Menonton Bahasa Indonesia

Rahma Eka Septiana

EMPAT makhluk berwarna-warni menghibur anak-anak dengan bahasa Indonesia. Nama mereka Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Po. Saat berumur dua tahun, aku dikenalkan bahasa Indonesia oleh orangtuaku lewat acara televisi Teletubbies. Aku senang sekali dengan mereka, sampai roti ulang tahunku yang kedua dan baju yang kupakai bertema Teletubbies. Ketika masuk TK, orangtuaku mengenalkan bahasa Indonesia dari lagu nasional yang sering diputar setiap hari karena aku suka sekali dengan musik. Aku sering menanyakan arti dari lirik lagu-lagu nasional. 

Pada tahun 2005, keluarga kami pindah rumah ke tempat yang lebih dekat dengan sekolah. Meskipun di daerah yang sama, tetap saja aku harus beradaptasi. Di hari-hari pertama aku sempat tidak memiliki teman. Ditambah lagi aku anak tunggal. Dora the Explorer-lah yang menemaniku di pagi hari setelah bangun tidur sampai sebelum berangkat ke sekolah. Kata-kata yang masih aku ingat sampai saat ini: “Swiper jangan mencuri! Swiper jangan mencuri!” Sepulang sekolah, aku hanya di rumah saja dan memutar video lagu-lagu nasional. Terkadang juga bermain ke rumah saudara yang lumayan dekat dari rumah. 

Setelah lulus dari taman kanak-kanak, aku melanjutkan di sekolah dasar. Di sana, aku mendapat teman-teman baru. Ada satu temanku yang berasal dari Medan. Dia paham bahasa Jawa, tetapi belum lancar mengucapkan bahasa Jawa. Setiap hari, dia menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi dengan aku dan teman-teman lainnya. Dari sinilah, pertama kali aku berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa Indonesia, tetapi masih disisipi bahasa Jawa.

Mata pelajaran bahasa Indonesia kelas satu dan dua di SD yaitu belajar membaca teks dengan cara mengeja huruf dan menulis. Ketika naik ke kelas tiga aku masih mengeja. Saat belajar dengan ibu, aku sering dimarahi karena sudah kelas tiga tapi belum lancar membaca. Ibu sering bilang, “Teman-temanmu sudah sampai Jakarta, kamu masih di Blora.” Supaya tidak dimarahi lagi, aku sering belajar membaca di perpustakaan bersama teman sebangkuku. Aku juga meminta bapak untuk membelikan majalah Bobo. Selain membaca buku, aku juga membaca tulisan-tulisan yang ada di televisi seperti Si Bolang, Jalan Sesama, ChalkZone, dan banyak lagi. Akhirnya, nilai ujian nasional untuk bahasa Indonesia menjadi nilai terbaikku.

Saat belajar dengan ibu, aku sering dimarahi karena sudah kelas tiga tapi belum lancar membaca. Ibu sering bilang, “Teman-temanmu sudah sampai Jakarta, kamu masih di Blora.”

Semakin tinggi jenjang sekolah maka semakin bertambah pula kosakata bahasa Indonesia yang aku miliki. Media yang digunakan untuk belajar juga semakin luas, tidak hanya dari mata pelajaran sekolah, buku-buku, dan televisi. Aku mulai mengenal Facebook. Di Facebook, aku berteman dengan teman-teman yang sudah kukenal sampai orang asing. Kemampuan berbahasa Indonesiaku semakin bertambah. Dulu, aku sering mencoba berkenalan dengan orang yang tidak aku kenal menggunakan bahasa Indonesia. Istilah gaulnya “sok kenal sok dekat”. Selain itu, aku juga menonton di Youtube. Aku penggemar berat SMASH pada waktu itu, sehingga aku rajin menonton musik video mereka dan mencatat lirik-lirik lagunya secara manual. 

Memasuki bangku SMA, aku sudah lancar berbahasa Indonesia. Aku juga bermain game sehingga makin membuatku bisa berkenalan dengan orang-orang baru dari berbagai daerah. Tetapi saat kelas dua belas, aku kurang suka pelajaran bahasa Indonesia karena gurunya terlalu galak. Setiap pembelajaran berlangsung, aku sering merasa takut dan kurang menikmati pelajaran Bahasa Indonesia.

Pada awal tahun 2017, UMS mengadakan pendaftaran one day service di sekolah. Aku mendaftar dengan pilihan pertama PGSD dan pilihan kedua PBSI. Sebenarnya, aku ingin melanjutkan kuliah tata boga di Bandung, tetapi menurut ibu itu terlalu jauh dan butuh biaya tidak sedikit. Ibu juga menyarankan aku untuk memilih jurusan di FKIP. Aku diterima di PBSI. Perasaanku saat itu biasa saja karena belum tahu materi-materi di perkuliahan itu seperti apa. Kukira, materi-materi yang aku dapatkan sekadar penggunaan kata baku dan tidak baku. Ternyata aku salah. 

Aku diterima di PBSI. Perasaanku saat itu biasa saja karena belum tahu materi-materi di perkuliahan itu seperti apa. Kukira materi-materi yang aku dapatkan sekadar penggunaan kata baku dan tidak baku. Ternyata aku salah.

Sejak kecil aku tidak pernah belajar bahasa Indonesia setekun pelajaran sekolah lain. Aku hanya belajar melalui tontonan kartun di televisi, lagu-lagu nasional, membaca buku, dan berinteraki dengan orang lain. Aku merasa tanpa mempelajari bahasa Indonesia secara khusus aku bisa berbahasa dengan baik. Semenjak aku masuk perkuliahan di jurusan bahasa Indonesia, ilmu bahasa yang aku rasa cukup ternyata sangat kurang. Aku mendapat ilmu-ilmu baru berkaitan dengan bahasa seperti linguistik, sintaksis, morfologi, dan masih banyak lagi.


Rahma Eka Septiana, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s