Terlambat lagi, Terlambat Lagi

Fawziya Hanifa Islami

“Kring, kring, kring…”

Bunyi jam beker berdering. Rindah mematikan jam bekernya, lalu lanjut tidur.

“Tok, tok, tok…” suara ketukan terdengar. 

“Neng, bangun. Neng Rindah, bangun,” teriak Mbok Marni. Mbok Marni adalah pembantu di rumah Rindah. 

“Ntar aja, Mbok. Masih ngantuk,” jawab Rindah. 

Rindah terlelap lagi. Tak berapa lama, suara teriakan Mbok Marni kembali terdengar. “Neng Rindah, ini sudah pukul enam. Bangun, Neng. Ntar telat lho, ke sekolahnya.” Suara ketukan di pintu terdengar lebih keras.

“Iya, iya, ini udah bangun,” Rindah turun dari tempat tidur sambil terkantuk-kantuk mengambil handuk. Dia berjuang melawan rasa kantuknya. Matanya masih setengah terpejam.

Rindah tiba di kamar mandi. Dia menyalakan keran dan membasuh mukanya. Seketika, rasa kantuk pun hilang. Pagi itu, dia mandi tergesa-gesa, mengenakan seragamnya, mengambil tas, dan berlari ke ruang makan.

“Sarapanku mana, Mbok?” tanyanya kepada Mbok Marni.

“Di sana, di dekat microwave,” Mbok Marni menunjukkan kotak bekal yang berwarna kuning cerah. 

Rindah memasukkan bekalnya ke dalam tas. Tak berapa lama, dia sudah berada di mobil bersama papa yang akan mengantarnya ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Rindah sibuk memakan bekalnya. Memang itulah kebiasaannya. Selama ini, Rindah tidak sempat sarapan di rumah dengan santai. 

“Kapan sih, Rindah mau belajar disiplin?” tanya papa sambil nyetir. Rindah tak menjawab. Dia sibuk mengunyah roti bakarnya. 

“Rindah udah besar. Harus belajar disiplin. Apa Rindah tidak malu, setiap hari selalu terlambat ke sekolah?” lanjut papa dengan agak mengomel.

Rindah mendengar kata-kata papa, tapi dia tidak ingin memikirkannya, apalagi menjawabnya. Dia lebih suka kata demi kata masuk ke telinga kanannya dan keluar dari telinga kirinya. Dia sudah terbiasa diomeli seperti ini. Kata-kata itu sudah dihafalnya di luar kepala. Jadi, dia sudah kebal.

Bukan Bandung namanya kalau tidak macet di pagi hari. Gara-gara macet, mobil papa tidak bisa melaju kencang karena lalu lintas yang padat. Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah, Rindang menyalami papa, lalu turun dari mobil. Dia terpaksa berlari menuju kelasnya karena bel masuk sudah berbunyi dari tadi. Persis di depan pintu kelas, dia melihat semua temannya sudah duduk rapi di bangku masing-masing. 

Dia juga melihat Pak Iwan. Guru matematika itu sedang menerangkan sesuatu di papan tulis. Rindah bergidik. Dia tak berani masuk kelas. Rindah terlambat pada hari yang salah. Bagi anak kelas 7 A, terlambat pada hari Rabu adalah yang paling ditakuti. Penyebabnya adalah Pak Iwan terkenal dengan ketegasannya. Bahkan, bisa dikatakan, Pak Iwan adalah guru yang paling galak di sekolahnya. Melihat Pak Iwan yang sudah berdiri di depan kelas, Rindah langsung ingat pada pengalamannya minggu yang lalu.

Ketika itu, dia juga terlambat di hari Rabu. Pak Iwan pun menceramahinya tentang pentingnya menghargai waktu. Bukan hanya itu saja. Pak Iwan juga memberinya PR matematika tiga kali lebih banyak dari yang didapatkan murid lain.

Tapi Rindah tidak mungkin pulang lagi gara-gara takut, kan? Walaupun enggan, Rindah memberanikan diri mengetuk pintu kelas. Dia tidak mau dianggap terlambat lebih lama karena terdiam di luar kelas.

“Masuk,” suara Pak Iwan terdengar dari dalam kelas. 

Rindah membuka pintu. Semua mata langsung tertuju kepadanya. “Assalamu’alaikum, Pak. Maaf, saya terlambat,” kata Rindah pelan.

