Juru Dongeng

Airin Azira Samawa Khoir

SINAR matahari tampak, tanda memulai pagi. Seperti biasa, Syifa si anak pemalas tidak langsung merapikan tempat tidurnya. Ia menuju ke kamar mandi. Ia mandi dengan tergesa-gesa karena ini sudah pukul 08.15 pagi. Hampir setiap hari, ia dimarahi. Ternyata bukan cuma hampir. Bahkan, setiap hari. 

“Syifa, ayo cepat! Kakak juga mau mandi!” bentak Kak Vina dari luar kamar mandi.

Syifa tak menjawab sepatah kata pun. Syifa memang begitu anaknya. Kadang-kadang nakal, bisa membuat bete, dan biasanya juga lucu. Setelah beberapa lama, Syifa baru keluar kamar mandi. “Lama! Kakak keburu telat, nih!” kata Kak Vina marah. 

“Kalau Kakak keburu telat, cepetan masuk daripada marah-marah. Hi, hi hi …,” sindir Syifa cengengesan. Kak Vina makin sebal pada adiknya.

“Selesai, deh, aku pakai baju. Sekarang tinggal berangkat sekolah. Asyik!” seru Syifa sambil melompat. 

Kalau masalah sekolah, Syifa sih, semangat. Tapi kalau pelajaran sudah dimulai, berulang kali dia mengucapkan, “Membosankan!” Ia juga selalu mengantuk selama pelajaran matematika. Apalagi, Bu Indri “sang ahli matematika” juga sangat galak. 

Di pertengahan pelajaran, Syifa pasti selalu bertingkah aneh, semacam mengkhayal. Dia tak hafal perkalian. Di rumah, ia paling suka menonton TV, bermain tablet dengan semangat. Sehingga, di sekolah ia cuma hafal acara televisi. Syifa pernah mempraktikkan iklan sirup Marjan di TV. Dia naik ke atas meja sambil pura-pura membawa sirup Marjan dan berkata, “Di sinilah dunia Marjan dan di sinilah tempat berbuka puasa.” Teman-temannya mengira, ini iklan saat puasa.

“Hei, Syifa, turunlah dari atas meja. Kamu akan kena batunya, dimarahi Bu Indri, lho,” pekik Brenda, salah satu temannya. Syifa diam saja. Ia langsung turun dari atas meja. Sampai ia ketahuan jika mengkhayal lagi, ia langsung dihukum dan mengikuti pelajaran dari jendela.

Tapi, Syifa tetap tidak kapok. Di jendela, ia hanya melamun dan memainkan kuku. Walaupun sudah dihukum keras, Syifa sama saja.

“Hei, masuk kamu ke kelas!” kata Bu Indri tegas. Syifa masuk sambil memainkan kukunya. 

Setelah pelajaran Bu Indri selesai, dilanjutkan pelajaran Bu Safitri. Bu Safitri sangat baik hati pada anak-anak muridnya. 

“Syifa sayang, kamu boleh berkhayal, asal jangan terlalu mencolok, ya. Sekarang, kalau kamu mengkhayal, kamu tulis di buku tulis, ya,” kata Bu Safitri penuh perhatian. Ternyata, Bu Safitri tadi sempat melihat kejadian di kelas.

“Iya, Bu, tapi apa yang harus saya tulis di buku tulis, Bu?” tanya Syifa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gatal.

“Yang ditulis di buku tulis adalah khayalanmu. Jika kamu berkhayal, tulis di buku tulis, ya, Syifa sayang,” kata Bu Safitri. 

“Nah, anak-anak. Kita akan belajar tentang kubus dan balok. Bu Safitri akan memberi kalian selembar kertas berisi soal-soal yang akan kalian kerjakan. Oke?” kata Bu Safitri sambil membagi kertas-kertas tersebut.

“Hai, kalian! Pasti kalian tak tahu siapa aku, benar, kan?” seru Syifa sambil mengerjakan soal. Dia melihat ke soal-soal itu seolah mereka hidup dan bisa menjawab Syifa.

“Hah, mulai lagi, tuh!” pekik Salma dari meja depan.

Selang 25 menit, semua anak selesai mengerjakan seluruh soal yang diberikan Bu Safitri. 

Tak disangka, lembar soal Syifa masih kosong. Haduh, ternyata Syifa tadi tertidur. Apa Syifa terkena alergi matematika? Pasti tidak karena Syifa sudah biasa tidur saat jam matematika. Kali ini, Syifa harus mendapat nilai nol. Dia hanya terpaku melihat bulatan seperti telur itu tertera di kertas soalnya.

***

Syifa tetaplah Syifa seperti dulu. Dia tetap jadi pengkhayal dan tidak memperhatikan pelajarannya. Di kelas, Syifa selalu mengkhayal. Dia bisa tiba-tiba tersenyum atau seperti mengobrol dengan seseorang. Teman-temannya sudah terbiasa dengan Syifa, membiarkannya saja. 

