Manusia, Kelemahan, Suasana

Margarita Riana

Purbawati mengatakan lebih baik mati daripada menikah dengan Pangeran Situbondo yang cacat. ((Maryaeni, Kejayaan dan Kemuliaan, 1997) 

MANUSIA adalah makhluk sempurna yang diciptakan Tuhan. Manusia diciptakan dengan akal dan budi yang melebihi makhluk-makhluk lain. Namun kesempurnaan yang diberikan Tuhan tidak dianggap ketika seseorang mempunyai keterbatasan fisik atau cacat. Anggapan Purbawati dan ayahnya, Jayengrono, mengungkapkan pikiran manusia tentang orang cacat. Mereka memandang rendah orang cacat bahkan Jayengrono tidak memaksa putrinya untuk menikah dengan orang cacat. 

Untuk mendukung keinginan putrinya dan juga keengganannya mempunyai menantu cacat, Jayengrono memberikan tugas berat kepada Pangeran Situbondo. Tugas yang mustahil diselesaikan oleh Pangeran Situbondo. Jayengrono yakin Pangeran Situbondo akan mati saat menjalankan tugas dan janji perjodohan antara dirinya dan orang tua Pangeran Situbondo tidak perlu ditepati.

Pandangan orang terhadap orang berkebutuhan khusus atau orang cacat memang berbeda. Banyak orang memperlakukan mereka dengan perlakuan khusus dalam arti negatif maupun positif. Di sisi positif, sekelompok orang membantu orang-orang yang berkebutuhan khusus ini dengan melatih ketrampilan. Tujuan utamanya adalah membantu menaikkan harga diri mereka dan menunjukkan bahwa orang cacat adalah orang biasa. Mereka bukan orang buangan atau orang yang tidak berguna sama sekali di lingkungan.

Dengan adanya ketrampilan khusus ini, orang-orang yang memandang rendah akan memiliki cara pandang berbeda dan lebih menghargai. Kita harus lebih bisa menghargai keterbatasan itu, supaya pandangan buruk terhadap orang cacat semakin berkurang karena saat ini terbukti mereka juga punya banyak talenta. Lagipula, keinginan yang teguh juga mereka miliki dalam keterbatasan mereka.

* * *

Pak Sakerah yang senang dengan tayub lupa daratan karena mabuk. Ia berjoget sambil sempoyongan. Ketika sedang asyik berjoget dan dalam keadaan mabuk, Belanda menembak Pak Sakerah. Beberapa saat kemudian Pak Sakerah ditangkap dan dipenjarakan lagi di Kalisosok. ((Maryaeni, Kejayaan dan Kemuliaan, 1997)

Pak Sakerah terkenal karena kekuatannya yang dapat membunuh orang, dengan mudah akan takluk dengan hal sepele, tari tayub. Sebelum ia dapat ditaklukkan, Menir Asisten mencari berbagai cara untuk menangkapnya. Menir Asisten meminta bantuan pada petinggi-petinggi di Surabaya untuk menangkapnya. Kegagalanlah yang didapat. Cara lain dilakukan yaitu dengan mengerahkan pasukan Belanda. Namun, semua utusan Belanda ditaklukkan Pak Sakerah. Semua dibunuh Pak Sakerah dengan mudah. Akal Menir Asisten terus mencari jalan. Sampai pada akhirnya, ia mencari kelemahan Pak Sakerah. Tidak mudah menemukannya. Sehingga, sampailah ia pada keinginan untuk mendapatkan informasi ini melalui teman-teman Pak Sakerah. Sikap setia diambil oleh sebagian besar teman Pak Sakerah dengan tak memberi informasi. Hanya satu dari mereka, Bakri, yang akhirnya bekerja sama untuk menangkap Pak Sakerah dengan menggelar tari tayub. Kunci emas berupa kelemahan Pak Sakerah digunakan dengan sangat baik oleh Belanda. Semua penonton yang hadir dilarang membawa senjata termasuh Pak Sakerah. Dan di pagelaran kesukaannya itulah Pak Sakerah akhirnya berhasil ditangkap.