“Wa’alaikumsalam. Kenapa terlambat lagi?” 

“Di jalan macet, Pak.”

“Kamu sudah tahu kalau Bandung macet, kan? Kenapa kamu tidak berangkat lebih pagi?” bentak Pak Iwan. Teman-teman yang lain hanya terdiam melihat Rindah.

“Maaf, Pak,” kata Rindah lagi.

“Ya sudah. Duduk sana,” kata Pak Iwan.

Hati Rindah girang bukan main. Tak biasa Pak Iwan melepaskan murid begitu saja. Teman-teman melongo melihat kelakuan Pak Iwan. Biasanya, Pak Iwan akan menceramahi murid yang terlambat tentang betapa pentingnya menghargai waktu. Selama pelajaran berlangsung, hati Rindah berbunga-bunga karena kejadian tadi.

“Kring, kring, kring….”

Bunyi bel istirahat terdengar saat Rindah sedang asyik mengobrol bersama Fina dan Melani. 

Zina memanggilku, “Rin, dipanggil ke Ruang BK,” kata Zina.

“Rin, emang kamu ngelakuin apa sampai dipanggil ke Ruang BK?” tanya Melani.

“Aku enggak ngelakuin apa-apa,” kata Rindah.

“Udah, cepetan. Udah ditungguin,” kata Zina menyuruh Rindah untuk segera ke Ruang BK. Selama perjalanan, Rindah mengingat-ingat apa yang dia lakukan.

“Permisi. Bu Nima memanggil saya?” tanyanya setelah menutup pintu ruangan. Bu Nima yang sedang serius menulis, mengalihkan pandangannya ke arah Rindah. 

“Duduk sini, Rindah,” panggil Bu Nima.

Rindah pun berjalan mendekat, lalu duduk berhadapan dengan Bu Nima. “Kenapa saya dipanggil, Bu? Perasaan, saya nggak ada masalah di sekolah.”

“Apa kamu yakin, kamu tidak bikin masalah di sekolah?” tanya Bu Nima kepadanya.

Rindah terdiam. Dia tidak langsung menjawab. Lagi-lagi, dia coba mengingat-ingat. Tetap saja dia merasa tidak memiliki kesalahan apapun yang membuatnya layak dipanggil ke Ruang BK. Karena tidak juga menemukan kesalahannya, akhirnya Rindah menggelengkan kepalanya.

Rindah terdiam. Dia tidak langsung menjawab. Lagi-lagi, dia coba mengingat-ingat. Tetap saja dia merasa tidak memiliki kesalahan apapun yang membuatnya layak dipanggil ke Ruang BK. Karena tidak juga menemukan kesalahannya, akhirnya Rindah menggelengkan kepalanya.

“Kamu sering terlambat. Apa itu artinya bukan masalah?” sekali lagi Bu Nima bertanya seraya menatap Rindah dengan tajam. Rindah menutup mulutnya rapat-rapat. Meskipun baru kali ini dipanggil ke Ruang BK, dia sudah bisa menebak. Pasti sebentar lagi dia diomeli Bu Nima. 

Melihat Rindah diam saja, Bu Nima kembali berbicara, “Hampr setiap hari kamu terlambat, Rindah. Selain mengganggu kegiatan belajar, itu juga merugikan kamu. Jadi banyak ketinggalan pelajaran.”

“Bukan salahku aku terlambat. Jalan macet itulah yang seharusnya disalahkan,” Rindah menggerutu dalam hati. Dia tidak suka disalahkan. Andai jalan tidak macet, dia yakin tidak akan terlambat ke sekolah, meskipun dia terlambat bangun.

“Kamu sudah besar. Kapan belajar disiplin?” tanya Bu Nima terus berbicara. Tatapan Bu Nima tidak sedikitpun teralih dari Rindah. Dan itu membuat Rindah merasa canggung dan serba salah. 

“Huh, itu lagi, itu lagi. Kenapa sih, semua orang selalu mengingatkanku tentang disiplin?” Rindah hanya berani memprotes dalam hati. Karena kalau dia membantah, pasti urusannya jadi panjang. Daripada nanti hukumannya tambah berat, dia memilih untuk diam.

