Dulu, Minyak Goreng

Marhamah

DULU, aku sebagai si kecil menyambut bahagia panggilan Emak bila disuruh beli-beli di toko peracangan Bik Su. Apalagi kalau ada daftar pembelian minyak goreng selain kacang, terasi, micin, dan lain-lain. Canting minyak goreng begitu memesonaku menjadi alasan yang membahagiakan. Canting yang terbuat dari besi berbentuk bulat, tertutup bagian bawah, ada pegangan melengkung di bagian bibirnya. Bik Su memegang canting dengan luwesnya. Si canting masuk tenggelam di kaleng minyak goreng dan terdengar suara bluk. Kemudian Bik Su mengangkat canting, dituangnya ke corong yang duduk di mulut botol yang kubawa. 

Emak suka menggoreng tahu dan tempe, yang terasa lezat. Di dapur,  tak banyak yang digoreng pakai minyak goreng. Terong lebih nikmat dimasukkan tungku masak pakai kayu hingga kehitam-hitaman rupanya, sayur direbus, tomat dan lombok diulek mentah ditambah terasi yang sudah dikukus. Semua itu telah mudah membangunkan hasrat makan seketika perut lapar.

Emak jarang sekali membikin tumis-tumisan. Kangkung, kecambah, bayam, genjer, daun ketela, simbukan, luntas direbus, tiris, dan disuguhkan sebagai cocolan sambal.  Dunia dapur Emak berubah ketika minyak goreng  lebih mudah atau sangat mudah didapatkan dalam kemasan macam-macam, berbagai literan. Emak mulai masak serba digoreng. Kini, terwariskan padaku setelah menjadi ibu: biasalah aku masak pakai minyak goreng. 

Perubahan ini tidak terjadi hanya di dunia dapur para ibu. Dulu, aku melihat tukang pijat urat pakai sabun yang disiram air sedikit agar licin untuk mengurut urat-urat. Sekarang tidak pernah lagi aku melihat hal itu. Tukang pijat memijat dengan minyak goreng rendaman bunga kenanga, minyak goreng dengan beberapa tetes minyak kayu putih, atau minyak goreng apa adanya, atau minyak tawon.

Pada suatu hari, Emak punya hajatan, aku melihat ada dua orang asing ikut membantu di dapur. Panggil saja Mak Ti dan Yuk Na. Emak mengatakan bahwa mereka mau membantu masak di rumah orang yang punya hajatan dengan meminta minyak goreng sisa masak-memasak dari hajatan itu. Rasa penasaran mendorongku ngobrol panjang dengan mereka. 

“Kenapa meminta minyak goreng sisa? Kenapa tidak meminta upah uang?” Pertanyaan-pertanyaan ini muncul bergantian di kepalaku. Mak Ti dan Yuk Na sederhana menjelaskan: mereka tidak mau berharap lebih karena orang-orang ada yang berada, ada juga yang tidak punya uang. Mereka tidak minta upah uang, kecuali memang diberi upah. Tapi kalau minyak goreng sisa pasti ada. Itu yang akan mereka gunakan untuk kebutuhan dapur mereka berhari-hari. 

Mak Ti dan Yuk Na sederhana menjelaskan: mereka tidak mau berharap lebih karena orang-orang ada yang berada, ada juga yang tidak punya uang. Mereka tidak minta upah uang, kecuali memang diberi upah.

Mak Ti hidup dari bertani, Yuk Na tidak. Yuk Na melakukan apa saja untuk bertahan hidup dan menghidupi suami dan anak-anaknya. Mendapat upah berupa minyak goreng sisa sangat membahagiakan baginya. Tidak perlu kepalanya pusing memikirkan membeli minyak goreng selama beberapa hari. Yuk Na bekerja mencetak batu bata: dari menimba air sumur, mengangkat sekam, memaculi tanah, menginjak-injak racikan tanah liat-sekam-air, sampai dihasilkan tanah siap dicetak. Seharian, dia akan mencetak batu bata itu hingga ratusan.

Selesai acara hajatan, dua botol besar minyak goreng sisa dibawa pulang. Emak memberi dua kemasan minyak goreng, gula, beras, kue-kue, dan beberapa lembar uang. Semua itu mengubah raut wajah lelah Mak Ti dan Yuk Na. Mereka tampak sumringah! Pada abad XXI, minyak goreng sisa haram digunakan bagi sebagian kita yang modern alias mengerti ilmu kesehatan. Tapi, bagi Mak Ti dan Yuk Na, minyak goreng sisa itu kebahagiaan. 


Marhamah, Ibu dan pendidik, tinggal di Pasuruan, Jawa Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s