Setelah Wadah, Waduh!

Uun Nurcahyanti

SIANG itu seorang siswa di tempat kursusan masuk ke dapur kantin dengan raut wajah cemas. “Ada yang lihat lunch box dan container Tupperwareku, nggak?” ucapnya spontan. 

Gadis berjilbab terakota ini terlihat panik betulan. “Aduh gimana, nih, aku disuruh pulang siang ini. Tapi aku lupa naruh peralatan makan Tupperwareku.”

Kami yang menyiapkan hidangan kantin terbengong-bengong. “Emang kenapa?” sahutku. 

Sedikit tertarik dengan rasa gelisah dalam tingkah serba kikuknya. 

“Mamahku lebih sayang Tupperware-nya daripada aku, Miss. Kalau sampai ndak kubawa pulang, bisa dicoret dari daftar ahli waris, aku!”

Dapur riuh gelak tawa. “Halah…” Aminah ambil suara. 

Ora mungkin, Sa…. “

Lho, sampeyan ndak tau mamahku, Mbak.” Suara kaleng kerupuk Sasa meninggi. “Bagi mamahku, Tupperware adalah segalanya. Sepertinya itu satu-satunya hal penting dalam hidupnya. Kebanggaan dan kesayangan.”

Dapur kecil kami diliputi takjub. Tawa sudah berganti sepenuhnya rasa penasaran. 

“Adikku sampai dipotong uang sangu-nya selama empat bulan untuk mengganti harga meal box-nya yang lupa dia taruh dimana!”

“Buset!”

Hanya seruan itu yang berhasil keluar dari mulutku. 

* * *

Teringatku pada kali pertama ke kantin kampus, tahun 2000. Kampus kami masih rintisan, sehingga ruang kantin sekadar nemplek pada ujung tembok ruang kelas jurusan akuntansi. Di kantin sederhana berukuran sekitar 3 x 5 m tersebut, produk Tupperware berjajar rapi menanti kami menikmati bakso dan soto ayam. Sambal, kecap, garam, dan jeruk nipis serta cuka tersimpan di warna-warni cerah wadah bermerek Tupperware. Mangkuk dan sendok bermerk sama. Wah! 

Barangkali, kondisi diri boleh sederhana. Ruang rumah tak apa dari triplek saja. Yang penting, peralatan dan perabotan harus beraroma luar negeri. Zaman merek menuntut siapapun untuk menaati hukum gengsi. Wadah berubah menjadi waduh tak berkesudahan. Dan, suara sepeda Sasa terdengar tergesa-gesa menuju salah satu asrama dibarengi aroma lodeh rebung dan wangi dadar jagung.


Uun Nurcahyanti, penulis, tinggal di Pare, Kediri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s