Jajan dan Bekal

Fathikah Zahirah Yosniar

SAAT istirahat, Kejora keluar dari kelasnya bersama Riri. Di luar kelas, ia melihat teman-temannya memakan bekal yang dibawa dari rumah. Kejora berkata, “Buat apa sih, repot-repot bawa bekal? Mending jajan.” Riri hanya tersenyum. 

Kejora dan Riri membeli makanan yang hampir menghabiskan uang Rp 10.000, ditambah lagi Rp 5.000 untuk jajan di rumah. Ia dan Riri adalah dua sahabat yang  sangat suka jajan. Sebenarnya, kedua sahabat yang suka jajan ini sudah ditegur oleh orangtuanya masing-masing. Namun, mereka adalah anak bandel. Padahal, ibu Kejora juga membawakan bekal untuk Kejora. Dia jarang memakannya. Kedua sahabat ini sering disebut “tukang makan”. Namun, mereka sangat tidak peduli. 

Kedua sahabat tukang makan terlihat tertawa sambil memakan jajanan yang dibeli di kantin. Tiba-tiba, Bu Ningsih datang. Semua murid di kelas segera duduk. Kejora langsung menampakkan wajah jeleknya. Ia sangat tidak suka pelajaran Bu Ningsih. Namun, Kejora harus menikmatinya. Ia harus rela mengikuti pelajaran Bu Ningsih agar tidak dihukum. Pelajaran Bu Ningsih pun selesai. Kejora bernapas lega. Ia senang pelajaran Bu Ningsih selesai. 

Bel tanda pulang pun berbunyi. Semua siswa pulang. Sambil menunggu jemputan, ia jajan bersama Riri di luar sekolah. Ibu Kejora sudah mengingatkan Kejora hingga kehabisan kata-kata. Ia dan Riri tidak menyadari betapa bahayanya jajan sembarangan. Di luar sekolah, Riri dan Kejora membeli makanan yang tidak sehat. Tukang makan itu merasa baik-baik saja. 

Bel tanda pulang pun berbunyi. Semua siswa pulang. Sambil menunggu jemputan, ia jajan bersama Riri di luar sekolah. Ibu Kejora sudah mengingatkan Kejora hingga kehabisan kata-kata. Ia dan Riri tidak menyadari betapa bahayanya jajan sembarangan. Di luar sekolah, Riri dan Kejora membeli makanan yang tidak sehat. Tukang makan itu merasa baik-baik saja.

Akhirnya, mereka berdua berpisah. Riri dijemput oleh pembantu rumahnya, sedangkan Kejora mengendarai sepeda birunya. Kejora pun sampai di rumah. Ia membuka pagar rumah dan segera menutupnya. Ia memarkir sepeda dan segera mencopot sepatunya. Kejora menjinjing sepatunya dan mengetuk pintu. Ibu yang mendengar suara ketukan pintu langsung membukakannya. Kejora pun masuk dan menuju kamarnya. Ia terlihat buru-buru berganti pakaian. Ia lalu membuka tas untuk mengambil jajanannya. 

Kejora pun turun dari tangga. Ia memakan jajanannya sambil menonton televisi. Sepuluh menit ia rampung memakan jajanannya. Ia menuju meja makan untuk mengetahui,  hari ini ibunya memasak apa. Ternyata hanya ada satu panci sayur kangkung dan 10 buah tempe goreng. 

“Uh, makan ini lagi. Membosankan!” kata Kejora sambil mengambil piring dan mengambil nasi. Kejora tetap memakannya. Sebenarnya, ia tidak suka sayur kangkung. Ia membayangkan sayur kangkung itu seperti lendir hijau. Ia memakannya dengan wajah cemberut. Ibu yang melihat Kejora berwajah cemberut segera menghampiri anak keduanya itu. 

“Kamu tidak suka makan  sayur kangkung, ya?” tanya ibu sambil menatap mata anaknya. Kejora hanya diam dan hanya mengunyah makanannya. 

“Kamu juga tidak suka tempe? Mengapa Kejora?” tanya ibu. 

