Beban Hidup dan Hidup Ceria

Muhammad Safroni

PADA suatu senja. Awan bersama angin bermain di kejauhan. Mereka bergulung-gulung dengan riang, saling berkejaran. Terkadang berhasil menutupi sinar matahari, tak jarang ada yang bocor. Petak umpet yang terlihat menyenangkan. Warna awan menjadi sangat indah. Gelap terang membentuk gradasi yang apik. Di beberapa sudut, awan bocor, sinar matahari menembus ke bumi. Membentuk garis-garis lurus, panjang, transparan sepertinya lembut jika dapat disentuh. 

Tak lama kemudian, air hujan pun turun. Tetumbuhan senang. Rumput, bunga, dan padi, semua terlihat segar. Air hujan merupakan anugerah. Membuat semua tanaman menjadi subur. Tanpa air yang cukup tanaman akan layu dan bisa jadi mati. Mendekati malam, hujan mulai mereda. Udara terasa dingin. Membuat kebanyakan orang enggan keluar. Memilih menghangatkan badan di dalam rumah. Meringkuk berselimutkan sarung.

***

Malam itu senyap. Sembari menikmati buku tipis bercap Inpres. Suasana sajak dalam buku seolah hadir. Di kejauhan, terdengar sayup-sayup suara yang sangat khas. Suara itu mirip suara cerobong kereta api. Namun sedikit lebih merdu. Biasanya, suara itu membuat anak-anak ceria, merengek minta uang untuk membeli. Namun berbeda suasana yang digambarkan dalam salah satu sajak berjudul Tukang Kue Putu

Ngiiiing . . . ngiiing . . . ngiiiing

Kue putu masih bernyanyi

Di tengah malam

Mengalun sedih

Ngiiiiing . . . ngiiiiing

Siapa mau beli

Di larut malam begini

Pintu-pintu sudah tertutup rapat

Orang-orang sudah istirahat

Pada sajak ini, malam berarti kesedihan. Setelah hujan turun membuat orang-orang menutup pintu rumah lebih cepat. Berkumpul, beristirahat bersama keluarga. Di jalanan, penjual kue putu masih terus memikul gerobaknya. Berharap rupiah demi rupiah bisa terus dikumpulkan.

Kue putu merupakan salah satu jenis makanan tradisional Nusantara. Di Jawa, kue ini berisikan gula jawa. Kue biasa dihidangkan bersama taburan parutan kelapa. Pematangannya dengan cara dikukus, dimasukkan dalam cetakan berbentuk tabung dari potongan bambu. Saat dikukus memunculkan bunyi yang sangat khas. Kue ini sangat tepat jika dihidangkan dalam keadaan masih panas.

Tukang Kue Putu, satu di antara 13 sajak besutan Widyawati Dh. Judul puisi ini juga dipilih menjadi judul buku yang diterbitkan CV Indrapress-Si Kuncung, Jakarta. Cetak pertama pada 1975. Dari ketiga belas sajak, hanya terdapat enam buah sajak disertai dengan gambar-ilustrasi. Ilustrasi isi dan sampul digarap Sri Widodo.

Kita kembali ke sajak berjudul Tukang Kue Putu. Pada ilustrasi terlihat lelaki tua berjualan kue putu menggunakan gerobak, namun tanpa roda.  Berbentuk kotak, di atasnya terdapat tali keras melintang. Kotak terdapat dua buah. Kedua buah kotak itu dihubungkan dengan bilah bambu. Untuk memindahkan dari tempat satu ke tempat yang lain. Penjual kue putu harus memikul dengan bahunya. Tentunya itu tidak ringan. 

Pak Sapri

Menguap lambat

Badan sudah penat

Pikulan berat

Tapi harus dicari

Empat puluh rupiah lagi

Berbeda dengan saat ini, kue putu dikelilingkan dengan sepeda onthel atau sepeda motor. Saat berkeliling para pedagang hanya perlu mengayuh atau menarik gas. Walaupun cara berkeliling yang beda, namun suara penjual kue putu masih tetap sama. Seperti yang digambarkan pada potongan sajak di atas. Suara itu menjadi ciri pedagang kue putu sampai saat ini. 

Tukang kue putu memberikan gambaran perjuangan orang tua dalam mencari nafkah. Memenuhi kebutuhan hidup di negara sedang berkembang tidaklah mudah. Sepertinya Widyawati menginginkan pembaca yang ditargetkan anak-anak bisa turut memahami peluh orang tua dalam bekerja. Mereka harus belajar dengan giat agar tidak menyia-nyiakan jerih payah orang tua dalam mencari uang untuk membiayai sekolah mereka.

Sepertinya Widyawati menginginkan pembaca yang ditargetkan anak-anak bisa turut memahami peluh orang tua dalam bekerja. Mereka harus belajar dengan giat agar tidak menyia-nyiakan jerih payah orang tua dalam mencari uang untuk membiayai sekolah mereka.

