Mengenang Lumbung

Yessita Dewi

Sekitar satu minggu lewat, bakul sayur bronjong yang selalu rajin menyambangi beberapa perumahan berkisah tentang kerinduannya pulang ke  Lampung. Meski berdarah Jawa, tepatnya orangtuanya dari Batang kemudian mengikuti program transmigrasi sekitar tahun 1980-an, ia merasakan keterikatannya pada tanah Sumatera. Kisahnya tentang ladang dan sawah tak jauh berbeda dengan kami, para ibu yang juga sempat hidup di antara bentangan sawah dan kebun jagung. Diskusi kecil yang mengalir itu sampailah pada pembahasan tentang penyimpanan bahan makanan masa itu. Lumbung. Setiap dukuh atau lingkup rukun warga terkecil pasti memiliki lumbung. Lumbung adalah upaya ketahanan pangan yang sudah berlangsung sejak manusia mengenal bercocok tanam.

Ingatanku tentang ruang penyimpanan bahan pangan dan apapun menelusur kenangan beberapa rumah ketika masa kecil masih sering berkeliaran ke rumah tetangga simbah. Lumbung yang di ingatan adalah di rumah besar tempat keluarga besar simbah pihak ibu. Simbah putri menyebut ruangan terpisah dan berpintu kokoh itu gandok. Meski menurut kisah dan dikuatkan dengan bentuk bangunan, rumah simbah yang dulu adalah gedhogan jaran atau kandang kuda teji, ada gandok kiwa dan gandok tengen. Untuk gandok kiwa pada perkembangan kebutuhan menjadi “persholatan” atau mushola kecil dalam rumah. Sementara gandok tengen masih bertahan menjadi lumbung hingga sekarang. 

Meski menurut kisah dan dikuatkan dengan bentuk bangunan, rumah simbah yang dulu adalah gedhogan jaran atau kandang kuda teji, ada gandok kiwa dan gandok tengen. Untuk gandok kiwa pada perkembangan kebutuhan menjadi “persholatan” atau mushola kecil dalam rumah. Sementara gandok tengen masih bertahan menjadi lumbung hingga sekarang. 

Ruangan yang seukuran kamar tidur itu berisi 1 buah peti kayu besar yang bisa berfungsi sebagai meja, dan 1 lagi berukuran lebih kecil. Meja yang besar itu sangatlah keren karena bisa dibuka menjadi peti. Mungkin sepuluh anak bisa tertampung untuk bersembunyi di situ. Konon, ketika zaman perang sempat juga untuk persembunyian. Isinya? Perangkat rumah tangga yang baru akan keluar ketika ada perhelatan atau hari raya. Toples-toples kaca kuno dan teko-teko keramik yang mungkin usianya lebih tua dari ibuku. Sementara yang berukuran lebih kecil berisi bermacam bahan pokok seperti beras, gabah kering, jagung pipil, dan jagung kering. Tepung-tepungan yang ditumbuk secara manual, biji-bijian seperti kacang hijau, dan masih banyak lagi. Di sisi karung-karung itu juga terdapat beberapa pak mi kering. Dari mi telur sampai mi beras. Bermacam kerupuk dan keripik. Secara keseluruhan, semua bahan di dalam peti lebih kecil itu mentah, kering, dan tahan lama. 

Untuk karung gabah dan jagung sebagian ada di luar peti. Tak ketinggalan keranjang besi yang menjadi tempat telur-telur ayam dan bebek dari kandang belakang. Aku ingat, keberadaan lemari di rumah simbah untuk menyimpan makanan yang sudah matang dan tersaji. Bahkan ada  yang mestinya untuk lemari pakaian, karena ukurannya besar beralih fungsi menjadi “lumbung” kue-kue kering dan cemilan siap makan atau toples-toples berisi makanan yang akan keluar jika ada tamu bertandang. Kebetulan, di rumah simbah, tamu tak pernah sepi. 

Tak semua orang boleh masuk ke lumbung. Hanya dengan izin simbah putri saja pintu itu boleh dibuka. Kunci yang paling beda bentuknya pun tergantung di balik sinjang simbah. Kunci lumbung akan ikut serta ke mana-mana. Itu gambaran lumbung di rumah simbah. Untuk di rumah-rumah besar yang masih kerabat seperti mbah dhe, mbah lik, Mbah Lurah, dan Mbah Kaji yang rumahnya lebih luas akan memiliki ruang lumbung yang lebih besar juga. 

