Bertemu Puisi, Beberapa “Tapi”

Ayu Primadini

SEJAK dulu saya percaya bahwa puisi punya dampak magis, yang meski hanya berisi rangkaian kata singkat tapi mampu mengubah suasana hati dan menggugah akal budi. Saat sedang lelah, sejenak duduk membaca puisi mampu menghilangkan penat sesaat. Saat perasaan sedang tak menentu tapi tak tahu apa sebabnya, membaca puisi mampu membuat kita mengerti apa yang sedang terjadi. Saat sedih menghampiri, puisi bagai datang melakukan validasi emosi.

Itu sebabnya saat anak-anak saya beranjak masuk ke usia akademis, 6 tahun, saya merasa ada satu kewajiban untuk mengenalkan mereka kepada puisi. Dalam bahasa Inggris, ada banyak puisi menarik untuk anak-anak. Sebut saja puisi-puisi Mother Goose yang enak didengar karena rimanya yang pas dan isinya yang lucu. Puisi-puisi Christina Rosetti yang membawa anak-anak dekat dengan alam. Puisi-puisi Robert Louis Stevenson yang mendekatkan anak-anak kepada Tuhan tanpa sikap menggurui yang berlebihan. Tetapi, saya kesulitan menemui puisi-puisi serupa dalam bahasa Indonesia. Bukan tak kurang penyair, banyak sekali penyair besar dengan mahakaryanya yang indah. Namun tak banyak yang mendedikasikan diri menulis puisi untuk anak-anak, meski beberapa dari mereka memiliki karya-karya yang juga menarik untuk dikonsumsi anak-anak. 

Saya pernah bertanya soal puisi pada anak saya yang sudah beranjak remaja dan juga teman-teman seusianya, yang terbiasa dikenalkan dengan berbagai puisi sejak dini. Mereka mengatakan lebih menyukai puisi-puisi berbahasa Inggris karena lebih mudah dimengerti. Mereka mengakui bahwa puisi para sastrawan Indonesia juga sama bagusnya, hanya saja mereka merasa bahwa puisi-puisi itu tidak ditujukan pada mereka, sehingga mereka kesulitan mencernanya. Ini tak menyusutkan semangat mereka membaca puisi-puisi sastrawan Indonesia. “Ya, dibaca aja deh meski nggak terlalu ngerti,” tukas mereka.

Ya, mencari buku puisi berkualitas yang ditujukan bagi anak-anak ini memang pekerjaan rumah bagi kami para orangtua, yang percaya pada magisnya puisi dan merasa wajib mengenalkannya pada anak-anak sejak usia dini. Saat pertama kali mendengar bahwa ada sebuah penerbit yang menerjemahkan puisi-puisi Enid Blyton, yang terkenal dengan karya-karyanya yang selalu berkesan bagi anak-anak, saya seperti mendapat angin segar meski juga agak skeptis. Bukan skeptis terhadap karya Enid, tapi khawatir dengan penerjemahannya yang mungkin tidak akan sebanding dengan kualitas puisi Enid. Jangankan puisi, penerjemahan prosa saja kerap tidak sebaik karya aslinya. Demikian sekelebat pikiran arogan saya, yang selalu senang menilai karya orang tapi tak bisa membuat karya sendiri.

Pertama kali yang saya lakukan bukan membaca karya Enid Blyton berjudul Bisikan Anak-anak, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Liswindio yang diterbitkan Buku Katta, 2021. Tapi, saya mencari dulu buku puisi aslinya yang masih ditulis dalam bahasa Inggris. Saya menemukannya dengan mudah di situs gutenberg.org, dan langsung tenggelam menikmati puisi-puisi tersebut. 

Saya serasa mengenal Enid muda dengan segala keinginannya untuk bicara pada anak-anak dan usahanya untuk membangkitkan imajinasi mereka. Ia seperti mengajak anak-anak bertualang ke sana ke mari dengan rangkaian kalimat demi kalimatnya yang tersusun rapi dan nyaman untuk didengar. Rasanya jadi tak heran kalau dengan menulis puisi-puisi tersebut membuat Enid tergugah menulis prosa-prosanya yang akhirnya mendunia. Puisi-puisinya yang bercerita tentu akan lebih asyik jika dikembangkan dalam bentuk kisah yang panjang, bukan berarti anak-anak tak mampu mencerna puisi, tapi selaku pengarang, menulis prosa akan membuat Enid lebih leluasa dalam bercerita. 

Setelah mencicipi langsung puisi-puisi Enid dalam tuturan aslinya, saya baru beranjak ke versi terjemahan. Memang tak seindah bahasa aslinya, wajar, penerjemahan puisi memang membutuhkan kemampuan menerjemahkan di atas rata-rata, ‘skill dewa’ kalau dalam istilah saya dengan teman-teman yang biasa membicarakan buku-buku terjemahan. Namun dari sisi konten, terjemahan puisi ini mampu mengajak anak-anak untuk berimajinasi ke berbagai tempat, yang bisa menghibur mereka di tengah musim pandemi yang membuat mereka harus diam di rumah, seperti tujuan Enid menyusun puisi-puisi ini.

Saya memang tidak menilainya sendiri, melainkan memberikan buku ini pada anak-anak saya. Mereka mengatakan bahwa puisi-puisi Enid ini cukup seru, walau rasanya masih janggal, tak selancar membaca terjemahan prosa-prosa Enid. Mereka cukup bisa menikmatinya meski tak berlama-lama seperti jika mereka tengah menggandrungi satu buku puisi.

Artinya, meski secara konten dapat mencapai tujuan, saya percaya bahwa tujuan puisi bukan sekadar untuk memahami konten secara intelektual tapi juga untuk merasakan keindahan secara emosional dari alunan kata-katanya. Puisi terjemahan memang bukan solusi terbaik atas kurangnya buku puisi untuk anak-anak hari ini. Tapi, usaha untuk menerjemahkan puisi-puisi berkualitas ini patut diacungi jempol. 

Puisi terjemahan memang bukan solusi terbaik atas kurangnya buku puisi untuk anak-anak hari ini. Tapi, usaha untuk menerjemahkan puisi-puisi berkualitas ini patut diacungi jempol.

Harapan saya, dengan adanya buku puisi terjemahan semacam ini, anak-anak yang terkendala bahasa asing bisa mendapati bahwa para pengarang besar juga membuat puisi-puisi yang didedikasikan untuk mereka. Ini membuat mereka memahami asyiknya tenggelam membaca puisi. Sehingga, puisi bukan lagi sesuatu yang asing bagi anak-anak.

Lampiran:

Puisi berjudul “Kekecewaan”

Suatu hari aku menemukan sesosok peri

Di secangkir teh milikku

Dia hampir tenggelam

Dan sungguh basah terlalu

Aku mengangkatnya dan mengeringkannya

Lalu bertanya akankah dia menetap

“Oh, tidak,” katanya, “Aku tidak bisa.

Dan dia pergi terbang dalam sekejap


Ayu Primadini, Penikmat bacaan anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s