Duh, Iklan! Duh, Gawat!

Muhammad Milkhan

ANAK merengek dan kadang sampai menangis histeris, memohon minta diantar ke mini market. Kejadian seperti ini hampir berulang tiap hari. Istri saya menyarankan untuk sekali-kali menolak permintaan anak kami.  Maksudnya, agar kebiasaan jajan yang selalu dituruti tidak menjadi perilaku konsumtif yang buruk. Tapi, saya selalu gagal menuruti saran istri. Saya benar-benar tak tega melihat anak saya menangis meronta-ronta, memohon dengan ekspresi memelas agar diperbolehkan membeli barang yang dia inginkan di mini market di kampung kami.

Sesampai di mini market, biasanya anak tidak lagi menggubris bapaknya. Dia asyik sendiri mencari barang yang diinginkan. Saya cuma melihat dari kejauhan sambil mengamati ekspresi girang anak, yang beberapa menit lalu baru saja menangis histeris memohon dikabulkan hajat jajannya. Adegan awal di mini market selalu jadi solusi manjur perselisihan kami, anak dan bapak. Minimal, saya merasa lega bisa menyelamatkan diri dari neraka-tangis dan kesedihan akibat rengekan anak semata wayang kesayangan. 

Mencari dan memilih barang yang diidamkan kadang membutuhkan waktu tak sedikit. Sengaja, saya biarkan anak mencari sendiri apa yang dia mau. Saya hafal betul kalau barang yang diinginkannya sudah ketemu, dia tidak akan ngomong langsung ke saya. Anak hanya berdiri terpaku sambil senyum-senyum  di depan barang yang diinginkannya, sesekali melirik ke arah saya.

Biasanya saya tidak langsung menyetujui untuk lekas membayar barang pilihan anak itu ke kasir. Saya lirik dulu label harga barang tersebut. Kalau barang itu cukup masuk akal untuk harga yang disematkan dan tentu tidak terlalu mahal, saya langsung menyuruh anak mengambilnya dan membawa barang tersebut ke kasir. Tetapi, kalau barang itu berharga mahal dan tidak terlalu berfaedah, maka saya terpaksa melakukan negosiasi terlebih dahulu agar ia bersedia menggagalkan niatnya membawa barang tersebut pulang ke rumah.

Negosiasi bisa berlangsung cepat atau sebaliknya, tergantung wujud barang dan tentu saja nominal harganya. Kalau barang yang diinginkan ternyata juga tersedia di warung tetangga yang ada di depan masjid kampung kami, maka saya bisa dengan mudah membujuk anak saya mengurungkan kemauannya membeli barang tersebut. Alasannya, harga akan lebih murah kalau nanti membeli barangnya di warung depan masjid. Seperti kita ketahui, barang yang dijual di mini market yang bertebaran di pinggir jalan, selalu lebih mahal daripada barang yang sama yang dijual di warung tetangga. Naasnya, negosiasi bakal berlangsung alot manakala barang tersebut sesuai dengan kemampuan daya ingat anak. Hanya bisa dibeli di mini market tersebut, sebab di tempat lain dia tidak pernah menjumpai barang yang diinginkannya itu. 

Negosiasi bisa berlangsung cepat atau sebaliknya, tergantung wujud barang dan tentu saja nominal harganya. Kalau barang yang diinginkan ternyata juga tersedia di warung tetangga yang ada di depan masjid kampung kami, maka saya bisa dengan mudah membujuk anak saya mengurungkan kemauannya membeli barang tersebut.

Alasan “bapak sedang tidak punya uang” atau “harganya terlalu mahal” tidak akan mempan menangkis serangan hasrat anak untuk memiliki barang yang dia inginkan. Saya harus memutar otak mencari alasan agar barang mahal minim manfaat itu tidak terbeli. Misalnya, jika barang itu berupa mainan, saya bisa menjajikan akan membeli barang yang lebih bagus dengan harga yang lebih murah di toko mainan langganan kami di daerah pasar dekat kantor kecamatan. Biasanya, anak langsung setuju, hanya saja rengekan minta dibelikan mainan tersebut tidak akan berhenti kalau janji bapak membelikan di toko mainan langganan tidak kunjung ditepati.

