Ibu: Makanan dan Bacaan

Yulia Loekito

“Mah, lagi masak apa? Wah, tempe! Aku minta, ya.” 

“Buk, aku ngelih.” 

“Bunda, Bobo-nya sudah datang. Ayo bacain.”

“Mah, kemarin sudah janji, lho. Malam ini mulai baca buku ini.”

Pertanyaan dan permintaan semacam ini datang terus-menerus. Pagi, siang, malam. Kemarin, hari ini, besok, dan lusa. Anak-anak suka dolan ke dapur, apalagi kalau tercium aroma makanan kesukaan mereka. Di rumah saya, aroma penarik selera itu antara lain: tempe garit, mendoan, tahu bacem, dan jagung rebus. Sesaat setelah aroma tercium,  bahkan waktu makanan belum lagi matang, anak-anak sudah mondar-mandir, keluar masuk dapur, tak sabar  ingin mencicipi. Tempe dan tahu direncanakan untuk lauk kadang-kadang bisa ludes sebelum waktunya disantap bersama nasi. Anak-anak terbujuk aroma sedap. Ibu bisa mereka jengkel tapi senang, anak-anak doyan. 

Suatu ketika, saya membuka-buka buku resep masakan, bukan menyentuh layar telepon pintar. Ibu mencari resep baru supaya menu makanan di rumah bervariasi. Ketika mencari resep masakan memakai telepon pintar, anak-anak cenderung cuek, tidak penasaran, tidak mendekat atau bertanya. Berbeda halnya, ketika saya membuka buku resep masakan. Randu (9 tahun) atau Verda (7 tahun) biasanya mendekat dan bertanya, “Mah, ngapain? Mau masak apa? Itu apa?” 

Ketika mencari resep masakan memakai telepon pintar, anak-anak cenderung cuek, tidak penasaran, tidak mendekat atau bertanya. Berbeda halnya, ketika saya membuka buku resep masakan. Randu (9 tahun) atau Verda (7 tahun) biasanya mendekat dan bertanya, “Mah, ngapain? Mau masak apa? Itu apa?” 

Aha! Niat mencari resep masakan jadi bercabang, terbujuk mengajak anak-anak membaca. “Nah, masak apa, ya, enaknya? Ayo kita baca.” Buku berjudul Upaboga di Indonesia susunan Suryatini N Ganie menarik untuk dibaca sambil cari-cari ide masakan. Selain ada resep masakan, kita juga menemukan catatan dan penjelasan menarik, baik tentang bahan makanan, asal muasal makanan, cara memasak, bahkan cara membungkus jajanan. Hal-hal bersinggungan dengan budaya sedikit banyak juga diceritakan. Makanan memang selalu bagian budaya. Misalnya ulasan tentang tempe bacem: “Untuk mereka yang bukan berasal dari etnik Jawa, tempe bacem terkadang terasa manis. Untuk mengurangi rasa manis yang dominan, kurangi gula merah dan bubuhkan sedikit asam jawa pada air perebus.” 

Kalau buku dibaca bersama anak-anak, akan memancing pertanyaan. Pertanyaan bisa jadi seperti ini, “Apa itu etnik?” Lalu disambung. “Memangnya kenapa kok orang Jawa suka manis?” Terbuka pintu obrolan tentang budaya dan asal usul. Anak-anak kecil juga terbiasa tidak sungkan bertanya. Kebiasaan tak sungkan bertanya pada orang tua bisa jadi fondasi kuat kelak kalau anak-anak mulai jadi remaja yang rumit di tengah lingkungan teman-teman yang masih sama-sama mencari jati diri, rentan mencoba ini dan itu yang tak semuanya baik. 

Kebiasaan tak sungkan bertanya pada orang tua bisa jadi fondasi kuat kelak kalau anak-anak mulai jadi remaja yang rumit di tengah lingkungan teman-teman yang masih sama-sama mencari jati diri, rentan mencoba ini dan itu yang tak semuanya baik. 

Ibu-ibu harus berpikir cepat, kadang juga dituntut praktis. Ada ibu-ibu cenderung memilih mengganti kegiatan memasak dengan membeli makanan dari warung atau yang makin marak dilakukan sekarang, dari ojek online dengan dalih kesibukan ibu bekerja atau tak suka memasak. Tapi tetap ada banyak ibu-ibu yang memilih memasak makanan atau jajanan untuk keluarga. Alasanya bisa beragam: memang suka masak, supaya lebih sehat, atau meyakini sebagai kewajiban.

Ibu-ibu yang memilih sregep memasak punya kesempatan terbuka lebar untuk mengajari anak-anak banyak hal. Suatu ketika akhirnya kami memilih memasak kluban dan tahu bacem. Saya duduk di ruang keluarga menyiapkan bumbu-bumbunya. Verda mendekat, tertarik membantu mengupas bawang brambang. Wah! Biasaya Verda tak suka aroma brambang mentah. Ia akan menjauh kalau ada orang mengupas bawang brambang di dekatnya. Kali ini entah mengapa Verda mau mencoba dan bisa. “Aku nggak takut bawang lagi!” tuturnya gembira. Saya tersenyum lebar. Verda ternyata mau terus membantu. Ia bertanya lagi tentang daun salam. “Apa ini daun yang busuk?” Saya tertawa terbahak lalu menjelaskan kalau daun salam itu cuma kering tidak busuk dan masih enak dipakai memasak. “Ini yang bikin enak untuk bumbu jangan lodeh kesukaanmu itu,” kata saya. 

