Makanan dan Kegembiraan Hidup

MAKANAN ditaruh dalam kaleng untuk dimasak bisa matang dalam 2,5 menit itu datang dari negeri jauh. Makanan itu mustahil santapan atau warisan para leluhur di Nusantara. Makanan asing, datang “membonceng” kolonialisme dan keramaian di zaman kemajuan. Jenis-jenis makanan baru atau asing ikut mengubah tanah jajahan, memberi pembeda dari kesadaran baru “bermutu”. Kedatangan ingin “melawan” atau membuktikan kebalikan dari makanan-makanan untuk bocah-bocah di Niusantara kurang bergizi. Akibat ingin disampaikan berkaitan kecerdasan, kesehatan, kekuatan, dan kegembiraan. Kita mengerti segala hal datang dari Eropa atau Amerika Serikat mengaku baik dan benar. Orang-orang di tanah jajahan bertarung dalam kelumrahan dan muslihat.

Di majalah Kadjawen edisi 18 Maret 1941 dengan gambar di kulit muka adalah orang-orang menanam padi dan membajak, kita menemukan halaman iklan makanan asing tapi dibuat “terjawakan”. Lihat saja iklan itu menggunakan aksara Jawa. Iklan mengarah keluarga-keluarga Jawa. Nama saja asing, tak bisa diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Gambar orang di kaleng juga asing. Para pembaca diminta menerima kehadiran makanan asing. Belilah dan berikanlah kepada anak-anak agar bertenaga dan mendapat “kegembiraan hidup”. Makanan itu enak. Pengaruh paling terbukti di sekolah dalam belajar dan olahraga. Dulu, para orangtua memiliki duit bisa membeli makanan kalengan, meninggalkan jenang atau bubur, tak terlalu mewajibkan anak sarapan dengan nasi. Konon, makanan asing itu laris. Puluhan tahun setelah kolonialisme, keluarga-keluarga Indonesia masih menggemari dan menganggap itu berkhasiat. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s