“Surat ini harus diserahkan kepada orangtuamu,” Bu Nima menyerahkan amplop di atas meja kepada Rindah.

Sejenak Rindah memperhatikan amplop tersebut. Lalu, dengan tergagap dia bertanya, “Ini surat apa, Bu?”

“Surat peringatan,” jawab Bu Nima singkat.

Dia benar-benar bingung sekarang. Apa yang ahrus dilakukannya dengan surat itu? Menyerahkannya kepada orangtuanya? Astaga! Dia langsung bisa membayangkan bagaimana papa akan marah kepadanya.

Bel berbunyi. Waktu istirahat telah berakhir. Ketakutan Rindah terganti oleh perasaan kesal dan marah gara-gara dia harus ke Ruang BK hingga waktu istirahat berakhir. 

“Sekarang, kamu kembali ke kelas. Sudah bel,” saran Bu Nima.

Rindah mengangguk. Tanpa disuruh dua kali, dia berjalan cepat meniggalkan Ruang BK. Dipanggil ke Ruang BK merupakan sesuatu yang memalukan bagi siapapun. Padahal, sebelum dipanggil ke Ruang BK tadi, hati Rindah merasa senang karena Pak Iwan tidak mengomelinya gara-gara terlambat. Karena gemas, hampir saja surat peringatan yang ada di tangannya diremasnya dan dibuang ke tong sampah. Rindah berlajan ke kelasnya.

Rindah baru saja hendak duduk di bangkunya ketika Fira dan Melani menghampirinya. Tentu saja mereka ingin tahu apa yang dialami Rindah di Ruang BK.

“Kamu tadi ngapain aja di Ruang BK, Rin?” Fira mendekati Rindah.

“Emang kamu udah bikin masalah apa sampai dipanggil?” sambung Melani.

“Main Halma,” sahut Rindah manyun. Kedua temannya langsung membelalakkan matanya, tanda mereka tidak percaya kata-kata Rindah. Setelah mengembuskan napas, Rindah pun memberi tahu, “Aku dapat SP.”

“Apa? SP?” kedu mata Fira melebar saking terkejutnya.

“Kenapa kamu dapat SP? Bukannya kamu enggak pernah bikin masalah di sekolah?” lanjutnya dengan nada heran.

“Dapat SP karena apa, sih?” ulang Melani penasaran karena Rindah tak kunjung memberi penjelasan.

“Karena sering terlambat,” kata Rindah dengan pelan.

Fira baru saja akan berbicara lagi ketika Bu Dini, guru biologi, memasuki kelas. Semua murid 7 A serempak kembali ke bangku masing-masing. Rindah mengeluarkan buku tulis dan buku paketnya dari dalam tas. Mood-nya hari ini benar-benar hancur. Selama pelajaran, Rindah tidak konsentrasi. 

“Kring, kring, kring…”

Bunyi bel saat pulang berbunyi. Zina memimpin untuk mulai berdoa, “Berdoa, mulai!” teriak Zina. Semua murid berdoa.

“Tunggu sebentar, anak-anak. Ini ada pengumuman. Besok semua murid kelas tujuh akan mengikuti program ke desa. Ini ada lembar persetujuan orangtua kalian,” ucap Bu Dini sambil menyerahkan lembaran ke murid-murid. Rindah tambah cemberut.

Sesampainya di rumah, Rindah melemparkan sepatunya di sembarang tempat. Mama yang melihat tingkahnya heran. Mama bertanya, “Kamu enggak apa-apa, Rinda?” tanya mamah sambil meletakkan buku ceritanya. 

“Tidak apa-apa, Ma,” kata Rindah terus melangkah ke kamarnya.

Di kamar, Rindah bingung untuk menyerahkan SP itu. Dia memutuskan menunggu papanya pulang. Satu jam berlalu, suara klakson mobil papa berbunyi. 

Rindah turun dan menyapa papanya, “Pa, ini…” kata Rindah menyerahkan surat itu. 

Papa tidak berkomentar. Rindah bercerita, besok akan pergi ke desa. Paginya, Rindah pergi ke desa selama empat hari tiga malam. Hari-hari itu sangat menyenangkan. Dari sana, Rindah belajar menjadi mandiri dan disiplin.


Fawziya Hanifa Islami, murid SD Al Islam 2 Jamsaren, Surakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s