Lama Tak Menimba

Bandung Mawardi

PADA suatu masa, pagi di rumah-rumah perdesaan memiliki suara-suara khas. Di belakang, suara itu berasal dari peristiwa orang menimba air di sumur. Air berjatuhan. Glondangan ember. Pagi memiliki upacara menimba air. Perulangan di pagi hari, air digunakan untuk memasak, mandi, mencuci, dan lain-lain. Di sumur, air itu segar. Manusia-manusia berani basah, rela mendapat dingin. 

Pelajaran sederhana bagi bocah-bocah di rumah adalah menimba air. Bocah membantu orang tua dengan membawakan air ke dapur. Ibu memasak, bocah mengangkut air dituangkan di gentong atau ember besar. Tandon untuk keperluan-keperluan di dapur. Bocah juga menimba bermisi ngebaki kolah alias mengisi bak mandi. Orang demi orang bergantian mandi, dianjurkan air jangan sampai kehabisan. Tenaga diperlukan menarik ember terisi air dari sumur. Kesabaran dan teknik membuat menimba air tak lekas melelahkan. Si bocah kadang bersenandung. Ia boleh juga mbengok-mbengok memanggil teman-teman berada di sumur berbeda atau bermain di kebun. Kebiasaan menimba menjadikan bocah bisa menghitung sekian ember berisi air bisa ngebaki kolah.

Peristiwa berbeda adalah menimba untuk memberi kesegaran tanaman di halaman atau samping rumah. Sumur terus saja memberikan air bisa digunakan dalam pelbagai peristiwa. Bocah paling senang bila menimba air dan membawa ember ke jalan masih tanah. Jalan itu disirami dengan cara menggembirakan: ngobahke ciduk berisi air. Orangtua berpesan ben dalane ora akeh bledug. Adegan menimba air memberi suara hidup bagi orang-orang di pagi hari. Bocah belajar melawan malas dengan mengeluarkan tenaga sebagai penimba. Sesama bocah biasa saingan memamerkan kekuatan lengan gara-gara rajin menimba air.  

Adegan menimba air memberi suara hidup bagi orang-orang di pagi hari. Bocah belajar melawan malas dengan mengeluarkan tenaga sebagai penimba. Sesama bocah biasa saingan memamerkan kekuatan lengan gara-gara rajin menimba air.  

Masa-masa mengerti bahwa air berada di sumur, tak mungkin bisa digunakan tanpa menimba. Kesibukan itu berganti setelah benda-benda ajaib menjanjikan kemudahan. Orang-orang di desa memberi sebutan benda apa saja bisa menjadikan air naik dan mengalir tanpa menimba adalah “sanyo”. Rumah-rumah sudah berlistrik mulai menaruh “sanyo”. Pilihan mengadakan anggaran pajak listrik menggantikan tenaga saat menimba. Bocah-bocah terlarang menggeh-menggeh lagi. Benda itu menghemat tenaga dan waktu. Orang-orang senang meski tak sadar telah kehilangan sekian peristiwa di belakang rumah. Rumah-rumah telah ketambahan pipa-pipa mengalirkan air. Kerepotan dihilangkan dengan keajaiban benda berlistrik. Suara pagi pun berubah. Di telinga, terdengar mesin demi air bisa mengalir.

Di Kompas, 31 Januari 1981, iklan besar: “Mengapa Sanyo Lebih Unggul.” Kita melihat gambar benda ajaib. Benda mustahil mengabarkan bocah mbengok-mbengok setelah ember ucul atau lepas di sumur. Senjata wajib dimiliki dan digunakan adalah genter diberi cantelan. Usaha mengambil ember di sumur itu seru. Mata harus awas dan gerakan tangan tak boleh gegabah. Adegan ngerah ember terhilangkan setelah ada benda ajaib. 

Iklan itu memiliki slogan: “Fakta tak terpisahkan antara air dan Sanyo.” Keunggulan-keunggulan Sanyo disajikan rinci dalam iklan. Pada suatu masa, benda itu dimiliki keluarga-keluarga di desa. Ongkos pajak bertambah. Konon, masalah itu kecil asal kerepotan sudah menghilang di rumah. Bocah tak mendapat tugas menimba air memilih bangun siang, malam, atau melakukan hal-hal tak bermutu. Perubahan adegan adalah bocah ngeret-ngeret selang. Air mengalir, bocah main semprotan. Hari demi hari, tahun demi tahun, masa demi masa, bocah-bocah tak lagi berada di sumur. Pengalaman menimba air tak langgeng. Di belakang rumah, sumur-sumur sudah tak tampak. 

Ongkos pajak bertambah. Konon, masalah itu kecil asal kerepotan sudah menghilang di rumah. Bocah tak mendapat tugas menimba air memilih bangun siang, malam, atau melakukan hal-hal tak bermutu.

Sedih tiba-tiba datang bila kebutuhan air sulit dipenuhi saat hari-hari hujang dan oglangan. Benda itu diam tanpa ada listrik. Orang-orang mau mandi, wudhu, memasak, mencuci, dan lain-lain. Tiada listrik, tiada air. Keluarga masih memiliki sumur masih “selamat”. Raga bergerak lagi. Kita menduga saja cara dan kenikmatan menimba berubah bila terpaksa. Begitu. 


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s