Terbaca keluarga Indonesia

Bandung Mawardi

KELUARGA, tema besar pada masa Orde Baru. Soeharto ingin keluarga-keluarga di seantero Indonesia mengamalkan Pancasila. Keluarga wajib mendukung semua impian pembangunan nasional. Pengejaran bertema keluarga sudah dimulai sejak TK melalui dongeng, lagu, dan gambar. Di SD, pengajaran keluarga makin serius. Murid-murid mengenakan celana dan rok warna merah ingat usaha-usaha besar pemerintah dalam membentuk keluarga bahagia, makmur, dan bermutu. Pembentukan melalui pidato, buku pelajaran, lomba, dan lain-lain. Murid-murid diminta membaca buku-buku dan mengikuti petunjuk-petunjuk dari para guru. 

Pada 1973, terbit buku berjudul Keluarga Sejahtera sebagai “bacaan PKK di sekolah dasar.” Di sampul, terbaca jilid 1 mengartikan dipelajari murid-murid kelas 3. Buku terbitan Pustaka Antara laris digunakan di sekolah-sekolah. Keluarga bahagia sudah terlihat sejak di kulit muka buku. Lihatlah keluarga adalah bapak, ibu, dan dua anak (putra dan putri). Mereka diwartakan berpotret di depan rumah. Keluarga Indonesia adalah keluarga bahagia, terlarang miskin, kemproh, bodoh, dan kuno.

Penulis buku mengingatkan: “Pendidikan Kesejahteraan Keluarga merupakan salah satu alat pembangun watak bangsa. Maka pelajaran ini diberikan di sekolah, dimaksudkan antara lain untuk menanamkan, memupuk serta mengembangkan sikap hidup yang baik, cakap, terampil, sopan, gotong royong, rasionil ekonomis, sehat dan sejahtera.” Misi-misi itu baik dan benar. Dua kalimat agak sulit diterapkan di keluarga Mbok Jinah. Keluarga sulit memenuhi segala keinginan pemerintah dalam penciptaan keluarga bermutu. Mbok Jinah ngopeni tujuh anak. Keluarga kelamaan tak sejahtera. Dulu, keluarga-keluarga besar dan miskin di desa-desa seperti kebalikan dari impian rezim Orde Baru dengan pembangunan nasional.

Mbok Jinah sering bercerita akibat mencipta keluarga besar. Para tetangga sering meremehkan kemampuan Mbok Jinah. Dugaan-dugaan mereka adalah kegagalan Mbok Jinah memberi makan untuk anak-anak. Tahun demi tahun, keluarga itu menjadi cerita gara-gara miskin. Mbok Jinah sulit memenuhi ketenetuan-ketentuan keluarga bermutu diajarkan oleh pemerintah. Urusan terpenting adalah memberi makan dan anak-anak bisa sekolah. Janji terpenting Mbok Jinah masa lalu adalah pantang berutang untuk makan. Ia tak ingin berutang agar bisa makan pantas atau enak. Utang mendingan untuk ongkos sekolah anak-anak. Keluarga besar dengan makanan tak bermutu. Mereka sehat-sehat saja, bertumbuh besar. Mbok Jinah gembira bisa membesarkan tujuh anak meski kehilangan saat Bandung Sumedi meninggal di Jakarta. Lulus SMA, ia tak mau melanjutkan kuliah, memilih bekerja saja dengan pesan ingin melu ngongkosi sekolah dua adik: Bandung Purwadi dan Bandung Mawardi. Janji dipenuhi dengan mburuh di Jakarta. Ia meninggal tertimpa tembok rubuh. 

Lulus SMA, ia tak mau melanjutkan kuliah, memilih bekerja saja dengan pesan ingin melu ngongkosi sekolah dua adik: Bandung Purwadi dan Bandung Mawardi. Janji dipenuhi dengan mburuh di Jakarta. Ia meninggal tertimpa tembok rubuh.

Kita kembali ke buku berjudul Keluarga Sejahtera. Di halaman 14, ada gambar dan pesan agar anak-anak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Sarapan diusahakan bergizi. Akibat menimpa bagi anak tak sarapan: “… akan lemas di sekolah. Ia tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik.” Dulu, Mbok Jinah sulit banget mengadakan makanan bergizi. Hal terpenting adalah doa dan kata-kata Mbok Jinah, selalu diulang dengan nada kepastian. Makanan-makanan tak bermutu didoakan bisa menjadi kekuatan bagi anak-anak mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolah. Doa teranggap utama ketimbang mutu makanan. Mbok Jinah susah mematuhi anjuran perintah dalam membentuk keluarga sejahtera.

Pada masa 1970-an, Soeharto ingin Indonesia bahagia. Pelajaran-pelajaran mengenai keluarga di sekolah dimaksudkan menghasilkan keluarga-keluarga bahagia. Kita diminta menjadikan keluarga Soeharto adalah contoh. Keluarga itu bahagia. Sarapan terjamin tanpa perlu mbingungi ketersediaan beras atau lauk. Anak-anak Soeharto sehat. Orang-orang ingin membentuk keluarga seperti keluarga Soeharto biasa disebut “keluarga Cendana”. Pada masa berbeda, anak-anak Soeharto sukses. Lakon keluarga Soeharto tak pernah menjadi acuan bagi Mbok Jinah ngopeni tujuh anak. Mbok Jinah tak bisa membaca dan menulis, tak mengikuti perkembangan sosial, politik, dan kultural melalui berita-berita di radio, koran, atau omongan tetangga. 

Puluhan tahun berlalu, buku-buku mengenai keluarga masih terlalu penting di Indonesia. Pengajaran keluarga masih berlaku di sekolah-sekolah. Tema keluarga tercantum dalam beragam buku, sejak SD sampai SMA. Kita bakal nggumun bila mengetahui ratusan judul buku diadakan rezim Orde Baru dalam membentuk keluarga. Penguasa ingin keluarga-keluarga itu tertib, patuh, sopan, dan lain-lain. Keluarga menjadi soko guru Indonesia tapi dibentuk dengan kebijakan-kebijakan sering memaksa dan mengandung hukuman. Kita kepikiran saja mengumpulkan ratusan atau ribuan buku untuk menilik lagi pengajaran keluarga di Indonesia selama Orde Baru. Kita maklum saja terlambat dan kerepotan mengisahkan keluarga, kalah bersaing dengan para sarjana asing telah menulis buku-buku bertema keluarga di Indonesia. Begitu.  


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s