“Manis” Sepanjang Masa

Bandung Mawardi

BOCAH ketagihan manis tak cuma permen. Konon, bocah ingin menjadi manis sejati dengan makan dan minum wajib manis. Hari-hari manis membuat mereka gembira. Pada suatu hari, manis-manis kadang petaka gara-gara gigis. Bocah diminta meringis tapi gigi-gigi itu perlahan menghilang. Tuduhan paling sering pasti mengarah permen. Masa demi masa, bapak-ibu sulit melarang bocah-bocah ngemut permen. Oh, “takdir” bocah kecanduan permen terjadi di pelbagai negeri.

Kita tinggalkan permen. Di rumah, bocah teringat dan ketagihan manis itu kecap. Lumrahlah bila bocah mengerti kecap manis! Di dapur atau meja makan, kecap dalam beragam kemasan terlihat bocah. Manislah! Mata melihat kecap, bocah lekas berimajinasi enak. Kita mendefinisikan enak berpokok manis. Lihatlah, bocah merasa heroik bila makan apa saja asal berkecap! Makan tanpa kecap mungkin menjadikan si bocah murung, sedih, kecewa, dan mrengut.

Ibu memiliki daftar masakan menggunakan kecap. Resmilah kecap wajib ada di dapur! Ibu membuat nasi goreng menggunakan kecap. Nah, oseng-oseng perlu kecap. Oh, sambal kecap itu memicu gairah makan! Biografi bocah turut memuat halaman-halaman bertema kecap. Di tatapan mata, kecap diwadahi botol-beling atau botol-plastik. Bocah juga bisa memilih kecap dalam bungkus plastik. Adegan terkenang adalah menuangkan kecap dari botol. Adegan itu sering membuat ibu jengkel. Bocah jarang bisa menuangkan dengan ukuran tepat. Kelebihan itu berulang terjadi. Kecap menetes di meja atau lantai dalih bagi ibu ngomel. Adegan berbeda adalah bocah nglamuti kecap plastikan. Bocah menemukan kenikmatan, selain dijilat pakai jari atau langsung ke guntingan di bungkusan plastik.

Hari demi hari, kecap diinginkan tapi memicu masalah-masalah. Makan membuat mulut dan pipi berhiaskan kecap. Duh, cipratan kecap mengenai baju atau celana! Ibu mengatakan kecap itu pliket. Tetesan-tetesan kecap bikin jengkel. Omelan memanjang bila ketahuan kecap dirubung semut. Di dapur, kecam itu idaman. Kecap pun menimbulkan kerepotan, memicu marah, tangisan, mutung, dan tawa. 

Pada suatu masa, ada bocah pasrah dalam urusan makan. Ibu tak lagi memiliki apa-apa di dapur atau meja makan untuk makan si bocah, jawaban terakhir adalah kecap. Bocah itu terbiasa makan cukup dengan menuangkan kecap di atas nasi putih. Pemandangan bikin lapar. Ibu maklum melihat bocah makan nasi dan kecap saja sudah nikmat. Tambahan mungkin tempe sebiji atau karak. Bocah malah senang mengolesi karak dengan kecap. Enak! 

Ibu ingin memanjakan bocah-bocah boleh menawarkan sekian menu berkecap. Di piring, tempe dan tahu berlumuran kecap tampak lezat. Daging berkecap makin lezat. Pengharapan ibu adalah bocah-bocah bertambah manis setelah makan gara-gara kecap. Pada episode berbeda, kecap dirindukan bagi bocah saat makan soto. Kita sulit menemukan titik awal sejarah mengenai makan soto menggunakan kecap. Bakso juga enak berkecap. Pengalaman berkecap sulit selesai. 

Dulu, si bocah itu menginginkan kecap adalah tahu acar. Ia berjanji mau membantu pekerjaan rumah atau melakukan beragam hal asal dibuatkan tahu acar. Segar. Santapan mengandung unsur kecap. Tahun-tahun berlalu, kangen masa bocah makan tahu acar. Kangen tahu acar berbeda dengan tahu kupat. Di Solo dan sekitar, kita gampang mencari warung tahu kupat atau pedagang keliling. Dulu, bocah itu suka tahu acar. Pada saat menua, ia meminta istri membuatkan tahu acar. Nostalgia. Istri agak kebingungan membuatkan tahu acar. Sekian orang menjadi tempat mengumpulkan informasi demi membuat tahu acar. Kesibukan jarang teralami selama sekian tahun untuk memenuhi permintaan suami mau makan tahu acar. 

Jadilah! Irisan tahu dan tempe ditaruh di piring, ditambahi rajangan kubis. Ada seledri dan acar-timun. Bakmi kuning. Kacang. “Ini” dan “itu” ditaruh dalam piring untuk bersekutu. Nah, kuah kecap itu mencipta kelezatan tiada tara. Si tua makan tahu acar sambil dilihati 3 bocah. Mereka bengong dan penasaran. Ibu dan bapak perlahan menjelaskan secara singkat. Bapak kangen masa lalu itu berbagi cerita kelezatan makan tahu acar saat masih bocah. Eh, tiga bocah ketularan suka tahu acar. Kecap mutlak dibutuhkan dalam merasakan kelezatan tahu acar. Si perindu masa lalu selalu saja teringat Mbok Jinah. Tahu acar buatan Mbok Jinah terlalu sederhana dan jarang lengkap tapi teringat enak bagi bocah suka makan dengan piring gembreng. Nostalgia mencantumkan kecap.      

Dulu, para ibu memiliki pilihan merek kecap. Pilihan bergantung rupa, harga, dan rasa. Iklan-iklan kecap terdengar di radio. Gambar-gambar kecap termuat dalam iklan-iklan di majalah. Di depan televisi, iklan kecap memerintah bocah-bocah ngiler dan lapar. Orang berbelanja ke warung bisa bingung melihat beragam merek kecap. Bepergian ke kota, mata kadang melihat baliho dan spanduk bertema kecap. Ah, kecap sepanjang masa. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s