Berbeda lagi, kalau barang mahal yang diinginkan anaktidak dijual di tempat lain. Misalnya, susu bubuk untuk anak dengan tagline dapat mempercepat pertumbuhan tinggi badan. Mau tidak mau, suka tidak suka, punya uang atau tidak punya uang, bagaimanapun caranya barang harus terbeli demi menjaga stabilitas hubungan emosional anak dan bapak. Untung saja, barang yang seperti ini, hanya sekali dua kali menjadi incaran anak saya.

Awalnya saya heran, kenapa daftar permintaan jajanan anak saya semakin variatif. Bahkan, saya sendiri tidak tau kalau ada jenis produk untuk anak yang semacam itu. Padahal, saya merasa tidak pernah memberitahukan aneka macam jajanan dan mainan baru kepada anak saya. Jika melihat lingkungan pertemanan anak saya yang baru berumur lima tahun, rasa-rasanya dengan jumlah teman yang masih terbatas, keinginan jenis jajanan dan mainan yang diminta anak saya, sangat tipis kemungkinanannya bila itu timbul karena pengaruh dari teman-teman bermainnya. 

Saya akhirnya mengerti bahwa sumber malapetaka hobi berbelanja di mini market adalah berkat jasa gadget. Anak saya yang hobi menonton youtube dan tiktok kemungkinan besar terpesona dengan tayangan iklan produk tertentu atau termakan bujuk rayu artis yang di-endors mempromosikan barang jajanan baru. Walhasil, yang semula niatan saya memasrahkan gadget kepada anak untuk meredam tangis dan kerewelan yang ia ciptakan, justru menjadi sumber tangisan baru yang boros di ongkos.

Walhasil, yang semula niatan saya memasrahkan gadget kepada anak untuk meredam tangis dan kerewelan yang ia ciptakan, justru menjadi sumber tangisan baru yang boros di ongkos.

Di majalah Femina edisi 23-29 Agustus 1990, ada sebuah iklan yang mengetengahkan tema keluarga. Iklan satu halaman penuh tersebut adalah milik majalah pasangan muda Ayah Bunda. Dalam gambar iklan, terlihat sepasang suami istri dengan anaknya yang masih balita tengah asyik melihat-melihat produk yang dijajakan di rak toko. Si bapak tampak sedang mengarahkan tulunjuk jarinya pada salah satu produk dengan harapan tatapan dan perhatian anak ikut tertuju ke produk tersebut. Sedang si ibu nampak girang dan mendukung apa yang dilakukan oleh sang bapak. 

Iklan tersebut diberi penegasan pesan moral lewat kalimat berhuruf tebal di bagian atas gambar: “Ternyata mengajak si kecil ke toko menambah pengalaman Anda sekeluarga.” Sedang di bagian bawah, pengiklan masih menambahkan kalimat ampuh: “Meskipun masih bayi, tidak ada salahnya si kecil dibawa ikut berbelanja bersama Anda. Benda warna-warni di toko dapat merangsang anak untuk melihat dan belajar.” 

Iklan tahun 1990 justru terkesan mengajarkan anak mengasah naluri berbelanja sejak dini. Sama halnya dengan iklan yang berseliweran di media sosial pada tahun 2021. Dalam waktu sekian menit, iklan silih berganti melakukan parade bujuk rayu agar calon konsumen segera memiliki produk baru yang ditawarkan. Pengiklan akan memilih korbannya sesuai dengan tayangan utama yang di tampilkan. Jika itu tontonan untuk anak-anak, maka produk yang ditawarkan kebanyakan ber-genre anak-anak. Demikian juga iklan khusus orang dewasa, jelas hanya akan berseliweran di tontonan yang mengetengahkan tema-tema usia dewasa. Lalu, kita boleh mengingat apa yang disampaikan oleh Gillian Dyer perihal iklan yang manipulatif: “Orang-orang harus dijadikan merasa bersalah jika tidak membeli mobil atau radio baru, dan diajarkan bahwa tidak membuang barang-barang setiap tahun untuk membeli model terbaru adalah hal yang tidak patriotik” (Kathy Myers, 2012).

Pantas, rengekan tangis anak saya yang begitu menggebu ingin membeli produk baru yang diidamkan sangat memekikkan telinga. Mungkin itu bentuk tindakan patriotik seorang calon konsumen yang tidak ingin merasa bersalah sebab tidak membeli barang baru yang ditawarkan. Meskipun, susu yang dapat menambah tinggi badan tersebut hanya diminum dua kali, lalu anak saya tidak mau meminumnya lagi dengan alasan rasa yang tidak sesuai selera. Duh, gawat!


Muhammad Milkhan, pemain sepak bola kampungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s