Dua Tafsir Bacaan Anak

Yulia Loekito

(1)

Kalau wanita Dayak Punan melahirkan

Tubuhnya tetap sehat dan kuat

Karena ada ramuan yang dimakan

Daun berhasiat yang dipetik dari hutan.

(Djumri Obeng, Suku Dayak, Balai Pustaka, 1995)

BUKU memuat kumpulan sajak dimaksud agar pembaca mengenal suku Dayak lebih dekat. Di halaman 25, sajak khusus bercerita tentang adat kelahiran suku Dayak Punan. Kalimat menggambarkan tradisi masa lalu mungkin terbaca cukup mengerikan untuk perempuan dan keluarga masa kini: Kalau wanita Dayak Punan melahirkan/Semua orang dilarang memberikan bantuan. Praktik serupa juga dilakukan oleh suku-suku di kepulauan Maluku. 

Tapi, kalimat pada bait selanjutnya menguatkan. Tertulis bahwa wanita Dayak Punan pada saat dan setelah melahirkan tubuhnya sehat dan kuat karena ramuan terbuat dari daun berkhasiat dari hutan. Larik-larik ini membuat kita tahu kalau dulunya masyarakat Suku Dayak Punan kenal dekat dengan alam. Kenal dekat, tentu mereka menandai dengan banyak hal. Berkaitan dengan tanaman terbiasa menandai: mana yang bisa dimakan, mana yang bisa jadi obat, mana beracun dan berbahaya. Menandai membuat mereka tahu tempat tanaman biasanya tumbuh, saat cuaca seperti apa, hewan-hewan apa yang ada di sekitarnya, bagaimana keadaan tanahnya, dekat atau jauh dari sumber air, dan sebagainya. Sanggup menandai  macam-macam hal itu tentu menyadari bahwa hidup kita sesungguhnya bergantung dan disokong alam. 

Tahu dan insaf, tak berlaku sembarangan dan serampangan pada alam. Adakah kita yang mengaku manusia modern dan beradab tahu, sadar, dan mampu bersikap begitu? Sungguhkah kita mengalami kemajuan jika dibandingkan dengan masyarakat yang, barangkali, kita beri label primitif? Mungkin ilmu pengetahuan menjawab sebagian, tetapi bagian keselarasan manusia dengan alam patut kita pikir lagi dan lagi. Apakah kita kenal baik dengan alam tempat dan pemberi hidup kita? Apakah kita memberi prioritas mengajari anak-anak kita mengenal dan hidup selaras dengannya? 

Sungguhkah kita mengalami kemajuan jika dibandingkan dengan masyarakat yang, barangkali, kita beri label primitif? Mungkin ilmu pengetahuan menjawab sebagian, tetapi bagian keselarasan manusia dengan alam patut kita pikir lagi dan lagi.

Walaupun Djumri Obeng mungkin lebih bermaksud memperkenalkan berbagai macam kebiasaan dan adat suku-suku Dayak, toh, hal-hal mendasar tentang hubungan manusia dengan alam maupun spiritualitas dapat terbaca dan punya peluang digali dan dirembug bersama anak-anak yang membacanya. Seberapa mampukah kita menandai?

Buku berisi puisi-puisi untuk anak gubahan Djumri Obang tersebut mengajak ke penyadaran. Akhirnya, buku memang dibaca anak-anak, tetapi orangtua yang mendampingi dapat menjelaskannya secara lanjut dengan membuka buku-buku ensiklopedia atau serial Pustaka Life, yang membahas masalah masyarakat adat, tetumbuhan, atau hutan.  

(2)

Togi berjalan agak tergesa-gesa. Ia harus secepatnya tiba di rumah. Ada yang hendak dikerjakannya siang itu. Ia telah merencanakan untuk membuat gasing bersama teman-temannya.

(Nazarudin Fakhris, Rumah Terlarang, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1985)

Bab pembuka novel anak Rumah Terlarang memuat kalimat-kalimat menunjukkan adegan Togi, si tokoh utama, yang rupanya berkarakter bengal. Ia tergesa pulang ke rumah dari sekolah. Ia masih SD. Cerita masih jauh dari konflik yang nanti membawa Togi harus bermalam di rumah terlarang penuh senapan peninggalan kompeni. 

Togi dan teman-teman ingin segera membuat gasing. Diceritakan Togi piawai membuat mainan sendiri. Terbaca dari cerita, anak-anak pada masa 1980-an masih akrab dengan mainan-mainan buatan sendiri. Mainan bisa terbuat dari pring (bambu) yang butuh diserut atau dipotong dengan pisau. Anak-anak terampil menggunakan pisau untuk membuat mainan. Biasanya, orang tua tak sibuk melarang karena takut anak terluka. 

Tahun berganti tahun, zaman kian maju dan beradab. Orang tua malah makin cemas dan berhati-hati. Mainan-mainan untuk anak-anak dibuat jadi “lebih aman” dengan bahan-bahan tak mengandung racun, dengan tepi-tepi melengkung tak bersudut tajam. Anak-anak diarahkan bermain dengan pisau tumpul terbuat dari kayu atau plastik supaya “aman”. Anak-anak banyak bermain dengan mainan bikinan perajin mainan atau bikinan pabrik. 

Barangkali anak memang jadi “aman” dari luka, goresan, atau sayatan. Namun, sepertinya anak-anak juga kehilangan dan ketinggalan kesempatan serta waktu belajar koordinasi mata tangan, belajar berhati-hati, belajar berani, belajar kreatif, atau belajar cari jalan keluar.

Barangkali anak memang jadi “aman” dari luka, goresan, atau sayatan. Namun, sepertinya anak-anak juga kehilangan dan ketinggalan kesempatan serta waktu belajar koordinasi mata tangan, belajar berhati-hati, belajar berani, belajar kreatif, atau belajar cari jalan keluar. Sepertinya, tokoh Togi cukup beruntung di masa anak-anak bisa membuat mainan sendiri. Walaupun kita mengenali Togi cuma dalam novel saja.  


Ibu yang suka menulis cerita anak dan belajar bersama anak-anak, tinggal di Jogja

Instagram: yulialoekito

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s