Tentang Cerita Anak (2013). Buku cerita anak yang ditulis dan diterbitkan karena pesanan pemerintah maka kemungkinan besar akan memuat pesan-pesan yang sedang digalakkan pemerintah. Artinya, cerita anak yang mencerminkan mentalitas dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru. Pembaca nantinya akan mengetahui bahwa pemilihan tema, penokohan, dan amanat diusahakan mengungkapkan mentalitas anak yang dikehendaki Orde Baru, yakni sesuai dengan cita-cita pembangunan dalam segala bidang.

Secara sengaja buku ini dibuat untuk membentuk karakter bangsa. Kesukaran Terkalahkan berisi dua cerita, masing-masing cerita berdiri sendiri. Cerita pertama berlangsung di sebuah desa di pinggiran kota dengan latar masa 1970-an. Pilihan lokasi di daerah Jawa Barat, tak jauh dari Kota Bekasi. Pada waktu itu belum semua wilayah bisa menikmati listrik. Program listrik masuk desa masih terus digalakkan pemerintah, termasuk di tempat Rini tinggal. Rumah kontrakan yang ditempati belum ada listrik. Rini merupakan tokoh utama dalam cerita ini.

Di bilik ini gelap sekali. Matanya menatap lampu sentir yang tergantung. Cahaya lampu kelap-kelip, hampir lenyap.

“Blep, blep, blep,” suara lampu lemah.

“Tentu minyaknya sudah habis,” pikir Rini sambil menguap panjang. Ia menggeliat berulang-ulang. 

Matinya lampu sentir ternyata sebagai pertanda mula kesukaran. Rini harus berhenti sekolah. Ayahnya belum membayar sekolah tiga bulan. Rini anak sulung, mempunyai tiga adik. Ayahnya buruh kasar, yakni kuli bangunan. Ibunya sebagai buruh cuci. Keadaan ini membuat keluarga Rini serba kekurangan. Sebagai anak sulung, tentunya turut bertanggung jawab. Walaupun belum bisa membantu namun setidaknya bisa mengurangi beban keluarga. 

Sebelum berlanjut, apakah anak-anak sekarang tahu lampu sentir? Lampu sentir merupakan alat penerang yang sumber bahan bakarnya berbahan dasar minyak. Sebelum ada listrik alat penerang yang digunakan berupa lampu sentir, petromak, dan oncor. Bahan bakar yang digunakan minyak tanah atau minyak goreng. 

Kita kembali pada permasalahan Rini dan keluarga. Kondisi ini tidak membuat Rini putus asa. Dia berkomitmen untuk bisa berusaha mandiri. Berharap agar suatu saat nanti bisa sekolah dengan biaya sendiri. Saat itu, Rini kelas lima di sekolah dasar. Rini tidak bisa hidup layak seperti teman seusianya. 

Cerita ini ingin menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kebersihan. Permasalahan melanda di hampir setiap tempat yaitu sampah. Kesadaran tiap individu sangat kurang. Menjaga kebersihan dianggap tidak penting, sehingga lingkungan menjadi kotor.

Pak Erte menjelaskan keadaan lingkungannya pada masa akhir-akhir ini. Selokan-selokan digenangi air, karena tersumbat sampah.  Halaman-halaman sangat kotor. Semua itu terjadi karena warga semaunya membuang sampah. 

“Memang sukar Pak Erte, kalau warga tidak ada keinsafan,” kata ayah menyela.

“Itulah yang sangat saya sesalkan. Sebenarnya kalau membersihkan lingkungan rumah sendiri, warga sendirilah yang memperoleh manfaatnya.”

Keinginan Rini untuk membantu perekonomian keluarganya sangat besar. Rini mengajukan diri menjadi petugas pengangkut sampah di lingkungannya. Ditemani adik lelakinya bernama Amal, tiap hari mengambil sampah dengan rajin. Semua warga senang. Lingkungan menjadi bersih. Rini mendapat upah dari  hasil kerjanya. Upah dibagikan ke orangtuanya dan sebagian di tabung. 