***

Malam hadir di beberapa sajak Widyawati Dh lainnya. Seperti pada sajak berjudul Ketika Hujan Masih Bernyanyi. Suasana hujan dan malam menjadi kalimat pembuka. 

Ketika hujan bernyanyi di malam sepi

Di suatu gedung mewah

Orang-orang asyik menonton televisi

Dan di sudut ruang yang terang

Seekor anjing terlelap nyaman

Setiap tetes air hujan jatuh. Berbenturan dengan berbagai macam benda. Saling bertubrukan satu dengan yang lainnya. Benturan itu membentuk nada. Saat kita dengarkan dengan saksama, bunyinya indah seperti nyanyian.  

Nyanyian yang dimaksud pada sajak ini bukanlah menggambarkan kegembiraan. Sangat gamblang pada ilustrasi. Goresan tegas terlihat jelas mengilustrasikan sebuah jembatan besar. Seorang ibu yang mendekap anaknya yang masih bayi. Mereka berlindung di kolong jembatan. Anak satunya tampak tertidur pulas tak berselimut.

Sementara si bayi lelap dengan sentosa

Karena perutnya telah terisi

Si ibu khusuk berdoa

Berterima kasih pada Ilahi

Atas rezeki hari ini

Tidur lelap bukan karena beralaskan kasur empuk dan berselibut tebal. Untuk mereka yang hidup di kolong jembatan dan bantaran sungai. Patokan utama adalah perut. Perut kenyang maka tidur bisa lelap. Bau tidak sedap sudah menjadi aroma biasa. Hidup di antara tumpukan sampah pun itu lumrah.

Melihat ini kita sudah bisa menerka. Gambaran orang-orang miskin di kota besar. Seperti Jakarta dan beberapa kota besar lainnnya. Banyak orang beranggapan di kota besar nasib bisa berubah. Mereka nekat pergi ke kota besar yang begitu “kejam”. Modal mereka ke kota besar adalah keberanian. Keahlian khusus terkadang tidak dimiliki. Ini menyebabkan semakin banyak orang-orang telantar di kota besar.

Pemerintah sadar tidak bisa membendung arus urbanisasi. Dalam sajak,  diselipkan kalimat syukur. Supaya mereka tetap bisa menikmati semua kekurangan dengan terus berusaha dan berdoa. Doa dan kepasrahan bisa jadi pengobat segala penderitaan.

***

Buku kumpulan sajak ini didedikasikan sebagai bacaan anak. Anak-anak rasanya dipaksa untuk memahami kemiskinan. Perjuangan orang tua dalam mencari rupiah demi rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan memahami beratnya menjalani hidup, berharap pembaca bisa memiliki semangat untuk berubah. Pemerintah tidak ingin melihat anak-anak yang ngelokro. Buku anak yang diterbitkan tidak banyak menggambarkan keceriaan anak bermain. 

Dengan memahami beratnya menjalani hidup, berharap pembaca bisa memiliki semangat untuk berubah. Pemerintah tidak ingin melihat anak-anak yang ngelokro. Buku anak yang diterbitkan tidak banyak menggambarkan keceriaan anak bermain. 

Sajak pertama dalam buku ini menggambarkan seorang anak serba bisa. Orde Baru ingin membentuk anak-anak sempurna. Sajak berjudul Rini Si Serba Bisa. Judul itu sudah sangat jelas. Sajak dihadirkan agar pembaca bisa meneladani tokoh Rini. Seorang anak yang ramah, selalu gembira, pandai, tangkas, tidak pemalas, pintar bergaul, bisa menjahit, mencuci, memasak dan kehebatan-kehebatan lainnya.

***

Pada buku ini terdapat tiga buah sajak yang berjudul Di Bawah Pohon Mangga, Main Tali, dan Temanku Di Dapur. Ketiga sajak ini, menurut saya, tepat untuk dibaca anak-anak. Di Bawah Pohon Mangga menggambarkan anak-anak yang sedang bermain sekolah-sekolahan di bawah pohon. Main Tali, keceriaan mereka saat bermain bersama. Temanku Di Dapur memaparkan keceriaan di dapur bersama moncong tikus. Saya menghadirkan versi utuh sajak berjudul Main Tali.

Mari kawan-kawan 

Ramai-ramai main tali

Seorang pegang ujung kanan

Seorang pegang ujung kiri

Putar berkali-kali

Melompat ke tengah ganti berganti

Hup, hup, hup

Mengikuti irama tali

Lompat tinggi-tinggi

Dengan senang hati

Bila lelah letih

Ganti berdiri

Memutar tali

Sepanjang sajak, Main Tali menghadirkan suasana bermain anak-anak, penuh keceriaan. Tanpa beban mereka bermain. Bersuka ria bersama teman sebaya. Mereka tidak diwajibkan memahami susahnya mencari uang. Bekerja itu tanggung jawab orang tua. Anak-anak jangan sampai kehilangan masa kecil mereka. Tugas anak-anak semestinya bermain dan belajar. 


Muhammad Safroni, peminat bacaan anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s