Panjang dan Pendek

Bandung Mawardi

SEKIAN tahun, Mawar berambut gondrong. Ia kadang menggelung rambut. Pada saat ingin hiburan, rambut itu sengaja dibiarkan morat-marit. Rambut panjang sampai bokong. Mawar tampak seram meski sesekali “cantik”. Ingat, Mawar itu lelaki. Sekian tahun, ia tak bertemu gunting. Ia tak perlu mengajukan permintaan saat berada di tukang cukur. Ingat, ia cuma tahu tukang cukur Madura, bukan tempat-tempat mulai ada di kampung-kampung dengan sebutan “barber shop”. Gondrong tak membuat ia menjadi bijak atau bertambah iman dan takwa. Lelah. Urusan rambut kadang membikin lelah.

Pada suatu hari, ia datang ke tukang cukur tak profesional. Ia meminta agar rambut panjang itu dipotong. Si tukang cukur jarang mendapat kunjungan orang itu bingung. Penjelasan pendek diberikan. Rambut panjang lekas dipotong, berjatuhan di lantai. Ia biarkan saja. Ia tak memiliki niat membawa pulang untuk koleksi. Ukuran rambut di kepala tinggal 1 cm. Mawar memiliki rambut pendek setelah magrib. Malam itu ia lupa sedih dan menangis. Biografi bersama rambut panjang selesai tanpa tumpengan dan tepuk tangan. Di rumah, istri dan anak-anak melongo. Mereka mungkin lupa dengan lelaki telah berubah gara-gara kehilangan rambut panjang. Si bocah mengaku sedih melihat bapak tanpa rambut panjang. Ia memang senang memainkan rambut si bapak.

Mawar ikhlas tanpa rambut panjang. Hal penting dipikirkan adalah mencari kopiah atau peci. Ia mulai ingin berkopiah. Penampilan berubah belum tentu menjadikan Mawar saleh. Hari-hari berambut pendek. Bulan demi bulan, ia mulai rajin ke tukang cukur, tetap tak pernah masuk ke “barber shop”. Wabah tak rampung-rampung, Mawar agak mutung. Ia mulai berpikir ngawur: memanjangkan rambut lagi. Hari-hari rambut memanjang dialami bersama keruwetan-keruwetan hidup.

Ia mendapat hiburan kecil saat membaca buku berjudul Sekar Mekar jilid II. Buku pelajaran berbahasa Jawa disusun Reksoprodjo dan kawan-kawan, terbitan Fadjar, 1958. Cerita mengingatkan kebiasaan cukur masa lalu. Cerita bertokoh tukang cukur keliling. Cukur menjadi masalah keluarga.

“Jan, Jan, rambutku kok wis dawa tenan. Mengko jen ana tukang tjukur liwat, undangen, Pom! Janta ben tjukur. Kowe barang pisan.

“Ija, Bu.”

Pama lan Janta linggih ana ngebuk ngadang tukang tjukur.

Ora let suwe ana tukang tjukur liwat, bandjur diundang.

Dua bocah itu dicukur. Hari dengan ritual mengurangi panjang rambut di kepala. Mereka berhak menjawab untuk perkataan si tukan cukur: “Niki plontos napa potong pulkah, gus?” Nah, orang-orang masa lalu sulit memiliki pilihan saat memotong rambut. Pada masa berbeda, orang berada di tukang cukur Madura bakal melihat di dinding: poster orang-orang Tiongkok dengan beragam rambut. Orang boleh asal tunjuk. Mawar pernah bingung melihat poster-poster itu mengingatkan film-film Tiongkok digandrungi bocah dan remaja sering diputar di televisi. Para artis berambut lurus. Rambut mawar tak lurus, berakibat tak pernah menunjuk poster saat bercukur.

Bacaan menghibur, tak terlalu mengejutkan. Sekian hari lalu, Mawar terkejut melihat foto Bait Daun Takjub. Bocah itu berubah! Bait bersama Sabda Embun Bening dan Abad Doa Abjad berada di rumah kakek-nenek. Bapak dan ibu di rumah saja. Nah, sore ada pengiriman foto dari nenek tentang Bait. Bocah itu diajak bercukur kakek. Semula, Bait berambut panjang sering dikucir. Penampilan sering membingungkan orang. Bocah lelaki sering dilihat “cantik” gara-gara rambut panjang. Bait mau-mau saja dicukur. Rambut panjang tak lagi berada di kepala. Bocah tanpa sesalan: mesam-mesem.

Bocah itu diajak bercukur kakek. Semula, Bait berambut panjang sering dikucir. Penampilan sering membingungkan orang. Bocah lelaki sering dilihat “cantik” gara-gara rambut panjang. Bait mau-mau saja dicukur. Rambut panjang tak lagi berada di kepala. Bocah tanpa sesalan: mesam-mesem.

Foto dikirimkan ke ibu menimbulkan jeritan. Wajah si bocah bikin pangling. Oh, Bait! Ibu bertampang sedih. Ibu tak bakal lagi memiliki kebiasaan memegang sisir merapikan rambut Bait dan mengucir. Hari-hari mengucir mulai dirindukan. Kesedihan disampaikan kepada bapak. Lihatlah, Bait tak lagi menggemaskan! Mawar alias si bapak diam saja. Bait terakui lebih tabah kehilangan rambut panjang. Hari-hari dengan rambut pendek, Bait mulai membuktikan ketangguhan dan kenakalan tanpa salah sangka dari orang-orang sering melihat sebagai bocah “cantik”. Kini, Bait tampil sebagai bocah ganteng melebihi bapak tapi belum memiliki cita-cita menjadi bintang film. Begitu.      


Bandung Mawardi, dewan redaksi http://www.suningsih.net, penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019), Dahulu: Mereka dan Puisi (2020), Pengutip(an) (2020),  Terbit dan Telat (2020), Silih Berganti (2021). Keseharian menulis esai, resensi, dan paragraf- paragraf kliping.

Email: bandungmawardi@gmail.com

Telepon 085647121744,

Face Book: Kabut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s