Nama, Buku, Lagu

Bandung Mawardi

NAMA tokoh-tokoh dalam buku pelajaran dan soal-soal ujian kadang membikin tawa bagi murid-murid merasa mengenali itu saudara, tetangga, bapak, teman, atau kekasih. Penulis buku pelajaran dan pembuat soal-soal ujian mungkin sengaja menulis nama tokoh-tokoh berharapan mengakrabkan murid dengan isi pelajaran atau mampu menjawab secara benar. Lumrah saja nama-nama dalam buku pelajaran dan soal ujian adalah nama-nama dimiliki orang-orang Indonesia. Pada abad XXI, nama anak-anak di Indonesia mulai aneh-aneh, berbeda jauh dari puluhan tahun lalu. Nama mereka tetap saja bakal terpilih dalam buku pelajaran dan soal ujian.  

Nama disenandungkan membikin terharu. Bocah-bocah bersenandung: “Lihat kebunku penuh dengan bunga…” Lagu memuat nama-nama bunga kadang menjadi nama orang, jalan, atau gang. Di situ, ada mawar dan melati. Si bocah lelaki pernah terharu dengan lagu, pernah malu gara-gara lagu. Nama tak masuk buku pelajaran atau soal ujian tapi berada dalam lagu, diucapkan oleh jutaan orang: Mawar. Di keluarga dan kampung, bocah itu dipanggil Mawar. Kesadaran nama panggilan telat. Pada saat SD, ia mulai malu. Di SD Blulukan I, ada murid bernama Melati. Nah, masalah menimpa sulit terlupakan adalah senandung bocah-bocah sepanjang jalan bila dua murid itu pulang bersama. Mereka jalan sendiri-sendiri, tak bercakap dan bergandengan tangan. Lelaki dan perempuan menuju rumah berbeda alamat. Waduh, teman-teman suka menggoda! Terdengarlah lagu dibawakan cengengesan sambil tepuk tangan: “Mawar melati semuanya indah.” Mawar menunduk malu, berlari cepat pulang. Teman-teman sering kurang ajar, merasa tak bersalah. Mawar itu hiburan bagi mereka lelah mengikuti pelajaran.

Kesadaran nama panggilan telat. Pada saat SD, ia mulai malu. Di SD Blulukan I, ada murid bernama Melati. Nah, masalah menimpa sulit terlupakan adalah senandung bocah-bocah sepanjang jalan bila dua murid itu pulang bersama. Mereka jalan sendiri-sendiri, tak bercakap dan bergandengan tangan. Lelaki dan perempuan menuju rumah berbeda alamat.

Ia bertemu buku Tata Cara gubahan Padmasusastra saat sudah berusia 20-an tahun. Buku sering dibaca dan dikutip untuk mengerti Jawa. Padmasusastra mengisahkan hidup-pernikahan-kematian dengan segala ritual di Jawa. Di buku, orang-orang Jawa bernama. Dulu, ia tak bisa memesan nama, terberikan saja oleh bapak. Pada hari berbeda, ia mulai membaca buku-buku tipis berisi tulisan dan salinan ceramah Ki Ageng Suryomentara. Ada masalah jeneng atau nama. Ia perlahan sinau nama-nama, sebelum terbingungkan oleh biografi dan puluhan buku referensi. Ia tetap saja dipanggil Mawar setelah khatam buku-buku atau mengaku telah menemukan hikmah-hikmah dari renungan.

Kesadaran dan penasaran nama-nama bertambah gara-gara membaca puisi-puisi gubahan Darmanto Jatman. Ia bertemu Karto Tukul, Atmo Boten, Tukini, Marto Klungsu, dan lain-lain. Ia sudah jauh meninggalkan nama Budi, Iwan, dan Wati ditemui dalam buku pelajaran saat SD, masa Orde Baru. Nama-nama legendaris dimiliki ribuan orang di Indonesia. Pada abad XXI, ia wegah mencatat dan memikirkan nama-nama tokoh dalam buku-buku pelajaran milik Abad Doa Abjad dan Sabda Embun Bening. Ia mulai sulit mengucap nama-nama bila ke sekolah memberi tanda tangan sambil melihat daftar presensi murid. Wah, nama-nama menggunakan bahasa Arab! Panjang-panjang. Sekian nama pasti masuk buku pelajaran dan soal ujian, belum tentu lagu. Ah, nama-nama itu mengece tokoh teringat murid-murid masa 1950-an. Dulu, mereka membaca buku Tataran, teringat nama bocah lelaki: Koentjoeng. 

Keluarga-keluarga Indonesia mulai mencipta sejarah baru di kartu keluarga. Pemberian nama memiliki acuan atau kaidah baru, berbeda dari kebiasaan orang-orang lama. Dulu, Mawar juga pernah berpikiran cara memberi nama mengacu Jawa, agama, industri hiburan, dan lain-lain. Sinau belum rampung, ia memikirkan beragam hal berkaitan nama, setelah ingat nama para tokoh dalam novel-novel pernah dibaca ketimbang mengingat nama-nama teman saat SD, SMP, SMA, atau kuliah. Ia kehilangan ingatan ratusan nama dari masa lalu. Sejarah nama teman di sekolah perlahan berguguran.

Ia pun mulai membuat jalan baru untuk nama-nama, dimulai dengan menamakan anak-anak. Ada kehendak membedakan tanggungan cerita atau biografi. Ia dinamakan Bandung Mawardi. Panggilan sejak kecil sampai sekarang masih saja Mawar, terutama di keluarga dan kampung. Nama sering terbaca dalam berita pemerkosaan: “sebut saja Mawar”. Ia mengaku malu. Pada saat sudah jenggoten dan berkumis gondrong, orang-orang tetap saja memanggil Mawar. Eh, keponakan dan bocah-bocah di kampung enteng saja berucap: “Mas Mawar”.  

Kesibukan memikirkan nama kadang menuntun orang mengerti sejarah keluarga, berlanjut menekuni halaman-halaman sejarah Indonesia. Pada masa segala hal bisa diributkan, nama-nama mulai masuk dalam debat sengit atau kasus-kasus hukum. Ah, kita jadi senewen. Kita mungkin kehilangan cerita-cerita pemberian nama, perubahan nama, dan pewarisan nama di keluarga. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s