Tokoh Rini digambarkan sebagai perempuan kecil yang tangguh. Rajin bekerja, tidak pemalu, rajin menabung, dan kreatif. Secara cermat, Rini dan adik-adiknya memilah-milah barang rongsokan yang diperoleh dari sampah yang dipungut. Dengan kreatif, mereka membersihkan dan mengolah barang rongsokan menjadi barang yang memiliki nilai guna. Usaha ini membuahkan hasil. Kretivitas itu dihargai orang dan dibeli dengan harga yang setimpal. Rini dan keluarga bahagia.

Kesukaran yang dialami Rini dan keluarga bisa terkalahkan. Namun ini baru permulaan. Kesukaran berikutnya muncul. Saat rumah kontrakan yang ditempati keluarga Rini diminta oleh pemilik karena ingin ditempati oleh keluarga mereka. 

Rini dan keluarga pindah ke RT lain. Untungnya masih dalam satu RW. Jadi, Rini masih tetap bisa mengambil sampah. Keinginan Rini melanjutkan sekolah muncul lagi, terutama ketika kedua teman sekelasnya dulu datang dan membujuk Rini untuk sekolah. Rini ternyata anak yang pandai. Dia selalu mendapat peringkat baik. Pihak sekolah, khususnya guru kelasnya, sangat senang saat Rini kembali sekolah.

Selain bekerja keras mengangkut sampah dengan kreatif Rini mengkreasikan barang rongsokan menjadi barang guna. Rini juga diceritakan pintar memasak. Rini juga dengan cukup rinci paham cara beternak ikan. Tokoh Rini selain cerdas juga diceritakan tabah, serba bisa dan tidak mudah mengeluh. Di bagian akhir cerita terdapat pesan berupa nasehat dari ayahnya

“Rini Anakku, Kita orang miskin. Tapi kaya dalam hal pengalaman penderitaan hidup. Banyak kesukaran menimpa kehidupan kita. Semua kesukaran itu satu demi satu kita kalahkan. Kesukaran terkalahkan karena keberanian hidup, anakku!”

Kita belanjut ke cerita kedua. Tokoh utama dalam cerita ini seorang anak laki-laki kecil bernama Tondi. Tondi tinggal di dusun Dolok, Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera. Karena alasan ekonomi, Tondi harus berhenti sekolah. Dia harus membantu ayahnya mencari nafkah. Ayah Tondi seorang petani. Dia menggarap sawah. Namun, sawah yang digarap bukanlah miliknya. Sehingga hasil panennya akan dibagi dengan pemilik lahan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja mereka kekurangan. Ayah Tondi diceritakan sedang sakit.

Desa Todi kedatangan tamu. Serombongan mahasiswa Tugas Kerja Nyata dari Medan. Selama tinggal, mereka dititipkan ke rumah-rumah warga. Rumah Tondi menjadi salah satu rumah untuk tinggal salah satu mahasiswa. Binsar, nama mahasiswa itu. Binsar mahasiswa yang ramah dan cerdas. Dia suka menolong dan memiliki banyak pengetahuan. Bersama teman-temannya, Binsar akan tinggal selama dua bulan. 

Dusun Dolok merupakan daerah miskin. Untuk mendapatkan air, mereka harus menempuh jarak satu kilometer. Bahkan sebagain dari mereka tidak mengenal kakus.

“Adakah penduduk di sini mempunyai kakus?”

Tondi mengerutkan dahi. Ia tidak mengerti.

“Maksud saya jamban,” kata Binsar.

“Tidak ada yang mempunyai jamban di sini selain Pak Kepala Kampung.”

Pembangunan desa di daerah Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, tentunya lebih terbelakang jika dibandingkan dengan wilayah di Pulau Jawa. Pembangunan belum merata. Pembaca menduga Mansur Samin dengan sengaja mengambil latar tempat pulau dia dilahirkan, agar pembangunan bisa semakin cepat sampai wilayah di luar Jawa. 

Diceritakan, sebelum rombongan mahasiswa tugas kerja nyata datang, ayah Tondi sakit. Sakit itu disebabkan kurang memperhatikan kebersihan badan. Bukan karena tidak mau, namun keadaan yang menyebabkan hal itu terjadi.

“Karena ayah kurang mandi. Karena air sukar di dusun ini. Sebaiknya kita mandi dua kali dalam sehari. Tubuh kita disabun bersih, agar penyakit kulit terhindar dari tubuh kita.” 