“Ya, Ibu, aku tidak suka sayur kangkung. Ia seperti lendir hijau dan tempe adalah makanan membosankan. Lebih enak jajan,” kata Kejora dengan nada agak tinggi. 

“Kamu tidak boleh banyak jajan. Kamu bisa sakit, Kejora. Lihat, Riri, baru saja sakit perut akibat makanan tidak sehat,” kata ibu dengan nada  membujuk.

Kejora hanya diam dan segera keluar rumah. Ia marah pada ibunya. Kejora pun mencari pedagang tempura. Ia menemukan pedagang tempura di gang sempit. Ia segera membeli tempura. Sementara di rumah, ibunya sangat khawatir dengan Kejora. Ibunya sangat takut jika Kejora akan mengalami sakit perut sama yang dialami Riri. Akhirnya, Kejora kembali pulang dengan membawa tempura bakar. Pagar rumah Kejora terbuka. Kejora masuk dan membanting pintu.

Ibu yang melihat anaknya berwajah marah langsung memarahi anaknya. “Kejora, kamu masih kecil bandel banget. Sama kayak kakakmu, Bulan. Kamu tahu nggak, kalau sebenarnya kuas yang digunakan pada tempura bisa saja ada lalatnya dan bisa membuat perutmu sakit, Kejora.”

Kejora hanya mendengarkan ibunya dan segera pergi. Ia makan sambil menonton acara TV favoritnya, We Bare Bears. Ibunya hanya bisa pasrah. Kejora pun tertidur dengan remot TV di tangannya.

 “Kejora, kamu ngapain di kamar? Kejora…” ibu memanggil Kejora. Tidak ada jawaban dari Kejora. Segeralah ibu Kejora memanggil Bulan, kakak Kejora. 

“Bulan, coba lihat adikmu di kamar.”

“Ibu ajalah yang lihat. Bulan lagi ngerjain PR, nih,” kata Kak Bulan. 

“Ini ibu masih mencuci baju, banyak pula. Bantuin Ibu sekali aja Bulan, Ibu masih repot,” kata ibu memohon.

“Baiklah, Bu,” Bulan pun membuka pintu kamar Kejora. Rupanya, Kejora tertidur pulas dengan TV menyala. Bulan segera mengambil remote dengan perlahan dan mematikan TV-nya. Bulan pun menutup pintu kamar Kejora. 

“Ibu, Kejora tertidur pulas,” Bulan berteriak dan melihat ke bawah. 

“Ya udah, kalau Kejora tidur,” kata ibu yang masih mengucek baju-baju. 

Satu jam sudah Kejora tertidur. Ia pun bangun sambil mengucek matanya. Ia segera menatap jam wakernya. Rupanya ini sudah jam lima sore. Ia lupa bahwa ia akan les di rumah Kak Erlina. Kejora segera turun dan mandi. Sepuluh menit berselang, Kejora sudah salat dan berpakaian rapi. Ia berpamitan pada ibunya. Saat ia sampai ternyata  di rumah Kak Erlina, muridnya masih sedikit. Kejora akhirnya menuggu semua murid Kak Erlina hingga banyak. 

Les dimulai. Les pun selesai pukul 18.00 WIB. Kejora segera pulang. Ibu mengajak Kejora makan. Kejora segera menuju meja makan. Ia senang sekali. Saat ia membuka tudung saji, rupa-rupanya  hanya ada sayur kangkung dan tempe lagi. Kejora hanya memasang wajah cemberut. Ibu dan kakaknya tidak memperhatikan Kejora. Kejora pun marah dan  hanya makan lima suap saja. Ibu yang melihat anaknya begitu hanya pasrah. Ibunya tidak tahu harus bagaimana menghadapi Kejora yang bandel melebihi kakaknya. Kejora salat dan dilanjut tidur. Ibu pun segera melihat anaknya. Ibu mengelus-elus kepala anaknya yang tertidur pulas dan menyelimuti anaknya. 