Anak belajar macam-macam saat memasak bersama. Bukan sekedar mengenal, mendata, atau menghapalkan macam-macam sayur dan rempah-rempah. Anak-anak belajar niteni, kemampuan manusia yang kian hari kian terkikis akibat banyak ditemukan teknologi yang katanya memudahkan manusia. Verda belajar niteni kalau aroma bawang-bawangan itu bisa membuat matanya perih, daun salam kering itu tidak sama dengan busuk dan masih tetap berguna. Kalau kebetulan di dekat rumah tumbuh pohon salam, Verda juga bisa niteni bagaimana bentuk daunnya, bentuk batangnya, punya pengetahuan dan kepekaan kalau ternyata alam itu penyedia kebutuhan hidupnya. 

Namun, ibu tak melulu memasak. Ibu punya kegiatan-kegiatan lain. Ibu rumah tangga maupun ibu bekerja. Kita menduga-duga apa saja ragam kegiatan ibu. Barangkali sebagian besar waktu memang digunakan untuk bekerja dan mengurus pekerjaan-pekerjaan di rumah, bisa bekerja sama dengan bapak, bisa juga tidak. Sebagian kecil waktu yang lain mungkin digunakan untuk ngerumpi bersama teman dengan pembenaran untuk menjaga kewarasan. Sebagian waktu yang lain untuk hobi dan jalan-jalan. Kita penasaran, berapa banyak ibu-ibu suka memanfaatkan waktu membaca buku. 

Kita buka Kompas, 7 Maret 2021, rubrik literasi bercerita tentang “wabah” membaca buku. Seorang ibu diceritakan: “Pandemi pun memberi keleluasaan bagi Laras (34) untuk kembali menghidupkan hobi membacanya. Sesaat setelah putrinya terlelap, pegawai swasta itu melahap berbagai buku.” Berita lebih lanjut:  “Laras merasa membaca buku membantunya tetap waras dan menguatkan ikatan dengan anaknya.” Rasa penasaran terjawab, ternyata ada ibu-ibu yang menikmati buku sebagai penjaga kewarasannya. Tak hanya itu, si ibu mengakui kalau membaca buku justru bisa menguatkan ikatan dengan anaknya. 

Ibu pembaca buku hampir pasti dengan senang hati akan mendongeng atau membacakan buku-buku untuk anak-anaknya. Bukan sekadar mendengarkan cerita,  anak-anak yang dibacakan buku merasakan limpahan kasih sayang orang tua. Anak niteni orang tuanya meluangkan waktu, memberikan diri, menanam benih kesenangan membaca. Kelak ketika anak-anak jadi dewasa punya memori tentang kasih sayang, pemberian diri, dan kegembiraan serta makna proses membaca. Lagipula, kebiasaan membaca membuat orang tak mudah berpikir instan atau sekadar ikut arus. Biasa membaca membuat hati dan pikiran orang terlatih berpikir, menimbang, membandingkan, mencari persamaan dan perbedaan, menarik kesimpulan, mengambil keputusan tepat. Dampak di permukaan tak mudah tertipu berita palsu atau hoax. 

Lagipula, kebiasaan membaca membuat orang tak mudah berpikir instan atau sekadar ikut arus. Biasa membaca membuat hati dan pikiran orang terlatih berpikir, menimbang, membandingkan, mencari persamaan dan perbedaan, menarik kesimpulan, mengambil keputusan tepat. Dampak di permukaan tak mudah tertipu berita palsu atau hoax. 

Sebelum menggagas dampak yang lebih mendalam, kita membayangkan ibu-ibu suka membaca tak perlu banyak memboroskan uang maupun waktu untuk mencari macam-macam layanan hiburan. Mampu hidup menghargai hal-hal sederhana dan mendasar. Mampu memilah yang perlu dan tidak perlu, membentuk pribadi rendah hati tidak neko-neko. Tampaknya sederhana, tapi sesungguhnya jadi bekal utama keluarga harmonis. Tindakan-tindakan terlihat sepele, tapi ibu sesungguhnya sedang mencipta keluarga penuh welas asih dari makanan dan buku. 

Anak-anak hidup di tengah keluarga meyakini proses-proses mendasar dan sederhana yang manusiawi kelak mampu berpikir tak sekedar di permukaan. Bisa berjalan menurut jalan setapak, yang mungkin tidak mulus dan lebar, tetapi menuju arah yang tepat, tujuan hidup sejati. Jalan setapak agar hidup tak sia-sia dan jadi bermakna. 


Yulia Loekito, penulis cerita anak

Instagram: yulialoekito

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s