Genggaman yang Mengantar

Nu’man Nafis Ridho

KETIKA bocah, kita mengingat genggaman tangan ibu, ayah, nenek, dan kakek. Tangan bocah mungkin dipegang dengan amat kuat atau mungkin tidak. Genggaman dimaksudkan untuk membantu bocah agar sampai di seberang jalan, taman bermain, rumah, sekolah, masjid, gereja, wihara, klenteng, juga tempat-tempat lainnya. Saat sampai tujuan, bocah dibiarkan berlari, berjalan, diam, duduk, menggali pasir, mengamati benda-benda, dan lain-lain. Peristiwa teringat sebagai suatu pembiaran atas imajinasi-imajinasi dan keingintahuan bocah.

Mungkin kita bisa mengartikan genggaman orang tua ialah pengantar. Suatu hal yang dianggap mengenali suatu awal. Layaknya sebuah buku. Genggaman itu sering muncul di awal buku. Tapi bukan berarti selalu. Terkhusus dalam buku sastra seperti novel dan cerita pendek, kita akan menjumpai genggaman itu.

Seperti pada buku cerpen pilihan Kompas 1997 yang berjudul, Anjing-anjing Menyerbu Kuburan (2017). Di buku, kita bisa membacai genggaman tangan Faruk, sebelum berimajinasi atas persepsi terhadap cerpen-cerpen. Gengaman Faruk terasa agak erat terhadap pembaca sebelum menghampiri seluruh cerpen. Kita bisa melihat ia menggenggam pembaca ke cerpen Kuntowijoyo, yang dipilih sebagai judul buku. Begini, “Pertama, saya suka metafor yang digunakan untuk menyebut orang-orang serakah sebagai anjing…. Ada seorang desa yang menjadi maling karena tekanan kemiskinan. Tiba-tiba datang beberapa anjing yang merampas rejeki (tak halal) dari orang desa yang sudah tua itu.”

Faruk menggenggam pembaca untuk mengawali mereka menjelajahi cerpen Kuntowijoyo dan cerpen-cerpen lainya. Tapi tidak menyempitkan imajinasi pembaca terhadap cerpen-cerpen. Ia hanya mengantar, tidak menjagai dengan kaku yang mengharuskan. Seno Gumira Adjidarma juga pernah mengantar pembaca sebelum mulai menelusuri cerpen-cerpen Veven Sp. Wardhana di buku Perempuan yang Gagal Jadi Kalelawar (2013)

Tidak seperti Faruk, Seno lebih lemas menggenggam pembaca untuk mengantar mereka ke cerpen-cerpen gubahan Veven. Ia tidak mengartikan maksud Veven pada setiap cerpennya. Seno hanya membeberkan beberapa kemungkinan yang sedang Veven mainkan. Juga, teknik-teknik yang mungkin Veven masukan ke dalam cerpennya. Semisal di cerpen Perempuan Ceracau (d/h Stamboel Orang-orang Tanpa Masa Lalu).

Begini kata Seno, “… bahwa nailab ngalib uka natesi menjadi kalian bilang aku setan, jelas bukan bahasa Ogan Komerng Ulu maupun Aceh, dan bukan pula penyandian preman Yogya, melainkan penyandian model preman Malang, kota asal Veven …” Genggaman Seno hanya sampai  menjelaskan apa yang coba Veven gunakan pada cerpennya. Seperti sesuai dengan maksud tulisannya, pengantar. Bukan menemani, menunggui, ataupun menjagai sampai akhir cerpen selesai dibaca. Seno hanya mengantar sampai depan, dan mempersilahkan pembaca untuk masuk lebih dalam sendirian. Terbaca juga pada buku Kumpulan Budak Setan (2016). Para penulis cerpen horor (Eka Kurniawan, Intan Paramadhita, dan Ugoran Prasad) mencoba mengantar pembaca mengenai maksud apa yang mereka munculkan pada cerpen-cerpennya. 

Pada bagian kata pengantar buku, para penulis mencoba menggenggam pembaca sampai halaman depan cerpen. Pembaca dibeberi bentuk-bentuk cerita horor yang para penulis suguhkan di buku. Kita simak, “ …  kami juga memandang horor sebagai moda yang dipertukarkan diberbagai ranah, dari panggung politik hingga kehidupan sehari-hari. Horor tak melulu soal hantu, tetapi ruang liyan yang menciptakan kemungkinan runtuhnya ‘relitas’ yang seharusnya, tatanan yang kita percaya. Horor tak beroperasi hanya dalam cerita setan, tapi juga dalam retorika politik.”

Kita mengetahui dari gengaman itu. Para penulis mencoba membawa kita ke dalam cerita horor yang tak seputar setan gentayangan yang membalas dendam. Horor bisa masuk dalam lanskap politik. Pembaca digenggam untuk mencicipi horor lain yang mereka ciptakan di buku. Namun, gengaman itu tak bermaksud pula membatasi persepsi pembaca atas cerpen mereka. Sekadar membawa pembaca mengenai sedikit ruang horor yang ditulis.

Tetapi, dalam novel Cala Ibi (2015) gubahan Nukila Amal, genggaman itu tak hadir. Nukila seakan sengaja membiarkan pembaca untuk melebarkan imajinasinya, tanpa pengenalan yang dituturkan Nukila atau orang lain. Pertanyaan para pembaca dimulai tanpa jawaban atau penjelasan. 

Nukila tidak mencoba menggenggam tangan para pembaca yang ingin berkeliling dan menjelajahi Cala Ibi. Pembaca justru diperkenankan berlari, berjalan, merenung, bingung, pusing, melongo, atau diam. Nukila tidak menghendaki pembaca musti merenung tiap menelusuri bab-bab di buku. Ia tak keberatan pembaca menghisap dalam-dalam secara nyata, ataupun maya. “Biarlah itu urusan pembaca”, begitu mungkin kata Nukila.


Nu’man Nafis Ridho, Mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s