Kita (Masih) di Bumi

Victoria Dian Ginting

TAHUN kemarin, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba memakai menstrual pad, setelah satu tahun sebelumnya sengaja membelinya di online market ketika masih hamil anak ke-3. Mengapa menstrual pad? Sebab, saya ingin belajar mencintai Bumi dengan go green. Belajar ngirit juga. Menstrual pad ini katanya bisa sama aman dengan pemakaian pembalut biasa, yang tidak bocor dengan kelebihan, tidak menyebabkan sampah karena bisa dicuci. Pembalut biasa hanya dipakai satu kali lantas dicuci buang.

Ide menstrual pad sebetulnya mirip dengan clodi yang dipakai oleh anak-anak batita. Hanya dari desain dan bentuk lebih disesuaikan dengan kebutuhan wanita dewasa. Jadi, biasanya menstrual pad ini dijual dengan berbagai motif serta ukuran. Hampir mirip pembalut biasa dengan tulisan reguler, maxi, atau night yang menandai untuk pemakaian di hari menstruasi deras keluar atau sudah tinggal sedikit. Kalau pembalut mungkin bisa bertahan lebih dari 2 jam, menstrual pad direkomendasikan diganti tiap 2 jam. Lalu segera dicuci karena terkena darah kotor.

Saya sendiri kemudian juga mengikuti petunjuk ini, tiap 2 jam mengecek. Cuma memang tidak setiap hari ada waktu sela untuk setiap 2 jam mengganti. Ini yang masih jadi tantangan saya demi go green sekaligus harus belajar komitmen. Tahun depan, mungkin saya akan mencoba penggunaan menstrual cup. Yang katanya tinggal pasang, lalu kalau penuh dibuang, dicuci, dan pakai lagi. Semudah itu. Semoga teteg. Sebab, kalau sekarang lihat bentuknya saja rasanya masih maju mundur mau memakai. Yang pad memang sudah lebih enjoy karena mirip dengan pembalut biasa dari bentuknya. Sedangkan kalau dari sisi hematnya, jelas keduanya sama-sama menghemat receh yang habis setiap bulan dipakai membeli pembalut.

Jika kemudian balik lagi ke ide go green dan saya, maka di sini saya ingin berbagi pendapat: melihat go green tidak sebagai suatu keharusan yang dipaksakan. Walau memang dalam pelaksanaannya saya membutuhkan komitmen. Go green untuk saya lebih menjadi sebuah perjalanan penyadaran, perjalanan saya menyikapi hidup, dan perjalanan berbenah.

Ternyata tidak semua kita memiliki kapasitas yang sama untuk mengkaji apa saja kebutuhan kita dengan benar. Kemudian mudah mencukupi kebutuhan harian kita. Ada dari kita yang masih berproses-belajar mengenali pola makan yang sehat, menabung untuk saving di hari tua, membersamai anak-anak, menata rumah, hingga mencari ide mendapatkan penghasilan yang oke di masa pandemi. Sehingga, bisa saya katakan go green ini akhirnya malah lebih mengena jika dikaitkan dengan proses diri sendiri. Saya menyadari menjadi bagian dari alam. Saya terus berusaha mencari solusi supaya alam terjaga dan seimbang. Tidak pas jika kemudian menilai pihak lain tidak peduli lingkungan atau tidak go green karena memang tujuan aksi ini bukan untuk menunjukkan diri siapa lebih go green. Tapi, bersinergi dan saling mengapresiasi. Saling tukar ide dan saling bantu mengingatkan, sekalilgus saling memberi masukan.

Saya terus berusaha mencari solusi supaya alam terjaga dan seimbang. Tidak pas jika kemudian menilai pihak lain tidak peduli lingkungan atau tidak go green karena memang tujuan aksi ini bukan untuk menunjukkan diri siapa lebih go green. Tapi, bersinergi dan saling mengapresiasi.

Ambillah contoh saya sendiri. Kalau diminta seperti orang-orang yang sudah mengkompos berdrum-drum, saya juga belum bisa. Tapi saya berusaha konsisten memilah sampah. Itu yang sejauh ini saya bisa lakukan. Saya memasukkan bahan organik ke komposter drum besar yang langsung menyambung ke tanah. Sehingga, airnya meresap ke tanah sekitar. Saya rutin mengepak sampah unorganik untuk dikirim ke bank sampah.  Di sisi lain, seorang teman saya mengumpulkan plastik-plastik di lingkungannya untuk kemudian diberikan ke bapak dari dinas kebersihan untuk diolah. Lalu, teman saya yang lain lagi mencoba tidak menggunakan botol atau gelas minum sekali pakai. Saya pikir, kami sama-sama mencintai Bumi, tetapi memaknai go green beragam cara.

Proses ini saya rasa menyenangkan. Kita bersama dengan berbagai upaya, mencoba melakukan sesuatu untuk Bumi. Sesuai kemampuan kita masing-masing, sesuai dengan apa yang kita tahu bisa membantu Bumi, mencoba aksi nyata untuk Bumi. 


Victoria Dian Ginting, Istri dari seorang suami yang berprofesi menerima servis alat musik tiup saxophone dan ibu dari 3 anak 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s