Beban Makan(an)

Muthia Sayekti

Kita tidak tahu mengapa ibu Adam Smith mengurus anaknya, yang kita tahu ia melakukannya

Katrine Marcal, 2020

SEJAK bulan November 2020, berat badan anakku masih di angka 9 kilogram koma sekian ons. Anakku bukan anak yang susah makan. Aku sendiri masih aktif menyusui. Tapi entah kenapa, rasanya sulit sekali bagiku untuk menaikkan berat badannya untuk bisa mencapai angka 10 kilogram sampai di bulan Januari kemarin, bulan di mana anakku memasuki usia 1 tahun. Aku mencoba untuk tidak merasa khawatir berlebih. Aku memberi afirmasi positif pada diriku bahwa anakku sehat dan tumbuh kembangnya tetap optimal. Ia sehat, meski berat badannya sulit mengalami kenaikan secara signifikan.

Namun afirmasi positifku seperti dikoyak-koyak ketakutan ketika sebuah akun Instagram dokter spesialis anak memaparkan penjelasan tentang BB Faltering, semacam istilah untuk menandai sulitnya menaikkan berat badan anak di usia 1.000 hari pertamanya. Dari paparan dokter tersebut, BB Faltering ini jika sudah terjadi selama 3 bulan, maka harus segera diperiksakan ke dokter spesialis anak. Harus segera ada tindakan dari ahlinya, karena seretnya kenaikan berat badan pada anak jika dibiarkan akan berujung pada stunting.

Sebelum aku benar-benar memutuskan untuk ke dokter anak, aku masih berusaha mencari tahu bagaimana caranya mengejar kenaikan berat badan ini. Aku bertanya ke sesama ibu dan bidan yang rutin memijat anakku sejak lahir. Bu bidan menyarankan untuk menambah porsi protein hewani dan lemak tambahan (seperti minyak, margarin, keju, atau santan). Bahkan untuk cemilan pun jika memungkinkan juga dari protein seperti dimsum, siomay, atau nugget. Selain itu, tambahan susu UHT juga direkomendasikan bila anakku kesulitan mencerna tambahan protein yang ditargetkan.

Akhirnya saran dari bidan tersebut mulai kupraktikan. Aku rutin memasak setiap hari dengan protein hewani. Aku merogoh uang belanja dari suamiku untuk membeli tambahan cemilan berprotein dan mengandung lemak tambahan. Seminggu sekali, aku menyiapkan stok susu UHT untuk anakku di rumah. Semua itu kulakukan demi mengejar target 10 kilogram di timbangan posyandu selanjutnya.

Sayangnya, pengalamanku menyuapi anakku sejak saat itu mulai bergeser. Awalnya aku lebih tenang dan santai ketika memberi suapan demi suapan makanan ke mulut anakku. Semua kulakukan semata-mata agar anakku kenyang dan bisa beraktivitas dengan ceria. Kini, setiap suapan seperti membawa beban juga harapan. Ada “beban uang belanja” protein hewani setiap hari. Juga harapan target kenaikan berat badan agar bisa terpenuhi.

Akibat dari beban dan harapan itu ternyata tak main-main. Ketika anakku menolak makanan yang aku suapkan, aku merasa begitu sedih, marah, dan kecewa. Rasanya aku ingin sekali mengomeli anakku karena ia seperti membuang-buang makanan, rezeki. Bapaknya cari duit sampai tak kenal akhir pekan agar bisa membeli makanan yang layak untuknya, tapi dia seenaknya menolak. Ibunya mencari cara untuk memasak makanan yang enak dan layak, tapi ia semudah itu melepeh dan menutup mulutnya. Seolah makanan itu tidak ada artinya.

Padahal sebelum beban dan harapan itu ada, aku bisa merasa lebih santai menyuapi anakku dengan segala menu yang ada. Kami sering menjadikan tempe goreng dan tahu bacem untuk cemilan, atau bahkan sekadar kerupuk. Bilamana di tengah proses menyuapi ia menolak, aku juga lebih tenang menghadapinya. “Mungkin ia sudah kenyang” atau “coba nanti kukoreksi lagi rasanya,” pikiranku saat itu lebih kendur. Sayangnya, pengalaman menyenangkan itu kini mulai terkikis. 

Aku tidak sepenuhnya menyalahkan paparan informasi dari dokter spesialis anak yang telanjur kubaca. Aku pun tidak merasa saran dari bu bidan merupakan sebuah aturan yang memberatkan. Mereka pakar dan mereka punya otoritas untuk menjelaskan informasi yang valid berdasarkan kepakaran mereka. Kewajiban mereka untuk menyampaikan informasi yang benar. Pun adalah hakku sebagai orang awam untuk tahu informasi tersebut. Sayangnya, pengetahuan mereka yang mendisiplinkanku dalam menyuapi anakku ternyata bisa juga mengikis masa-masa gembira untuk “sekadar menyuapi makanan”. Daging, ayam, ikan, dan lemak tambahan kini di mataku seperti beban. 

Sayangnya, pengetahuan mereka yang mendisiplinkanku dalam menyuapi anakku ternyata bisa juga mengikis masa-masa gembira untuk ‘sekadar menyuapi makanan’. Daging, ayam, ikan dan lemak tambahan kini di mataku seperti beban.

Selama hamil, aku tidak banyak merasa “berat”. Saat itu, aku tidak banyak kehilangan kendali atas diriku. Kupikir setelah anakku lahir, aku akan mengalami kemudahan yang sama. Menyusui, menggendong, menyuapi makanan, kupikir semua itu adalah sekadar perantara kasih sayang yang menyenangkan. Tak kusangka, ternyata dalam menjalani prosesnya, aku harus berhadapan dengan beragam tantangan.

Hingga akhirnya aku mulai mengembalikan ke pemikiran bahwa proses ini kulakukan demi kebaikan anakku. Selama dia memang belum bisa memilih sendiri apa yang terbaik untuknya, maka sudah kewajibanku untuk memberikannya. Mungkin yang perlu kuingat lagi adalah tugasku hanya untuk memberikan. Menyuapinya makanan bernutrisi baik dengan cara yang menyenangkan. Sama sekali tidak dengan cara memaksanya, menjejalinya dengan kesal dan amarah demi memenuhi target yang sebenarnya justru dibuat oleh ibunya.

Pada dasarnya memberi makanan merupakan salah satu wujud dari pemberian kasih sayang. Bukan tukar menukar kepentingan. Kepentingan bahwa anakku harus kenyang, berat badannya harus ideal, dan aku sebagai ibu akan bebas dari label ibu yang gagal.


Muthia Sayekti, ibu yang senang menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s