Jam weker Kejora berbunyi. Kejora segera bangun dan menunaikan salat subuh. Kejora turun dan mandi. Ia sudah memakai baju seragam dan sepatu, lalu sarapan dengan sayur sop dan perkedel bersama ibu dan kakaknya. Setelah sarapan, Kejora menuju sekolahnya. Ternyata di kelasnya, teman-teman sedang membicarakan bekal yang dibawa. 

Kejora yang melihat Riri segera bertanya, “Apa kau sudah benar-benar pulih, Riri? Apa kau sakit perut?” 

Riri tersenyum dan mulai berakata, “Aku memang benar sakit perut. Tapi sudah membaik. Mulai sekarang aku tidak akan jajan sembarangan. Aku juga sudah membawa bekal dari rumah.” 

Kejora sangat kaget dan tidak menyangka bahwa sahabatnya tidak menjadi bandel lagi. Riri pun segera membahas tentang bekal yang dibawa Kejora. Namun, Kejora hanya mengangkat bahunya. Saat pelajaran Pak Ahmad, dia membahas tentang sayur. Mendadak, Kejora jadi tidak semangat belajar. Tiga puluh menit berselang, pelajaran Pak Ahmad selesai. Pelajaran dilanjutkan oleh Bu Siti, lalu bel tanda istirahat berbunyi. Semua siswa istirahat. Saat Kejora hendak istirahat, langkahnya terhenti oleh Riri. Rupanya Riri mengajak Kejora makan bekal. 

Sebenarnya, Kejora tidak mau memakan bekalnya. Namun, ia ingat kata-kata Riri dan menerima tawaran Riri. Saat membuka bekal, ia mendapat sayur kangkung dan nugget yang enak. Kejora hanya menampakkan wajah pasrahnya. Riri yang mengetahui wajah Kejora yang kurang menyenangkan segera angkat bicara, “Kamu tidak suka kangkung, ya? Padahal sayur kangkung punya banyak vitamin lho, enak lagi. Kamu harus makan Kejora. Kalau tidak, kamu bisa sakit kayak aku.” 

Kejora pun menaati kata-kata sahabatnya. Dan ia pun memakannya tanpa merasa jijik. Kejora merasa sayur kangkung ini sangat istimewa. Rupanya, ibunya Kejora sudah memberi bumbu rahasia di sayur kangkungnya. Riri bahagia karena bisa membantu sahabatnya. Kejora pun berterima kasih pada Riri. Riri membalas dengan senyuman. Bel tanda masuk pun berbunyi. 

Kejora dan Riri masuk kelas dan memulai pelajaran. Satu jam berlalu, bel tanda pulang berbunyi nyaring. Semua siswa berhamburan pulang. Begitu juga dengan Kejora. Ia pulang dengan sepeda birunya. Di tengah jalan, Kejora melihat seorang ibu dengan anaknya terlihat kelaparan. Kejora sebenarnya ingin jajan. Namun, ia memberi uang sebanyak Rp 10.000 unuk ibu dan anaknya. Ibu dan anaknya tadi segera berterima kasih. Kejora tersenyum senang. Ia senang bisa membantu. 

Sesampainya di rumah, Kejora mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Kejora segera membuka pintu. Ternyata, ibunya tidur. Kejora memutuskan berganti pakaian. Ia yang tadinya memakai baju seragam berganti berpakaian santai. Kejora segera membuka tudung saji. Ternyata, tidak ada apa-apa. Kejora segera membuka kulkas. Ia melihat tempe di kulkasnya. Ia pun mempunyai ide cemerlang. Ia memotong tempe seperti yang dilakukan ibunya, segera menggorengnya. Ia menggoreng terlalu lama dan beberapa tempe gosong. 

Ibu yang mencium bau gosong segera bangun dan menuju dapur. Ibu pun tertawa terbahak-bahak. Sementara Kejora hanya takut dan segera tersenyum. Namun, ibu tahu anaknya masih belajar dan akan lebih banyak mengajari anaknya memasak. Kejora akhirnya tahu, kita tidak boleh membuang makanan. 


Fathikah Zahirah Yosniar, murid SD Al Islam Jamsaren, Surakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s