Kedatangan mahasiswa tugas kerja nyata membawa perubahan besar. Mereka memberikan penjelasan akan pentingnya menjaga kesehatan. Mereka turut serta merancang pembuatan tampungan air untuk mandi dan kakus. Masyarakat dilatih semakin produktif dan mandiri. Beberapa peluang mencari nafkah mereka tularkan. Masyarakat akhirnya semakin mandiri. 

Dusun Dolok mengalami kemajuan. Perubahan baru terjadi. Hal itu karena saran danbantuan rombongan mahasiswa Tugas Kerja Nyata. Pengairan sawah diperbaharui. Cara beternak ditukar. Kadang-kadang ternak dibuat sendiri, tidak di kolong rumah lagi. Cara bercocok tanam diperbaiki. Keterampilan anak dusun diperhatikan. 

Pembuatan koperasi menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari waktu ke waktu, desa tempat tinggal Tondi semakin maju.

***

Dari kedua cerita dalam buku ini tersurat secara jelas maksud empunya kebijakan. Program-program pemerintah diceritakan secara gamblang. Permasalahan kebersihan, kemiskinan, ketahanan pangan, menabung, dan koperasi. Kita telah mendapatkan kesesuaian bahwa mentalitas para tokoh dalam cerita anak bisa dikatakan kepanjangan dari keinginan pemerintah yang sedang membangun manusia Indonesia seutuhnya.

Di cerita pertama, Mansur Samin memunculkan tokoh perempuan. Perempuan bukanlah orang lemah. Dia tak kalah dengan laki-laki. Perempuan pun bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan laki-laki. Seperti mencari nafkah dengan pengankut sampah, berkebun dan belajar beternak ikan. Keperempuanannya diperlihatkan dengan keterampilan memasak dan membuat pernak-pernik kerajinan. Menurut pembaca, ketangguhan dalam novel ini kurang tepat dilakukan seorang anak kecil. Namun pembaca paham, novel ini diciptakan dalam upaya menumbuhkan semangat kepada anak-anak. Bisa dimaklumi tahun 1970-an, sebagian masyarakat Indonesia masih di bawah bayang-bayang kemiskinan.

Menurut pembaca, ketangguhan dalam novel ini kurang tepat dilakukan seorang anak kecil. Namun pembaca paham, novel ini diciptakan dalam upaya menumbuhkan semangat kepada anak-anak. Bisa dimaklumi tahun 1970-an, sebagian masyarakat Indonesia masih di bawah bayang-bayang kemiskinan.

Cerita kedua, Tondi digambarkan sebagai anak dengan semangat yang besar. Kesabaran, keuletan, dan ketabahannya membuahkan hasil. Pengarang memunculkan peran mahasiswa begitu dominan. Di sini terlihat jelas bahwa mahasiswa serba bisa. Mereka mempunyai pengetahuan yang lebih dibanding masyarakat Dusun Dolok. Perubahan terjadi karena kedatangan mereka. Dengan kejadian ini, pemerintah dianggap berhasil. Bekerja sama dengan perguruan tinggi masuk ke pelosok-pelosok desa dan membangun di sana.

Penokohan dalam dua cerita menjadi keteladanan untuk para pembacanya yang masih berusia anak. Tokoh yang cukup ideal. Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) menyatakan, “Watak seorang tokoh tidak dapat diubah begitu saja sesuka pengarang, apalagi jika ia sudah diplot sebagai tokoh berwatak datar. Berbagai pengungkapan watak baik secara langsung maupun tidak langsung, berbagai tingkah laku verbal atau nonverbal, atau komentar tokoh lain haruslah setia mencerminkan watak utama itu.” Dalam dua cerita yang ditulis Mansur Samin, penokohan mencerminkan keinginan berubah dengan berperan aktif dalam keluarga dan masyarakatnya.

Kita tak perlu kecewa jika dalam buku tidak menemukan peristiwa yang semestinya dialami anak. Di buku ini, tidak ada anak-anak perempuan bermain masak-masakan, pasaran, atau lompat tali. Tondi juga tidak pernah diceritakan bisa bermain petak umpet, perang-perangan, bermain umbul, kelereng, dan lain-lain. Kenakalan wajar yang biasa di lakukan tidak terlihat. Jadi, seolah-olah Mansur Samin menceritakan anak-anak sempurna.


Muhammad Safroni, peminat bacaan anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s