Mobil Itu “Ribut”

Bandung Mawardi

PAGI mendung, ia bergerak menuju kios koran. Kebiasaan sekian tahun. Pagi itu koran. Di jalan, ia melihat jalan-jalan berlubang dan rusak. Hati-hati. Ia naik sepeda motor berusaha alon-alon dan ati-ati. Eh, mobil-mobil melintas war-wer. Orang-orang di dalam mobil itu tergesa! Mereka ingin lekas sampai. Sing alon-alon mendapat hadiah terindah. Pengemudi mobil mengganjar dengan suara klakson. Alon-alon mengganggu bagi orang berajaran cepat. Ngalah. Bersabar tanpa pisuhan. Pagi-pagi jangan mengucap kata-kata buruk. 

Duduk, membuka koran-koran. Tribun Jateng, 24 Februari 2021, masuk daftar pembelian. Pagi itu beli 3 koran, masih ngutang di penjual 4 ribu. Berita terbaik saat pagi masih saja mendung: “Kado Dua Mobil Mewah”. Ia semringah membaca berita. Pagi terasa cerah meski tetap mendung. Wah, salah imajinasi! Simak: “Presenter kondang Raffi Ahmad mendapat kado berlimpah ketika merayakan ulang tahun pada 17 Februari 2021…. Raffi Ahmad mendapat kado mobil Mercedes Bensz dari wanita yang akrab disapa Gigi itu.” Siplah! Istri sanggup memberi hadiah mobil kepada suami. Bahagia! 

Di rumah, si pembaca koran mulai kehilangan selera makan. Di meja, ada jangan terong dan tempe. Rambak juga ada. Ia berpikiran mau puasa seharian demi menikmati imajinasi menjadi Raffi Ahmad mendapat mobil mewah. Artis terlalu menjadi berita di Indonesia, setiap hari. Artis pujaan bangsa. Teladan bagi kaum lelaki. Si pembaca koran menunduk malu. Ia mustahil meniru Raffi Ahmad. Sekian hari lalu saja, ia cuma mendehem saat istri bilang sudah mendekati jadwal pajak sepeda motor. Owalah, pajek ora prei saat wabah belum tamat. Detik demi detik berlalu, ia insaf bahwa mengurusi pajak sepeda motor saja megahi. Orang memiliki mobil (mewah) tentu duit untuk pajak lebih besar. Ia pun membatalkan keinginan membeli Mercedes Bensz, berpikiran bijak bila memiliki uang ingin istri tetap bisa memasak dan sepeda motor jangan kehabisan bensin. 

Hari itu ia ingin hiburan. Rampung membaca koran dan ikhlas sarapan, ia memilih lari ke masa lalu. Ah, membaca pantun-pantun lama saja! Terbukalah buku berjudul Pantun Melayu susunan Redaksi Balai Pustaka. Cetakan pertama, 1920. Ia membuka buku cetakan keempat belas, 2004. Pantun demi pantun terbaca, termasuk pantun anak dan pantun jenaka. Terhibur! Bertemu pantun mengejutkan: Dari Padang ke Tangsi Curup/ automobiel berbunyi ribut/ Hari petang pintu tertutup/ dipanggil bunda tiada menyahut. “Automobiel” itu mobil. Oh, betapa cepat mobil masuk dalam pantun! Ngebut! Mobil malah telat masuk dalam puisi-puisi mengaku modern gubahan geng Poedjangga Baroe atau orang-orang dicap masuk Angkatan 45. Pantun untuk anak berisi mobil. Wah, dulu bocah-bocah mengagumi dan mengimpikan mobil! Ingat, mobil itu sumber “ribut”. Suasana jalan menjadi “ribut” gara-gara suara mesin mobil dan klakson. 

Oh, betapa cepat mobil masuk dalam pantun! Ngebut! Mobil malah telat masuk dalam puisi-puisi mengaku modern gubahan geng Poedjangga Baroe atau orang-orang dicap masuk Angkatan 45. Pantun untuk anak berisi mobil. Wah, dulu bocah-bocah mengagumi dan mengimpikan mobil! Ingat, mobil itu sumber “ribut”. Suasana jalan menjadi “ribut” gara-gara suara mesin mobil dan klakson. 

Beruntunglah ia belum membeli dan memiliki mobil. Ia tak berdosa tak menimbulkan keributan dengan klakson. Di hati, ia membatin mungkin belum perlu membeli mobil bila masih serakah buku. Duit ratusan juta bila dibelikan buku bakal memenuhi rumah. Eh, halaman rumah cukup untuk memarkir 3 mobil. Belum perlu ada mobil? Lihatlah, di dalam rumah, buku-buku itu ngece ingin dibaca tanpa ribut dan klakson. Dulu, ada teman bilang bila sekian buku itu dijual bisa untuk membeli mobil. Matamu! Buku itu perlu! Wah, sombong! Ia memilih numpak buku ketimbang mobil.  

Siang datang, ia tetap makan jangan terong. Tempe tersisa satu. Makan itu perlu. Jadwal memegang setrika batal. Mendung menggagalkan jemuran pakaian kering. Ia mengganti peristiwa: membaca tumpukan almanak. Dipilihlah Almanak Nasional 1952. Sekian iklan dalam almanak bertema mobil. Pada masa 1950-an, keluarga-keluarga di Indonesia mengidamkan mobil. Keluarga modern dianggap sah bila naik mobil. Melihat bapak, ibu, dan anak dalam mobil memastikan keluarga Indonesia sudah maju dan mengerti selera Barat. Mobil-mobil didatangkan dari negara-negara asing. Dulu, adegan keluarga di atas pit onthel pasti ada. Kita melihat si bapak menggeh-menggeh memboncengkan istri dan (dua) anak. Pada masa berbeda, lakon keluarga tampak dari posisi mereka di atas sepeda motor. Eh, keluarga dalam mobil tetaplah paling keren.

Di halaman 78, ada iklan dari Java Motors Import Corporation NV. Oh, mobil cakep! Di halaman 139, iklan dari Gebr Hilverdink NV. Iklan mobil masih muncul di halaman 237: Mascotte Trading Co Ltd. Sejak lama, mobil mencipta seribu cerita di Indonesia. Pada abad XXI, orang-orang belum jeleh memiliki dan mengoleksi mobil. Konon, warga desa di sana membeli mobil-mobil baru dari duit hasil penjualan tanah. Eh, ada artis mendapat hadiah mobil mewah. 

Sore masih mendung. Pembaca koran dan almanak itu lelah. Ia merasa sia-sia mengalami Rabu. Sejak pagi sampai siang, kepikiran mobil. Ia melihat istri dan anak-anak, berharap mereka tak pernah menginginkan mobil Mercedes Bensz. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s