Ibu dan Dipatri Namaku

Yessita Dewi

PADA suatu hari, beberapa pengurus PKK tingkat RT bersepakat mengunjungi salah satu warga yang pindah rumah. Biar tidak merepotkan, kami berencana membawa sajian dan menu untuk dimakan bersama nanti. Ada bakso, kroket, bakwan jagung, dan buah. Pemilik rumah yang tadinya menolak, akhirnya setuju, hanya menyiapkan mangkok dan piring untuk menyajikan.

Tadinya, obrolan seru di grup itu sekadar tentang mangkok bakso. Aku jadi tahu bahwa saat ini beberapa keluarga muda hanya memiliki perangkat makan seperti piring, mangkok, gelas, dan cangkir sejumlah penghuni rumah saja. Woho, aku sedikit takjub! Sebab, di lemariku ada mangkok dan piring keramik pemberian ibu yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah tamu arisan yang rutin hadir. Dulu, ibu yang memaksaku untuk membawa pulang. Nasihat ibu adalah jangan sampai ketika tamu datang kamu kekurangan piring dan sendok. Ora ilok! Baiklah. Ternyata memang aku tak pernah pusing ketika mendapat jatah menerima tamu arisan. 

Nasihat ibu adalah jangan sampai ketika tamu datang kamu kekurangan piring dan sendok. Ora ilok! Baiklah.

Saat ini, ada kegiatan rutinku yaitu menemani ibu yang kebetulan sering tidak nafsu makan, dan akan terbit rasa lapar ketika aku datang membawa hasil masakan. Masakan sederhana yang sering ibu masak dulu: sup krim, stoop, dan masakan ringan lain tetapi bergizi. Ibu akan semangat ketika dhahar dengan piring-piring koleksinya. Kubuka lemari ukir yang konon usianya lebih tua dari adikku nomor tiga. Di situ, masih kulihat tumpukan piring-piring berbagai warna dan jenis. Ada juga mangkok-mangkok dan sendok yang terkumpul rapi meski sudah tak sebanyak dulu jumlahnya. Di balik piring dan mangkok duralec itu, ada namaku. Jadi ingat dulu ketika aku kecil, ibu memanggil tukang patri untuk menamai semua perangkat pecah belah dengan namaku.

Pun ketika berkunjung ke rumah Bulik dari pihak suami, beberapa perangkat seperti sendok, basi (mangkok besar biasanya untuk sajian sayur berkuah) ada nama anak perempuannya: Nunik. Aku terkekeh karena hal yang sama terjadi di sini. Mangkok dan sendok itu bernama. Bulik ikut tertawa: “Ngapa, Nduk? Nggon ibumu ya kaya ngene mesthine, dijenengi ben ora ilang. Nanging tetep ilang, ora bali masia tetep ana jenenge.” Kebiasaan ini pertama kali kutemui di rumah Simbah. Semua perangkat dicat warna merah dengan inisial adik ibuku yang bungsu. Awalnya heran, mengapa setiap piring bahkan ceret ada inisial nama. Untuk sendok dan garpu digrafir nama. Ternyata, saking banyak dan rutinnya mengadakan acara dari semakan, berjanjen, yasinan dan tadarusan, perangkat sering tak kembali. Ada saja yang meminta izin untuk dibawa pulang dengan janji besok diantar lagi. Tetap saja benda-benda itu  wassalam

Pada zaman itu, tukang patri dan tukang grafir sangat dibutuhkan. Setiap bulan pasti ada perangkat baru yang harus ditandai. Piring-piring baru yang dibeli dari pasaran pahing, dikumpulkan. Tidak boleh disentuh apalagi digunakan sebelum dinamai. Kupikir hanya di tempat kampung Simbah yang begitu, ternyata ibuku juga. Namaku menjadi identitas perangkat pecah belah. Pernah aku protes dengan tukang grafir karena salah menulis, huruf Y menjadi T, menjadi Tessi! Tukang grafir keliling itu terbahak. Aku yakin dia membayangkan pelawak Srimulat, yang kemayu. Huh! Tapi langsung mungkret melihat ibuku datang dan mengecek benar tidaknya tulisan itu. Yang salah tulis harus digrafir ulang. Hm, rasakan! 

Namaku menjadi identitas perangkat pecah belah. Pernah aku protes dengan tukang grafir karena salah menulis; huruf Y menjadi T, menjadi Tessi! Tukang grafir keliling itu terbahak.

Dulu, grafir sebuah sendok dan garpu dihargai perbiji 25 rupiah. Untuk piring 50 rupiah. Lumayan untuk 100 piring, 100 sendok, dan 100 grapu. Pada masa tahun 1980-an, uang 10.000 rupiah sangat besar jumlahnya. Thiwul sebungkus masih 5 rupiah. Pothil pohung, 5 rupiah. Kalau dilihat dengan kacamata kita sekarang memang murah, tetapi di masa itu sudah harga sewajarnya. Untuk yang ingin lebih hemat, mereka menandai sendiri perangkatnya. Menggunakan cat dan kuas kecil atau besi tajam yang dipanaskan untuk menandai sendok dan garpu. Bentuknya memang tak cantik, tapi setidaknya bertanda. 

Harga perkakas pecah belah pun tidak murah. Berbeda dengan sekarang, bahan menjadi pilihan sesuai harga. Bahkan ada obral sisa eksport karena tak lolos QC. Aku  melihat ke arah meja makan. Ada toples kuno dari kaca tebal, terlihat pantulan cat warna merah inisial nama adik ibuku yang bungsu. Ya, beberapa toples kuno yang tersisa, Ibu menginginkan dua buah saja. Mungkin untuk menyimpan kenangan masa kecilnya, kubayangkan tangan ibu yang mungil meraih kue satru kacang ijo buatan Simbah Buyut. Pasti sungguh lucu ibuku dulu, seperti aku. 

Kami pengurus PKK tingkat RT sudah sampai di rumah baru milik tetangga. Mangkok keramik Vicenza bermotif rumpun bunga warna emas siap menampung bakso. Tanpa sadar, aku melihat belakang mangkok, tak ada nama anaknya di situ. Mungkin ini termasuk yang akan keluar ketika acara khusus saja. Si tetangga tertawa melihat ulahku: “Kaya apa wae nonton bokong mangkok, wis ta lah, ora ana jenengku neng kono, eman-eman keramike.”  Kali ini, aku yang terkekeh disambut ibu-ibu yang lain. Ya, zaman memang sudah berubah. Tak perlu lagi menandai karena jika tiba acara apapun, cukup meminjam pecah belah inventaris milik RT, beres. Memang yang perlu ditandai hanya Tupperware saat ini. 


Yessita Dewi, penulis rajin ngepit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s