Mengetuk Pintu

Bandung Mawardi

BOCAH-BOCAH bercelana merah itu mbengok-mbengok. Satu nama dipanggil berulang. Keras. Panggilan mirip paduan suara, bisa juga bergantian. Kuping-kuping mendengar. Jemaah bocah berada di depan rumah. Tampang cengengesan, tak merasa bersalah membikin “orkes nama” terdengar di rumah-rumah. Pilihan tergampang bagi bocah memanggil teman. Demonstrasi bermisi berhasil “mengeluarkan” teman dari rumah. Mereka ingin bermain bersama! 

Pada peristiwa berbeda, ibu meminta si bocah mengantar barang atau makanan ke rumah tetangga. Pesan-pesan disampaikan agar si bocah memiliki sopan santun. Petunjuk terpenting di Jawa adalah mengucap salam: kulonuwun. Dulu, bocah mengucap dengan gemetar. Ucapan terdengar pelan atau kebablasan keras, setelah tangan mengetuk pintu. Keberanian diperlukan dalam mengucap kulonuwun dan melanjutkan kata-kata sudah diajarkan ibu. Pengucapan dalam bahasa Jawa terasa sulit. Jawa halus makin sulit. Bocah menjadi salah tingkah. Kulonuwun telah berhasil terucap tapi deret kata tersendat mengakibatkan tatapan mata menambahi gemetar. Detik demi detik, tetangga mengaku sudah mengerti “ini” dan “itu” disampaikan bocah. Lega. Pulanglah si bocah, tak lupa mengucap maturnuwun atau pareng.

Masa itu menjauh. Pintu-pintu tetangga mulai jarang mendapat sentuhan atau ketukan tangan. Tahun-tahun berdatangan, bel dipasang di dekat atau samping pintu. Ada juga bel di depan: menempel pagar. Rumah-rumah berpagar dan memiliki gerbang. Tangan si bocah tak mungkin mengetuk pagar atau gerbang. Gerakan tangan berubah. Mulut pun berubah cara dalam mengucap. Bel-bel beragam suara. Benda itu kadang menggoda bocah usil. Ia lewat depan rumah orang. Jari menekan atau memijat bel. Bersuara! Bocah lari. Pemilik rumah membuka pintu. Bingung. Oh, tamune ngilang

Kangen mengetuk pintu. Orang kangen membuka buku berjudul Pendidikan Moral Pancasila untuk SD kelas 1, terbitan Depdikbud, 1980. Buku mengesankan bagi bocah-bocah bercelana merah masa Orde Baru. Buku wajib dipelajari dan diamalkan. Murid-murid dipinjami negara diurus oleh perpustakaan atau guru pelajaran. Buku sulit dilupakan. 

Di halaman 42, peristiwa: “wati berkunjung ke rumah ira/ pintu rumah ira tertutup/ tidak ada orang yang tampak/ wati mengetuk pintu/ ira keluar menemui wati/ kemudian, budi datang/ dia tidak mengetuk pintu/ tetapi mengucap salam. Pelajaran penting dalam buku PMP: mengetuk pintu dan mengucap salam. Di pelbagai tempat, ucapan bagi tamu berbeda. Di Jawa, orang terbiasa mengucap kulonuwun, sebelum orang-orang mulai sering mengucap assalaamu’alaikum.  

Bocah berhasil mengetuk pintu dan mengucap salam dianggap sesuai dengan Pancasila. Tahun demi tahun berlalu, peristiwa itu perlahan terabaikan. Cara mengetuk pintu bukan lagi pelajaran kesopanan. Pilihan kata mengesankan ada pengaruh agama atau adab dari negeri jauh. Pada masa Orde Baru, buku-buku bertema sopan santun atau tata krama memiliki bab bertamu. Di sekolah, masalah itu diajarkan tapi memerlukan contoh beragam. Rumah-rumah berbeda penampilan dan kesan. Orang mau bertamu wajib memiliki sekian keterangan sebelum memilih perbuatan dan kata.

Ketukan pintu justru dijadikan lelucon bagi bocah-bocah senang menonton film horor. Peristiwa tak ada hubungan lagi dengan pelajaran PMP. Pintu menjadi penting dalam film-film horor, tentu tak cuma ketukan. Ah, ingat masa lalu di rumah dihuni keluarga Mbok Jinah dan Pak Dirin. 

Sekian tahun, rumah itu ramai. Rumah bagi siapa saja ingin ngobrol ngalor-ngidul, mangan bareng, dolanan remi dodokan, dan lain-lain. Para tetangga sering dolan, sejak pagi sampai malam. Pintu pun jarang dikunci, memberi tanda bagi siapa saja boleh masuk rumah. Keakraban tak lagi mengecap mereka tamu. Pintu itu sering dipegang dan dipandang orang-orang. Pintu tak pernah kesepian. Pintu mudah terbuka untuk srawung. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s