“Kenapa khayalanku sekarang makin mencolok. Aduh, gimana nanti kalau ketahuan? Pasti bisa kena hukuman dari Bu Safitri. Oh ya, tapi kan, Bu Safitri orangnya baik. Sudahlah, enggak usah dipikirin lagi, deh!” seru Syifa sambil menyisir rambut. 

Tapi pada suatu hari, Syifa ketahuan membaca buku di belakang kelas saat pelajaran berlangsung. Saat itu, pelajaran Bu Safitri. Syifa pikir, itu tidak apa-apa.

“Syifa sayang, apakah dari tadi kamu baca buku di situ dan tidak memperhatikan pelajaran?” tanya Bu Safitri lembut.

“Saya sudah dari tadi baca buku di sini, Bu,” seru Syifa sambil memegang buku cerita. 

“Kalau boleh tahu, buku apa yang sedang kamu baca?” tanya Bu Safitri penasaran.

Helipoter Season 5 dan Sisir Kesayangan Laura, Bu. Maafkan kalau saya tidak memperhatikan pelajaran Bu Safitri,” Syifa memohon maaf. 

“Ya, Ibu maafin,” jawab Bu Safitri sambil membuka halaman satu per satu. Syifa pun langsung membuka halaman buku matematika. Materi kali ini tentang luas dan keliling, juga menghitung volume bangun datar. Tak lama, pelajaran Bu Safitri selesai. Ada pengumuman penting yang harus didengarkan. Bu Nafi yang memberi pengumuman berkata, “Assalamu’alaikum, anak-anak.”

“Wa’alaikumsalam, Bu Nafi,” seru anak-anak kelas V B ramai.

“Kita mendapat informasi penting dari kepala sekolah. Sekolah kita terpilih untuk maju lomba mendongeng tingkat kota. Nah, siapa yang mau mewakili sekolah kita? Kalau ada anak-anak yang mau mendaftar, saya laporkan ke Bu Susi yang akan membimbing peserta nanti. Ayo, ayo, siapa, siapa?” pekik Bu Nafi pada anak-anak.

“Saya, Bu, Syifa,” kata Syifa begitu percaya diri. 

“Benar, Nak, kamu mau ikut?” tanya Bu Nafi. Bu Nafi juga tahu bagaimana reputasi Syifa di kelas sebagai tukang tidur dan malas memperhatikan pelajaran.

“Iya, Bu,” jawab Syifa.

Bu Nafi pun menyuruh Syifa ke ruang kelas IV A di bawah untuk latihan dan seleksi di sekolah. Sepulang sekolah, Syifa langsung menuju kelas IV A untuk latihan mendongeng. Syifa tahu, teman-teman dan gurunya meragukan kemampuannya. Meski di kelas dia tidak selalu memperhatikan, Syifa yakin dia bisa ikut lomba mendongeng ini. Lagipula, bukankah untuk ini semua khayalannya di kelas itu dia lakukan?

Dia masih ingat kata-kata Bu Nafi saat dia mendaftar lomba ini. “Yang benar, kamu mau ikut? Kamu kan, banyak tidak dipercaya,” jawab Bu Nafi.

“Bu, jangan seperti itu. Saya bisa kok. Tolong tulis nama saya ya, Bu,” katanya. Syifa akan membuktikan kalau dia bisa. Hari demi hari, Syifa terus latihan, sampai tiba saatnya lomba mendongeng.

***

Syifa masih terlihat gugup dengan gerakan-gerakannya. “Ya Tuhan, tolong aku,” gumam Syifa dalam hati. 

Syifa mendapat nomor urut 9. “Beruntung tidak nomor 1. Huh…” seru Syifa senang. 

“Peserta nomor urut 9, silakan,” kata pembawa acara. 

Syifa terdiam sejenak, lalu mulai mendongeng dengan suara mantap. Syifa mendongengkan cerita berjudul Three Best Friends Forever. Ceritanya panjang dan banyak bahasa Inggris-nya. Tetapi Syifa tetap bersemangat demi nama baik sekolahnya. Saat mendongeng, Syifa bisa membuat ekspresi-ekspresi yang pas. Jika tokohnya marah, dia bisa berekspresi marah. Jika tokohnya menangis, ia juga bisa menangis dengan benar. Usahanya tak sia-sia. Syifa berhasil mendapat juara. Hore!

Di sekolah, Syifa disambut dengan meriah oleh teman-temannya. 

“Selamat, sang juara!” kata Fitri, teman sekelasnya.

“Mulai sekarang, kamu sudah jadi pendongeng yang handal, sayang,” kata Bu Safitri. “Selamat ya, Nak,” lanjutnya.

“Ya, Bu, terima kasih.” Jawab Syifa.

Syifa tahu, Syifa bisa kalau berusaha. Jadi, kalau dia bisa mendongeng, dia juga pasti bisa memperhatikan pelajaran di kelas.


Airin Azira Samawa Khoir, SD Al Islam 2 Jamsaren, Solo 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s