Dari cerita ini, terlihat jika orang terdekatlah orang yang paling tahu kelemahan kita. Apakah dengan mengetahui kelemahan orang lain kita menjadi orang yang lebih hebat? Apakah kita menjadi lebih pintar dan kuat? Atau apakah kita lebih berkuasa atas orang itu?

Kelemahan seseorang biasa menjadi kunci emas. Kunci emas yang digunakan siapa saja untuk menaklukkan orang. Terkadang orang menggunakan kunci emas ini untuk mengambil kejayaan, kekuatan, dan kekayaan orang pemilik kunci. Bahkan kunci emas digunakan untuk mengambil nyawa. Manusia berakal mengambil kunci ini dengan seenaknya. Apakah manusia dapat disebut sebagai manusia berhati nurani saat ia memanfaatkan kunci itu untuk mengambil yang bukan haknya?

Manusia mempunyai akal dan nurani untuk hidup bersama manusia dan ciptaan lain. Akal yang diasah menjadikan manusia pintar dan cerdik. Banyak instansi sekolah yang menawarkan ini. Nurani yang diasah menjadikan manusia berhati nurani. Hati nurani yang terasah akan mencipta manusia bermoral, manusia yang berbela rasa. Empati yang lekat pada manusia mengarahkan kehidupan manusia pada rasa damai. Hal-hal duniawi bukan fokus kehidupannya. Manusia tidak akan mudah berkhianat seperti Bakri pada cerita di atas. Manusia yang tidak mudah tergiur kekuasaan dan kekayaan. Lalu, di mana dan bagaimana mengasahnya? Apakah kita perlu membuat sekolah khusus untuk mengasah hati nurani? Apakah itu mungkin? 

* * *

Suasana teduh, damai, dan nyaman pun dapat dirasakannya ketika ia menatap lereng bukit yang penuh dengan kehijauan uang tersentuh oleh tangan-tangan yang peduli dengan lingkungan dan yang tidak sekadar menghitung laba dan rugi. ((Maryaeni, Kejayaan dan Kemuliaan, 1997)

Buku berjudul Kejayaan dan Kemuliaan ditulis sekitar tahun 1995-1997. Penulis mengungkapkan kerusakan alam yang sudah terjadi sejak saat itu. Keprihatinan penulis jelas tersurat dalam kutipan di atas. Pada kutipan, terlihat juga ada beberapa orang pemerhati alam sekaligus menjadi si tukang tanam pohon di lereng bukit. Orang-orang itu tidak peduli dengan keuntungan dan kerugian saat mereka menanam atau setelahnya. Pengorbanan dan perjuangan mereka sebanding dengan rasa damai, nyaman, dan tenang dari pohon-pohon itu sendiri.

Pada masa 2000-an, suasana damai, tenang, dan nyaman dicari-cari bahkan diburu. Orang-orang dengan rakusnya menikmati suasana nyaman yang tercipta dari pepohonan yang asri, rumpun bunga yang segar, dan hamparan padi di sawah. Mereka berbondong-bondong mengunjungi rasa nyaman di hijaunya pemandangan yang tercipta. Mereka berduyun-duyun membawa keruwetan pikiran dan perasaan untuk dilepaskan di sana. Sesaat menitipkan “beban” mereka pada pepohonan dan bunga-bunga indah.

Hal buruk terjadi saat perburuan ini dilakukan oleh banyak orang. Rasa nyaman berganti rasa bosan dan penat akibat timbunan sampah makanan bekal. Tanaman hijau mulai tumbang karena para pemburu tidak mencintai mereka. Si pemburu hanya mengambil apa yang mereka butuhkan. Rasa nyaman dan damai untuk diri mereka sendiri.


Margarita Riana, ibu rumah tangga yang gemar mengajar anak-anak dan aktif di Komunitas Belajar Alternatif Green Meadow 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s