Sementara, di rumah tetangga yang bukan kerabat, tetangga yang sudah seperti saudara pun memiliki lumbung. Hanya saja berbeda bentuknya. Karena rumahnya lebih kecil, Mbah Udin membuat lumbung berupa dak di samping rumah. Sebentuk tangga sederhana menjadi akses masuk ke dalam lumbung yang seperti loteng. Di dinding-dinding kayu itu tergantung rumpun-rumpun padi yang masih bertangkai berdampingan dengan ikatan-ikatan jagung kering. Karung-karung yang berjajar rapi. Isinya tak jauh berbeda dengan lumbung milik simbah putri. Ketika kecil bisa dibilang aku memiliki sedikit keistimewaan untuk bisa ikut melihat ke dalam lumbung tetangga, mungkin karena aku cucu dari simbah yang kebetulan memiliki kedudukan di kampung. Untung aku anak baik dan tidak tengil seperti lainnya. Buktinya Mbah Udin sering memberiku kue “yar goyar”, sesekali kue satu setelah keluar dari lumbung. Atau bisa jadi itu kue penutup mulut agar aku tak bercerita isi lumbung.

Di rumah tangsi, karena kecil dan sangat terbatas, ibuku menyimpan berbagai bahan pokok di dalam peti beras. Peti kayu kokoh milik bapak dari pembagian gaji pertama bersama 10 kilo beras jatah sebagai prajurit. Mungkin itu “lumbung” kecil milik ibuku untuk keluarga sederhana kami. Terkadang, aku mendapat tugas membuka peti guna mengambil beberapa kaleng beras untuk ditanak. Seiring waktu dan rumah berpindah, peti beras itu beralih fungsi menjadi meja darurat dan penyimpan buku-buku milik bapak.

Zaman berubah diikuti kebutuhan dan perkembangan manusianya. Di era milenium, rumah-rumah mediteran, minimalis dengan luas terbatas sangat tidak memungkinkan menghadirkan lumbung di dalam rumah. Ternyata perkembangan itu pun menggerus hadirnya lumbung desa. Bangunan-bangunan kecil yang ada di tiap dukuh yang akan diisi warganya untuk menyimpan dan berjaga ketika cuaca dan iklim tak bersahabat, perlahan hilang.  Cara berpikir praktis dan simpel generasi saat ini berpengaruh dengan hadirnya lumbung bentuk baru. Tak ada lagi sebutan lumbung, tetapi lemari penyimpanan. Bahan pangan pokok yang layak simpan dan kebutuhan sehari-hari hanya sampai akhir bulan sesuai tanggal gajian. Tak ada karung gabah atau padi kering digantung bersisihan dengan jagung. Bagi sebagian orang, mungkin malah berbelanja sesuai kebutuhan saja. Bagaimana akan berencana stocking kebutuhan pokok ketika gaji satu bulan sudah sangat gusis sesuai postingan tagihan. Saat ini memang bukan era agraris tetapi industri. 

Lumbung beras di rumah kerabat suami yang sejak dulu adalah petani sekaligus penggarap sawah mumpuni, tampak muram dan gelap. Tanah yang sudah candu akan pupuk kimia semakin tipis menghasilkan bulir padi. Air irigasi yang digadang sehat lancar mengairi sawah tak lagi deras. Mina padi yang lampau sempat menggembirakan, kini hanya tinggal kisah dengan jejak air berwarna karena polusi. Segala era pasti mengalami pergeseran dan beberapa menuju ketiadaan. Tetapi kebutuhan akan ketahanan pangan akan selalu ada. Bahkan akan menjadi makin penting dengan anomalinya alam saat ini. Ah, jadi ingat pandemi. 

Lumbung beras di rumah kerabat suami yang sejak dulu adalah petani sekaligus penggarap sawah mumpuni, tampak muram dan gelap. Tanah yang sudah candu akan pupuk kimia semakin tipis menghasilkan bulir padi.

Aku pun tak punya lumbung atau peti beras sederhana seperti punya ibu. Tetapi yang selalu kuingat pesan tak sengaja yang sering keluar dari obrolan bersama ibu: “Ora nduwe dhuwit ora papa ning aja nganti ora nduwe beras.” Tidak punya uang tidak masalah, tetapi jangan sampai tidak punya beras. Jika direnungi, beras bisa menjadi apapun termasuk untuk bertahan hidup meski makan bubur, bahkan berbagi dengan yang lain. Meski tak punya lumbung, aku berusaha sebisa mungkin membuat kotak beras selalu penuh. Hanya itu. Ah, jadi rindu ibu.


Yessita Dewi, penulis dan pengamat industri hiburan Korea.

IG: yessita_dewi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s