Ke Sana, Bersama di Indonesia

Ria Santati

Setiap anak percaya bahwa setiap cerita nyata adanya. Namun, beranjak dewasa cerita mulai ditinggalkan, tak dipercayai lagi. Sebab, tak ada lagi waktu untuk mendengarkan cerita, sudah disibukkan banyak hal. Matthew Orville Grenby dalam Children’s Literature mengatakan bahwa cerita anak selalu dilandasi oleh harapan mempersiapkan seorang anak untuk menjadi manusia dewasa yang baik. Berbagai cara diciptakan untuk membuat anak tertarik. Cerita-cerita yang membawa seorang anak ke dunia luas yang belum pernah didatangi, menyajikan petualangan ke laut, gunung, hutan bahkan luar angkasa, bertemu makhluk-makhluk ajaib, dan sebagainya. Cerita membawa seorang anak ke masa lalu dan masa depan.

Teringat pada bapak yang hingga saya SMP masih meninabobokkan dengan cerita, meski bapak bisa bernyanyi dengan baik. Ceritanya pun itu-itu saja, Naga Panjang yang menjaga anak-anaknya. Bapak bisa berubah-ubah suara tergantung karakter kisah. Kami tak pernah bosan mendengarkannya. Tambahan gerak tubuhnya yang membuat cerita rekaan itu menjadi hidup. Bahkan setelah seumur ini, saya masih mengingat baik cerita dan mimik bapak.

Itulah awalan yang mengantar saya menuju Okky Madasari yang mencipta tokoh gadis kecil bernama Matara (12) dalam novel berjudul Mata di Tanah Melus (2018). Mata yang rindu Mama bercerita tentang kelinci yang berlarian di antara awan. Sebagai penulis, Mama bahkan belum sekalipun bercerita tentang apa yang ditulisnya. Demikian pula, Papa. Sia-sia menanti papa menceritakan tulisan-tulisannya yang dimuat di koran sebagai jurnalis kendati setiap pagi menemaninya sarapan dan mengantarnya ke sekolah.

Mata yang tinggal di ibu kota baru sekali berlibur ke Jawa Timur, rumah tinggal nenek. Pada suatu hari, tiba-tiba diajak Mama pergi dari rumah ke tempat jauh di timur untuk pertama kali. “Berlibur” naik pesawat, tanpa Papa. 

Petualangan Mata dimulai. Belu Atambua adalah tujuannya. Mungkin sangat sedikit di antara kita yang penah ke sana. Membayangkannya pun agak sulit, terutama seperti saya yang sebagian besar hidup di Jawa yang padat, hiruk pikuk. Rumah-rumah kecil dari papan menjadikan Belu terasa sangat berbeda dengan Jakarta. Tanah kosong terbentang, sapi, kambing, dan babi menikmati jalan raya dengan bebasnya. Mereka tak dikurung dalam kandang. Bahkan, mobil harus berhenti, memberi jalan pada mereka yang bagi Mata mereka adalah sapi, kambing, dan babi terbahagia di dunia. 

Secara khusus (kecamatan) Lakmanen menjadi latar cerita suku Melus menjunjung tinggi tradisi dan alam sebagai sumber penghidupan. Udara yang panas tiba-tiba berganti hujan lebat. Bukit tinggi yang memberi pemandangan padang hijau luas di bawah sana, sungai berair jernih tempat Mata, Antok, dan teman-teman bermain air dengan teriakan kegembiraan. Belu punya lembah yang indah, udara dingin, burung bernyanyi tiada henti. Di sini Mata tahu seperti apa suara angin. Di sini pula, Mata tercengang mengetahui Paman Tania (teman barunya di Belu) bisa tahu dengan tepat kapan hujan lebat berhenti hanya dengan melihat ke langit. Tapi, Belu juga bertanah kering tandus di sisi lain, yang rumput pun hidup dengan segan.

