Memori Pengungsi

Christianto Dedy Setyawan

ADA istilah kalau kita tidak akan dapat merasakan apa yang dialami orang lain sebelum kita mengalaminya sendiri. Barangkali tingkat tertinggi dari empati berpijak di situ. Sejak kecil, aku telah terbiasa menyaksikan tayangan Dunia Dalam Berita yang rutin menyapa setiap jam sembilan malam di TVRI. Dari televisi tabung merk Blaupunk, aku pertama kali melihat potret para pengungsi bencana alam. Aku mengidentifikasinya sebagai malapetaka di tempat yang jauh. Siapa sangka musibah melanda desaku sekian tahun kemudian.

Selawas-lawasnya momentumnya, aku tidak dapat melupakan gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan Klaten pada tanggal 27 Mei 2006. Aku masih ingat rangkaian kejadian di hari Sabtu yang naas itu. Pagi itu, aku di rumah berdua dengan bapakku. Ibu sudah berangkat bekerja dan adik turut dibawanya. Entah kenapa, aku yang sebenarnya sudah terbangun saat itu masih enggan bangkit dari kasur. Ketika gempa menggoyang desa, sontak aku melek dan panik. Kulihat tembok kamarku bergoyang. Aku lari berpacu dengan waktu laksana adegan di film Armageddon. Terdengar suara bapak berteriak dari arah luar rumah. Tepat beberapa detik usai aku berada di halaman rumah, terdengar bunyi nyaring penanda nyaris runtuhnya salah satu bagian rumahku. Bapak yang dari tadi di luar rumah untuk menyapu halaman lalu mengajakku beranjak ke lapangan yang ada di barat balai desa. Di sepanjang perjalanan itu kulihat banyak rumah tetanggaku yang sudah ambruk.

Aku lari berpacu dengan waktu laksana adegan di film Armageddon. Terdengar suara bapak terteriak dari arah luar rumah. Tepat beberapa detik usai aku berada di halaman rumah, terdengar bunyi nyaring penanda nyaris runtuhnya salah satu bagian rumahku.

Tiba di jalan selatan desa, banyak warga tumpah ruah di sana. Kepanikan melanda kala warga dari arah utara beramai-ramai lari ke selatan karena ada kabar erupsi Merapi. Celakanya dari arah selatan para warga malah berlarian ke utara gara-gara ada kabar tsunami di Laut Selatan. Akibatnya rombongan warga dari utara dan selatan bertemu di titik tengah jalan dengan muka panik dan aura kebingungan. Aku dan bapak menjadi bagian dari lautan manusia yang benar-benar kacau itu.

Hari-hari berikutnya tidak lagi sama dengan hari-hariku sebelum gempa tiba. Keluargaku menempati barak pengungsian selama sebulan. Aku mengalami bagaimana rasanya dikunjungi teman dari luar Klaten sebagai pengungsi. Aku masih ingat hari saat bertugas piket untuk menjaga pos perbatasan desa guna mencatat arus keluar-masuk kendaraan pengangkut aneka sumbangan dari para donatur. Aku mengalami rasanya menyambut sekian truk pengangkut bantuan yang di dalamnya terdapat banyak kantong berisi pakaian bekas. Aku masih ingat betapa antusiasnya kami yang ada di barak saat memilah pakaian sumbangan dengan mata berbinar. Masih melekat di benak pula betapa senangnya memperoleh bantuan logistik berupa mie instan, biskuit, dan susu. Kami yang tinggal di tenda pengungsian kemudian menjalani hari sebagai satu keluarga. Tidur satu tenda, makan satu tenda. Aktivitas menonton televisi pun dilakukan bersama-sama. Satu tayangan televisi untuk semua pengungsi. Masih terbayang jelas ketika kami menonton laga pembukaan Piala Dunia 2006 di area pengungsian. Gol Philip Lahm ke gawang Kosta Rika disambut rasa suka cita seluruh pengungsi. Pentas sepak bola sejagat ini menjadi semacam hiburan temporer yang sejenak meringankan duka kami.

Tidur satu tenda, makan satu tenda. Aktivitas menonton televisi pun dilakukan bersama-sama. Satu tayangan televisi untuk semua pengungsi. Masih terbayang jelas ketika kami menonton laga pembukaan Piala Dunia 2006 di area pengungsian. Gol Philip Lahm ke gawang Kosta Rika disambut rasa suka cita seluruh pengungsi. Pesta sepak bola sejagat ini menjadi semacam hiburan temporer yang sejenak meringankan duka kami.

Pengalaman sebagai korban gempa bumi menyadarkanku pada beberapa hal. Pertama, soal isu erupsi dan tsunami. Di zaman yang kadar terbaik internet masih berlabel GPRS dan belum merebaknya telepon pintar, berita bohong alias hoaks ternyata telah marak terjadi. Tentu saja hoaks ini bukan ala tindakan Mochtar Lubis yang nge-prank dengan berita mengejutkan di koran Indonesia Raya saat hari “April Mop” 1969. Kepanikan yang dihasilkan dalam persebaran hoaks erupsi dan tsunami itu sungguh mengacaukan pikiran dan merontokkan psikis warga yang belum pulih dari kekagetannya diserang gempa. Seniman Yati Pesek saja sampai menyelamatkan diri dengan mobilnya hingga ke desaku dari rumahnya yang berada di timur Candi Prambanan. Terlepas dari konteksnya apakah hoaks tersebut sengaja diproduksi atau murni tercipta karena ketidaksengajaan, adanya hoaks di tengah bencana memang menyebalkan. Korban bencana alam memiliki hati yang sangat sensitif. Menambahkan ulah yang aneh-aneh pada kami hanya akan menimbulkan kontroversi entah di lingkup global atau lingkup lokal alias rasan-rasan di lokasi pengungsian. Hal ini dapat dilihat dari reaksi Melanie Soebono yang belum lama ini membuka donasi pakaian layak pakai via media sosialnya dan justru mendapati barang kurang layak dalam kiriman sumbangan.

Pengalaman menjadi korban bencana alam membuat emosi kami mudah terpantik ketika melihat ada bantuan bagi para korban yang dikorupsi oleh pihak yang berwenang. Hal serupa terasa kembali saat tindak korupsi dana bantuan sosial (bansos) Covid-19 terkuak. Menjadi korban bencana alam serta wong cilik yang terpapar dampak pandemi seharusnya cukup menggambarkan bahwa ada sekelompok besar masyarakat yang memerlukan uluran tangan negara. Sikap memperkaya diri dari dana bansos rasanya bakal menjadi dosa yang sulit dilupakan. Mengutip ucapannya Nelson Mandela: we forgive but not forgotten.

Pada akhirnya, memori kami sebagai pengungsi mempertebal kepekaan diri terhadap ancaman bencana. Bencana alam adalah force majeure. Kita tidak dapat mengelak mengingat letak Nusantara yang berada di pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Ingatan semasa menjalani hari di barak mendorong masyarakat untuk belajar ilmu mitigasi bencana. Dari sini kami sadar untuk bersepakat dengan apa yang dituliskan Dea Anugrah di sampul bukunya: “hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya”.


Christianto Dedy Setyawan, guru Sejarah SMA Regina Pacis Surakarta  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s