Bocah, Bapak, dan Negara

Setyaningsih

KESENANGAN bisa diciptakan oleh uang, ketakutan juga muncul karena uang. Lima juta tunai bagi kaum elite kota (Jakarta) pada masa 1960-an itu wajar, tapi tidak wajar bagi bocah kampung kelas 5 SD bernama Abu dalam Kisah Petualang Cilik. Cerita garapan Dt. B. Nurdin Jakub ini diterbitkan Balai Pustaka, pertama kali pada 1967 dan mengalami cetak ulang kesembilan pada 2011. Kisah Petualang Cilik menjadi pemenang ketiga Sayembara Besar Mengarang Jenis Bacaan Remaja oleh Balai Pustaka pada 1966.

Abu menemukan tas berisi uang, “Pada pengkolan itu, sebuah tas kulit jatuh berdebam di atas jalan raya. Oto itu hilang di balik pengkolan, dan tas itu diambilnya.” Dalam ketakutan menghadapi bergepok uang, ada sedikit harapan menjadikan uang itu sebagai bekal mencari bapak. Ibu Abu sudah meninggal. Sedang bapak tiri ibarat kota yang nanti akan dihadapi Abu. Kisah Petualang Cilik secara tersurat tidak menyebutkan Jakarta, tapi pembaca bisa menganggap bahwa kota dalam cerita memang Jakarta sebagai poros bangsa Indonesia yang sedang membangun. 

Kota tidak ramah bagi Abu yang berarti tidak ramah bagi pekerja atau rakyat kalangan bawah. Bahkan meski Abu berbekal setas uang sebagai materi paling penting dan digdaya menghadapi kota, uang justru tidak menjamin. Secara moral, uang bukan milik Abu. Gagasan tentang uang dan kekayaan juga cenderung mengarah pada persepsi buruk, “Tiba-tiba timbul takutnya. Kecut hatinya. Kata orang, siapa banyak uang akan disamun orang. Dulu ibunya pernah bercerita, bahwa orang kaya itu tidak baik. Orang kaya biasanya tidak penyantun kepada orang miskin. Tak ada yang lebih baik selain hidup sederhana saja.”

Ini masalahnya. Abu seorang bocah dan bocah sendirian yang mendekap tas (uang) dengan gelisah tampak mencurigakan. Abu bertemu tukang pedati bernama Pak Adam yang kebapakan dan baik. Tapi, uang dan bayangan keterasingan kota, telanjur membuat Abu menciptakan firasat bahaya dari segala arah. Para tukang pedati ini menyimbolkan rakyat yang bergeliat dengan penerangan-penerangan ke arah kemajuan: “Apabila ia pergi ke kota ia sering mendengar radio dari rumah orang. Siaran-siaran RRI-TV dari Jakarta diikutinya baik-baik. Dia dengan kawan-kawannya duduk-duduk di bawah batang asam mendengarkan warta berita dan siaran-siaran Pemerintah. Pidato-pidato politik sangat disukainya.”

Secara tidak langsung, tukang pedati juga menghubungkan Adam dari keramahan kampung menuju kebaruan dan keterasingan kota. Kota tidak memberikan rasa aman. Pertemuan dengan bapak tiri dan teman-teman buruh kasar justru semakin menyeret Abu ke situasi berbahaya. Nurdin memang terkesan merombak hubungan keluarga. Orang-orang asing yang baik bisa saja menjadi akrab selayaknya keluarga. Orang-orang tercatat sebagai keluarga justru tidak memberi perlindungan lahir dan batin selayaknya keluarga. Dalam pelarian bersama uang yang menyusahkan, Abu semakin kukuh ingin mencari bapak. 

Dalam riwayat dua presiden, ketidaksahan atau ketidakjelasan identitas keluarga bisa membahayakan bangsa. James T. Siegel (2000) membabarkan Soekarno pernah digosipkan lahir sebagai anak haram tuan kebun Belanda dan Soeharto pernah merasa wajib menegaskan tentang silsisah keluarga karena masyarakat harus tahu dari mana ia berasal, “Otoritas keluarga diklaim oleh bangsa.” Konflik keluarga menerbitkan rasa waswas bagi Sukarno karena dianggap tidak sah. Sedang, tuduhan terlahir ningrat justru mengkhianati masa lalu kemiskinan dan perjuangan Suharto si “anak desa” sebagai pemimpin negara. 

Bagi Abu, keterikatan dengan bapak kandung melegitimasi hubungan keluarga. Pengaruh Soekarno belum sepenuhnya dihilangkan dan menjelang Soeharto berkuasa menjadikan keluarga sebagai representasi budaya dan politik ideologi pembangunan. Abidin Kusno dalam Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Soeharto (2009) menulis budaya politik rezim Soeharto alias pembangunan membuka kesempatan bagi “bapak” untuk mendorong dan mengawasi. Citra Soeharto dibentuk secara visual “jenderal yang tersenyum”. Dari teras negara, bapak tersenyum, mendukung, dan mengawasi. Rakyat harus tahu bahwa bapak bisa marah dan menebar teror. Anak-anak lebih baik bersikap patuh.  

Penggeledahan pedati ketika akan memasuki kota bisa dianggap bentuk kontrol dan pengawasan bapak atau negara. Dari sini pula, Abu berdebar memasuki kota yang juga mengartikan masuknya bocah sebagai bagian dari keluarga besar negara Indonesia: “Waktu polisi-polisi itu melakukan penggeledahan, ia duduk saja mencangkong di tepi jalan. Karena oto telah mulai banyak lewat, dan sekali-sekali menerangi tempat duduk, akhirnya ia masuk ke balik semak dan ditungguinya hingga semua pedati berlalu dari situ. Sebentar lagi ia bakal memasuki kota yang masih asing baginya. Jantungnya makin cepat berdebar-debar. Kemanakah karung yang berisi uang sebanyak itu akan dibawanya? Sekiranya ada saja orang yang hendak mengetahui isi karung itu, apa akalnya?”

Petualangan Abu dituntaskan di kantor polisi. Uang lima juta kembali kembali pada Pak Santoso. Keluarga Santoso juga ingin merawat Abu selayaknya anak. Pak Adam yang sejak awal ingin mengajak Abu yang sebatang kara tinggal bersama, singgah menjenguk Abu setiap kali melakukan perjalanan ke kota. Insiden uang telah membuka kesempatan merasai pendidikan dan menghirup pengalaman berkota dan bernegara. 

Abu belum melupakan keinginan menemukan bapak kandung: “Ia akan meneruskan petualangannya. Mencari bapak kandungnya dan mencari yang benar, yang dicita-citakannya. Hanya nanti, setelah ia mempunyai ilmu yang cukup.” Terlepas dari sampul yang tidak nyambung dengan cerita (kecuali bayangan kota yang terlihat samar), penulisan judul yang salah, dan gaya penulisan yang mungkin kurang asyik dibaca hari ini, Kisah Petualang Cilik jelas menempati konteks zamannya. Abu dan pencarian bapak merepresentasikan bangsa yang merumuskan identitas lewat pembangunan infrastruktur sekaligus jati diri. Terdengar maskulin memang. Bapak adalah penghubung pada akar ketika ibu tiada dan bapak tiri hanya menimbulkan sumber derita. Bapak seperti juga negara, menyimbolkan pengakuan atas keberadaan identitas anak-anak (bangsa). 


Setyaningsih, pekebun di sedekalacerita.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s