Belu punya lembah yang indah, udara dingin, burung bernyanyi tiada henti. Di sini Mata tahu seperti apa suara angin. Di sini pula Mata tercengang mengetahui Paman Tania bisa tahu dengan tepat kapan hujan lebat berhenti hanya dengan melihat langit. Tapi, Belu juga bertanah kering tandus di sisi lain, yang rumput pun hidup dengan segan.

Di Belu, ada Hol Hara Ranu Hitu, 7 lapis reruntuhan. Ini bekas benteng pertahanan. Masih ada 3 meriam tua peninggalan Portugis. Di tempat inilah, Mama terpaksa melakukan upacara buang sial. Ini terjadi karena Reinar, sopir mobil yang disewa Mama dari bandara ke hotel menabrak seekor sapi. Dan sesuai adat setempat, Reinar harus ganti rugi. 20 juta! Mama yang membayar karena Reinarsama sekali tak punya uang sebanyak itu. 

Upacara buang sial menggunakan 3 ekor ayam yang dipimpin seorang kakek. Ia duduk di atas batu pipih, bekas tempat duduk raja di masa lalu. Setelah memanjatkan mantra dan doa dalam bahasa yang asing bagi Mata, kakek mengayunkan pisaunya dengan begitu cepat. Ayam-ayam itu melolong panjang. Lalu, penguasa alam, lewat sang kakek menyampaikan pesannya pada mama.

Belu adalah negeri sejuta misteri yang sangat dihormati masyarakatnya. Tempat di mana kita mengenal Suku Melus, yang oleh beberapa literatur diyakini sebagai manusia Belu pertama. Mereka adalah “Emafatuk   Oan   Ema   Ai   Oan“, manusia  penghuni  batu  dan  kayu. Mereka berpostur kuat,   kekar,   dan   bertubuh   pendek. 

Selain novel ini menunjukkan kampung halaman adalah rumah yang harus dijaga, rumah adalah tempat pulang, di mana sumber energi di dapatkan, persahabatan, pertemanan tanpa sekat menjadi pesan yang jelas ingin disampaikan. Perjumpaan Mata dan Tania, Mata dan Antok adalah perjumpaan dua latar sosial yang bertolak belakang. Ibu kota dan Belu. 

Antok yang bersuku Melus sejak kanak-kanak diajari untuk menghormati Gunung Lakaan sebagai pusaka yang harus dijaga. Kampung dipagari kaktus yang tumbuh rapat agar tak dimasuki musuh. Di tanah Belu, anak-anak selalu mengikuti keluarga ibu. Kaum laki-laki akan melakukan apapun untuk menjaga anak-anak dan perempuan dapat hidup tenang dan aman. Orang Melus meyakini hujan tak turun tanpa alasan. Hujan memberi air, hujan menahan orang jahat menyerang orang Melus. Hujan pula yang menghalangi rencana manusia yang tak dikehendaki penguasa alam. Antok sangat taat pada warisan para orang tua.

Seraya disodorkan nilai-nilai kesetaraan jender, ketulusan, keadilan, Mata di Tanah Melus memperkenalkan kenyataan hidup orang dewasa yang rumit pada anak-anak secara halus dan tak menyesak dada. Bagi anak-anak, suguhan novel seperti ini adalah upaya memutus tuduhan negeri ini terputus dari budaya akibat masih miskin aksara dan miskin ekonomi. 

 Bagi saya, buku ini mencelikkan kenyataan bahwa nun jauh di sana, ada saudara-saudaraku yang tak tahu Jakarta bahkan tak kenal Indonesia kecuali tanah lahirnya seperti orang-orang Lakaan, negeri para Melus. Hanya orang yang punya tekad dan keberanian yang mampu menjaga tanah lahir, ibu pertiwi, dalam bentangan barat hingga timur, seperdelapan keliling bumi ini. 


Ria Santati, Pengajar di SMA Regina Pacis Surakarta dan keranjingan origami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s